Buat Ratih

Hari Minggu, 20/3, saya baru bangun sekitar jam 10 pagi. Terkantuk, dengan malas memainkan scroll Twitter, dan langsung tersadar ketika membaca berita suami seorang teman sudah berpulang. Saya terdiam beberapa detik, menatap twit itu, gelombang kesedihan menghantam.

Ratih itu teman seangkatan saya di KLN. Waktu masih di kantor, kami tidak pernah terlalu dekat. Kadang Ratih datang diantar taksi, agak borjuis waktu itu, saya menatapnya dari jendela seukuran dinding. Kadang dia makan siang sendirian, dan saya mulai agak menyukainya, karena saya juga sering makan sendirian. Kemudian saya lupa bagaimana awalnya, tiba-tiba kami dekat. Ratih tidak seperti kebanyakan perempuan, dia lucu, tidak berisik, tidak rumpi, tidak keberatan melakukan sesuatu sendirian. Dan ternyata kami punya banyak kesamaan.

Ripcu, panggilan saya kepada suami Ratih, sesuai nama di sosmednya. Saya datang ke pernikahan mereka, tetapi belum tahu kalau Ripcu ternyata sudah saya kenal jauh sebelum kenal Ratih. Kami teman YM. Saya ingat kami beberapa kali ngobrol soal musik. Berikutnya, ternyata teman-teman kami sama. Kami banyak ngobrol waktu saya di Jakarta, membicarakan segala sesuatu. Seperti sang istri, Ripcu juga menyenangkan.

Beberapa bulan ini, hubungan kami tidak sedekat dulu, padahal saya sudah di Malang. Terlalu asyik dengan kehidupan yang sekarang, saya bahkan tidak pernah ngajak mereka ketemuan untuk sekadar kopi atau kenalan dengan Desam. Jadi alangkah kagetnya saya, ketika seorang teman memberitahu kondisi kesehatan Ripcu. Saya langsung Whatsapp Ratih, memberitahunya, kalau dia butuh sesuatu atau seseorang, kapanpun itu, just let me know. Dia membalas, ‘makasih, Rena. Nanti kalau aku tiba-tiba whatsapp aneh-aneh jam tiga pagi jangan kaget ya :D’.

Ratih tidak pernah whatsaapp saya jam tiga pagi. Faktanya, dia tidak pernah mengeluh tentang kondisinya waktu itu. Dia tidak pernah drama di sosmed, tidak pernah minta dikasihani. Dia masih rajin update Path, tetapi tak pernah menyinggung apapun soal suaminya. Kadang postingannya menunjukkan dia lelah, tetapi tak lebih dari itu. Padahal, dia punya anak yang masih sangat kecil. Saya tak bisa membayangkan jadi Ratih. Dia kuat sekali, tabah, lebih tegar daripada Rossa.

Hati saya hancur melihat Ratih keluar masjid setelah solat jenazah, Minggu siang. Dia masih tampak tenang, matanya bengkak. Saya peluk dia kencang, berharap dia tahu dia tidak sendirian. “Maafin salahnya ya,” kata Ratih lirih, sedikit sesunggukan di bahu saya.

Sekali lagi, saya mengulangi, “Kalau kamu butuh apapun, please,” yang sekarang nyaris terasa basi. Kami melepaskan pelukan, Ratih sudah tidak menangis. Kami tidak bicara lagi setelah itu, saya mengamatinya sampai prosesi Ripcu berakhir, memikirkan orang-orang yang saya sayangi dan betapa saya menyia-nyiakan mereka yang peduli pada saya.

Sepanjang sisa hari, saya banyak berpikir. Saya tidak menjenguk Ripcu dalam masa perawatan, karena jujur, saya lemah sekali urusan itu. Menyesal? Iya, harusnya saya bisa memberitahu kalau saya menikmati obrolan nggak jelas kami dan berterima kasih dia mau berteman sama saya.

Saya jadi berpikir tentang cara saya mencintai kehidupan. Tentang hal-hal yang belum, padahal ingin sekali, saya lakukan. Tentang orang-orang yang saya sakiti. Tentang teman-teman yang saya sayangi. Karena kalau sudah bicara soal garis akhir hidup, kita bisa apa?

Be aware of your own body. Ketika terasa ada yang salah, segera periksakan. Jangan pernah remehkan sebuah perubahan, sekecil apapun itu. Cobalah hidup lebih sehat, kurangi gula dan garam, makan lebih banyak buah, dan di atas semua teori kesehatan, banyak tertawa dan lebih banyak bersyukur. Sungguh, hidup ini sebenarnya sangat pendek. Apa lagi yang bisa kamu lakukan selain memberitahu I love you kepada lebih banyak orang?

 So long, Ripcu, semoga kita bisa ngobrol lagi di lain waktu.

Ratih, kalau kamu baca tulisan ini, aku cuma mau bilang aku sayang kamu. God will always be with you and Desam. Thank you for being you. I’m wishing you a good, happy life. I love you.

Houtenhaunt Presents: Crimson Eyes Tour 2016

Sigmun sudah masuk di catatan sejak tahu kawan Twitter @AdhitAndroid mengerjakan sound album Crimson Eyes. Sigmun sendiri bukan nama baru, jadi tidak mengherankan kalau dia banyak ditunggu. Ketika Crimson Eyes masuk daftar 20 Album Terbaik 2015 versi Rolling Stone, saya semakin kelimpungan. Sengaja tidak mau dengar album karena ingin tahu live-nya dulu, tak terkira girangnya saat tahu tur Malang dipegang oleh kawan-kawan Houtenhand.

Mengusung alter-ego yang diperkenalkan sebagai Houtenhaunt, hujanderassekali tidak menghalangi menonton gelaran rohani di God Bless Cafe 2 itu (memang ada yang pertama, sungguhan). Malah saya datang agak terlalu pagi, waktu venue masih sepi. Sempat salahtingkah sejenak, akhirnya tampak wajah-wajah familiar, salah satunya menyelipkan sedikit ramuan lengket, dan kini, kegembiraan dimulai oleh Megatruh.

Megatruh ini band kawan, ex teman sekantor. Sebelumnya sudah sering lihat di Houtenhand, tentu saja. Maaf, Kid, menurutku kalian pernah tampil lebih baik daripada semalam. Memulai dengan agak terburu-buru, Megatruh berhasil membawakan Sajak Suara (Homicide) dengan cara mereka sendiri yang layak diapresiasi. Seorang teman menggamit lengan, mengajak sejenak mensyukuri nikmat Yang Maha Kuasa.

“Jangan lama-lama,” bilang saya. “Aku mau nonton TTL.”

TTL ini termasuk salah satu yang saya tunggu. Saya suka sekali TTL! Mau dibilang mathcore, screamo, post-hardcore, apapun itu, terserah. Yang saya tahu, kami satu selera. Dillinger Escape Plan, Every Time I Die, Animals as Leaders, sebut saja. Hampir berlari kembali ke venue, dapat di  lagu kedua, hasil zat substansi tadi memicu reaksi spontan, melipatgandakan kenikmatan khas Take This Life, yang harus terputus ketika Julius menyapa audiens dengan nafas tersengal-sengal. Makin keren aja ini band idola, makin merapat memadat, Sinyo makin atraksi, bikin tersenyum tanpa sadar. Sang vokalis memakai kaos lucu, saya mendekat untuk merayunya, sayang gagal.

Wajah-wajah yang dikenali makin banyak di sana-sini, konsentrasi terpecah sejenak untuk menyapa kanan-kiri. Kawan lain mendekat, kami bertukar camilan alih dimensi. Yang ini harusnya memberi efek agak nanti. Kalau perhitungan sesuai, harusnya pecah saat Sigmun. Bersemangat, saya menunggu Pronks ke atas panggung. Suasana tambah hangat, blower raksasa di belakang sudah tidak memberi kesejukan. Saya mundur dengan heran, tiba-tiba menyadari pria-pria berambut gondrong di depan panggung.

“Ternyata banyak ya, orang gondrong di Malang?” tanya saya dengan bodohnya kepada teman yang menanggapi dengan tawa.

Tidak tahu kenapa, rasanya klasik sekali melihat pria-pria berambut panjang ber-headbanging mengiringi garage rock ala Pronks. Seperti bukan di Malang tahun 2016. Saya tidak pernah terlalu mendengarkan garage rock, dan jujur, Pronks mengingatkan saya pada Lolyta and The Disgusting Trouble, sebuah band yang kini menyerupai mitos monster Lochness. Ada, namun tiada, tetapi nyata. Berjanji dalam hati meluangkan waktu menonton Pronks lagi lain waktu, saya mundur ke meja teman-teman, bercengkrama sejenak sembari merasakan reaksi substansi yang berpendar.

Kaveman berikutnya. Kebetulan, mereka duduk tak jauh dari di sofa kami. Saya sudah sering mendengarkan Soundcloud Kaveman, dan biasanya terpaksa mengakhiri setelah abang atau ibu berkomentar, “Kamu gak punya lagu lain yang bisa didengerin rame-rame?”, jadi sudah punya antisipasi. Mengingat band ini baru solid pada 2015 dan semalam memakai additional drummer (info yang saya dapat bilang, drummer aslinya lagi ujian. Wait. Itu cuma khayalan atau memang terjadi?), saya rasa bisa dimaklumi ketika mereka agak keteteran. Kaveman memberi sajian menyenangkan, sedikit berantakan, tetapi humble.

Perhitungan saya tidak meleset. Paduan beberapa zat yang intinya sama mulai reaktif di dalam darah. Sigmun di list, penampil terakhir. Saya sudah pernah mendengar Sigmun era EP Cerebro, tetapi yang semalam, sungguh di luar dugaan. Rapi! Saya diseret, disayat untuk kemudian dibalur dan ditimang, sebelum dihempas. Begitu terus berulang-ulang. Rasanya seperti petasan yang disulut sumbunya, dibakar perlahan, meledak saat klimaks. Ditingkahi lampu sorot warna merah, biru, hijau, keempat personel Sigmun terlihat seperti pendaran ubur-ubur di dalam laut. Audiens yang melompat, ber-headbanging, ber-crowdsurf, bagi saya tampak bagaikan deburan ombak. Intens!

Sigmun tidak tampil sempurna. Ada kesalahan di sana-sini, namun tidak mengurangi ambience pesta yang suram dan tajam. Mereka tidak banyak berdialog, tapi toh memang kita tidak sedang arisan. Gitarnya gurih, drumnya renyah, dan vokal Haikal, mencengkeram.

Tidak bisa menahan diri, saya sontak berteriak, “Jancok! Bandmu enak, cok!” kepada sekumpulan ubur-ubur di atas panggung. Mereka tidak mendengarnya, tentu saja, tetapi masa bodoh. Yakin, warga Bikini Bottom pun tidak pernah merasakan pengalaman magis seperti saya semalam, sekalipun di sana banyak ubur-ubur. Hari ini saya terbangun dengan kepala berat, masih dihantui acara perdana Houtenhaunt. Mengingat keriaan semalam, saya harus angkat topi untuk kru Houtenhand. Sekali lagi, mereka berhasil. Soal nama terakhir itu, sepertinya akan ada tulisan lagi di lain waktu. Yang jelas, sore ini harus sempat ngopi dulu, karena nanti malam ada gig lagi di Houtenhand. Hihihi.

27/2

Tentang Make Up Perempuan

Belakangan ini di timeline sosmed, terutama Facebook, mondar-mandir banyak sekali artikel tentang make up wanita. Intinya kurang-lebih, mengapa wanita tanpa make up lebih layak diperistri. Tulisan tersebut punya beberapa varian, kalau saya nggak salah, karena saya nggak membaca satu-persatu, tetapi intinya sama. Bagi saya, tulisan semacam ini konyol sekali.

First of all, mau pakai make up atau tidak, who the fuck are you to tell them what to do? Terserah mereka lah, mau pakai make up atau nggak. Kecuali kalo belinya minta uang situ sih. Menurut saya nggak ada hubungannya make up dengan kualitas diri seorang wanita. Sama seperti tidak ada hubungan antara tato dan moral seseorang.

d1d3e3372a86f13dcb0800fff174674b

pic: pinterest.com

Pria selalu senang melihat perempuan cantik kan? Well, tidak semua perempuan terlahir cantik sempurna seperti Pevita Pearce, dan sekalipun sekarang sudah banyak artikel yang melawan propaganda industri bahwa cantik itu putih, langsing dan berambut panjang, tetapi harus diakui memang ada wajah-wajah yang membuat kamu menoleh dua kali. Cantik itu soal selera. Kalau saya bilang Raisa mukanya membosankan, kamu mau apa?

Masalahnya, menurut saya, adalah bahwa perempuan sudah dikompetisikan soal kecantikan sejak dia belum mengerti apa itu cantik. Dalam masa pertumbuhannya, dia jadi terbiasa mendengar “Cantiknya mana?” yang kalau dalam bahasa Jawa istilahnya mungkin ‘ngudang’. Saya punya cerita nih. Saya masih ingat sangat jelas, waktu itu diajak saudara nemenin ke ulangtahun anaknya teman, masih TK kalau nggak salah, di sebuah restoran fast food. Demi makan gratis, saya pun mengiyakan. Lagi duduk diam-diam, pusing melihat begitu banyak anak kecil teriak-teriak, dua orang ibu di sebelah saya mengobrol. Kemudian, Ibu Satu memanggil anak perempuannya.

“Nduk, sini, salim dulu sama Tante,” seru Ibu Satu.

Si Nduk pun bergegas datang, kemudian mencium tangan Ibu Dua yang saat itu duduk bersama anak perempuannya yang sedang mengutak-atik mainan.

“Aduuuh, Nduk, kamu cantik sekaliii!” puji Ibu Dua kemudian. Perlahan, kepala Si Anak Dua menengok memandangi yang disebut ibunya cantik. Ibu Dua menoleh pada anaknya, “Ayo salaman, kenalan dulu sama yang cantik,” katanya.

Bahkan saya bisa melihat keengganan di wajah Anak Dua. Ketika Anak Satu kembali berpaling pada temannya, Anak Dua masih memandangi penampilan Anak Satu, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kejadian ini sudah lama sekali, dan saya tidak bermaksud apa-apa; hanya saja, perempuan sudah dikompetisikan cantik sejak kecil, dan entahlah, bagi saya, manusia suka melihat sesuatu yang indah sudah bawaan sejak lahir.

Maka saya tidak melihat ada sesuatu yang perlu diributkan dari perempuan ber-make up. Toh make up itu bisa dihapus. Menurut saya tidak adil bila perempuan dihakimi dari make up-nya, sama tidak adilnya jika diadili dari kebiasaannya merokok, kesanggupannya minum alkohol, dan menahan sakit saat ditato. Ada perempuan-perempuan yang sama sekali tidak tertarik dengan make up, karena uangnya lebih baik dibuat beli kaos band, misalnya, atau nonton konser. Tidak salah juga kan?

Seumur hidup, saya tidak pernah punya bedak, dan saya memakai Vaseline sebagai pelembap bibir, tetapi saya pun tidak menghakimi mereka yang ber-make up. Saya malah senang melihat perempuan cantik. Kadang pengen bisa cantik gitu, tapi sepertinya effort yang dibutuhkan terlalu banyak dan bikin lelah, jadi sudahlah.

gaga1

Yang jelas, perempuan ber-make up pun layak diperistri. Cuma barangkali yang dimaksud tulisan di Facebook itu pengaruh pergaulan ya? Saya nggak pernah ngerasain sih, jadi nggak bisa komen juga. Cuma, kalau si cewek itu punya duit hasil kerja sendiri, si cowok lebih suka ceweknya beli make up dan tampil cantik saat jalan bareng, atau beli kaos band edisi rare?

Seperti biasa, tulisan saya memang suka nggak jelas dan tanpa solusi. All I wanna say, kalau kamu ga suka pakai make up, yasudah. Kalau kamu suka dandan, yasudah juga. Kalau menurut ajaran agama disarankan perempuan tidak berdandan, ya cari istrinya di pesantren, jangan di kafe, dan ga perlu komentarin yang di kafe. As simple as that, why fuck with other’s life?

when-women-wear-makeup-their-basically-lying-to-us

Selebriti Jangan Benci Haters

pic: @nextshark.com.

Sejak meninggalkan kantor lama, jujur saya sudah tidak mengikuti perkembangan selebriti Indonesia. Memang tidak tertarik sih. Makanya saya agak terlambat tahu ada penggebrekan prostitusi yang kemudian menggelandang dua selebriti wanita berinisial NM dan PR.

Berbagai jejaring sosial hari ini dihebohkan dengan pernyataan NM merupakan akronim dari Nikita Mirzani. Saya memilih hanya satu berita dan langsung mendapatkan puluhan update, sebagian nggak nyambung sama topik. Ada berita yang menuliskan sekarang NM suka memamerkan barang-barang mewah di akun Instagram-nya. Dengan gaya penulisan itu, saya tertarik mengeceknya, karena itu berarti DULU NM tidak begitu.

Hahaha iya, naluri pingin tahu itu masih sering sekali keluar tanpa diduga.

Di akun Instagram NM, baru-baru ini dia memang berpose sambil memamerkan beberapa gepok uang Dollar. Juga ada foto sebuah arloji merah berkerlap-kerlip yang jujur saja, saya ngga ngerti di mana menariknya, tetapi rupanya jam tangan itu bernilai sangat tinggi. Jadi ini yang dibicarakan orang-orang.

Oke, sebelum saya lanjut menulis, barangkali catatan kali ini akan terbaca sangat subyektif. Pada dasarnya, saya tipikal tak suka ikut campur urusan orang lain. Saya tak peduli siapapun mau berbuat apapun selama kami tidak bersinggungan pribadi. Apalagi kalau benar NM terlibat prostitusi, saya tak punya dan tak mau berkomentar. Dengan dua anak yang masih kecil-kecil ditambah gaya hidup berbiaya tidak sedikit, semua orang punya pilihan.

Bukan foto-foto NM yang menggelitik saya, tetapi komentar dari masyarakat luas yang bebas mengakses akun pribadi tersebut. Sungguh menyedihkan membacanya, kata-kata sangat kasar dan menyakitkan dari mereka yang saya yakin, bahkan tidak pernah bertemu muka dengan NM. Saya jadi bertanya-tanya, seperti apa wujud manusia yang rela stalking  hanya untuk menuliskan kata-kata buruk di akun jejaring seseorang?

gty_paparazzi_ll_120202_wmain.jpg

pic: @abcnews.go.com

Yang mengherankan, ada banyak sekali orang seperti itu! Ini baru NM, belum selebriti lain semacam Syahrini yang buat saya sih 11-12 dengan NM, atau… hmmm… ngga jadi deh, saya juga tidak tahu selebriti mana yang lagi ramai dibicarakan. Ya, begitu intinya. Kemudian saya berpikir, apa enaknya jadi selebriti?

Pemikiran ini sudah ada waktu saya duduk di bangku sekolah. Ayah saya adalah seorang publik figur, dan di kota sekecil Malang, hal itu sudah jadi semacam pengetahuan umum. Sekali waktu, beliau berkata pada saya, “Apapun yang kamu lakukan, pikirkan dampaknya ke saya.” Kalimat itu terpatri selalu, membuat saya berpikir dua kali kalau mau bandel, walaupun akhirnya tetap dilakukan. Setidaknya saya  tahu batas.

Sebagai seorang ABG waktu itu, saya sempat berpikir, hidup  bakal lebih senang andaikan beliau bukan ayah saya atau kami tinggal di Jakarta, misalnya. Saya tidak pernah memegang botol bir atau rokok di depan umum, berhati-hati bergaul, terbilang sangat ‘behave’, dibandingkan sekarang :D. Masalahnya, track record ayah saya begitu bersih. Dia tidak main korupsi, menolak suap, hidup sederhana dan straight, tetap seperti itu selama berpuluh tahun.

g1359572044983490913

pic: @weknowmemes.com

Sekarang sih, saya sudah menerima kenyataan nama belakang itu dengan segala resikonya. Sudah bisa tersenyum pada yang menyapa, tidak galak pada yang memperhatikan, meski tetap bengong waktu tahu saya digosipkan menikah dan punya anak oleh orang-orang yang tidak pernah saya temui. Can you believe that? Saya yang bukan siapa-siapa, tidak pernah foto seronok di Instagram, tidak punya skandal apapun, tidak masuk studio rekaman atau syuting kejar tayang saja masih digosipkan. Apa kabar selebriti yang wira-wiri di acara infotainment yang tayang sejak pagi???

Saya jadi berpikir, mungkin memang harus begitu kalau jadi milik masyarakat. Privasi pun milik umum, semua orang merasa berhak menghakimi. Sebutan gaulnya sih hater, si pembenci. Kata Taylor Swift, haters gonna hate, hate, hate. Menurut artikel psikologi, si hater membutuhkan pelampiasan karena sebenarnya dia tidak percaya diri. Ngga tahu benar atau tidak, saya ngga punya hater dan belum pernah jadi salah satunya.

Cuma sebagai personal yang baru menemukan fenomena hater ini, jujur saya heran sekali. Kok bisa ya ada orang yang maki-maki orang yang nggak dia kenal? Itu orang kayaknya nggak punya temen, trus kebanyakan nonton tivi. Kalau punya temen kan mending main sama temennya ya, daripada ikut campur urusan orang lain.

Nah-Ini-Dia-7-Gejala-Kalau-Kamu-Sudah-Butuh-Piknik

pic: @piknikdong.com

Menurut saya, selebriti butuh hater. Apalagi selebriti tanpa talenta atau prestasi, sebaiknya punya banyak hater. Kalau ngga, percuma dong pasang foto seksi :’)). Kalau artis, baru lain cerita, karena artis diambil dari kata dasar ‘art’, berarti punya karya, ada pembuktian, jatuhnya soal selera. Kalau selebriti, ya sah saja tidak ada prestasi, asal ada hater. Jadi jika selebriti bilang ‘I love my haters’, ya sudah seharusnya. Sederhana, semacam hubungan mutualisme. Selebriti senang dapat perhatian, si hater senang bisa memaki, dan saya senang karena John Mayer akhirnya upload selfie terbarunya. Ugh.

Singer John Mayer arrives at the 57th annual Grammy Awards in Los Angeles

pic: @cbsnews.com

Ibu Ga Suka Tato Saya :)

pic: @007tatuaje.com

Sama seperti saat melihat piercing Mel B personel Spice Girls di MTV untuk pertama kalinya, dan kemudian memutuskan melakukan hal yang sama dengan lidah saya sendiri; demikian pula halnya urusan tato. Sejak SMP, saya sudah tahu suatu hari nanti saya bakal bertato.

Agak lupa sih tahun berapa, pokoknya waktu itu sudah kuliah. Ceritanya dulu ada warnet di seberang kampus, satu tongkrongan-lah sama Yoela, tattoo artist pertama saya ini. Suatu hari, kakak saya yang juga kenal Yoela bilang, “Aku mau bikin tato.” dan saya bilang, “Ikut.”

Berangkat dari rumah sih tidak ada pikiran apa-apa. Tetapi setelah tangan Kakak selesai dikerjakan, dia menoleh pada saya, “Kamu mau?”. Tanpa pikir panjang seperti kebanyakan keputusan dalam hidup saya, saya mengangguk penuh semangat. Tidak sakit, dibuatnya masih dengan mesin dinamo. Jadilah sebuah tengkorak meringis di leher belakang.

Sampai sekarang, ada sekitar enam tato tambahan di punggung, pinggang, dan di bawah payudara. Lima di antaranya saya buat saat kerja di Jakarta, karena, well, ibu saya tidak suka saya bertato. Waktu tato pertama ketahuan, Ibu memarahi Kakak. Untuk yang kedua dan selanjutnya, saya memilih sembunyi-sembunyi.

mom_mad_at_son

pic: @geniusinchildren.org

Ya tentu saja, akhirnya Ibu tahu, hahaha. Beberapa bulan sepulang dari Jakarta, saya mulai menunjukkan para tato, pelan-pelan. Reaksi Ibu tidak sefrontal yang pertama, sudah lebih tenang, tetapi tetap tidak menutupi ketidaksukaannya. Dalam masa itu, Kakak malah menambah tiga tato baru, termasuk di leher kanan.

Ibu dan saya, kami sering mengobrol soal tato. Ibu punya banyak komentar dan alasan tentang hobi ini, semacam, “Kenapa sih gambar tengkorak? Kenapa ngga gambar bunga atau kupu-kupu?”, saya jawab dengan, “Mom, please, like I’m gonna do butterflies and roses??” atau, “Kamu ga takut kalau pasangan kamu ga suka kamu tatoan? Nanti disuruh hapus kayak Olla Ramlan loh,” dan saya bilang, “Itu kan tato nama eks suaminya, Ma. Ya suaminya yang sekarang maleslah lihatnya. I’m not gonna do that for sure! Mending gambar wajahnya Mama,” lalu Ibu, sambil cemberut, langsung menyahut, “Gak mau!”.

Pernah, Ibu tiba-tiba berkata, “Aku ga suka kamu tatoan.” yang  sukses membuat saya mati gaya, cuma bisa menyeringai. Beberapa waktu lalu, beliau bercerita sambil lalu soal tanggapan negatif seorang temannya tentang tato. Saya menyadari, itu menjadi beban bagi Ibu, yaitu bagaimana orang-orang yang dikenalnya bereaksi terhadap tato putra-putrinya.  Mungkin beliau tidak tahu bagaimana menjelaskan soal tato itu, karena memang tidak memahami kenapa saya melakukannya.

sorry-mom-tattoo-balm-100ml

inspirasi tato berikutnya. pic by coolshop.com

Untuk dimengerti, saya membuat semua tato benar-benar untuk diri sendiri. Saya tidak perlu menjelaskan siapa saya, maupun makna dan alasan kenapa memilih tato. Tato itu sepenuhnya milik saya, tidak untuk dilihat, dikomentari, dan dikonsumsi orang lain, kecuali saya yang menunjukkannya secara sadar tanpa paksaan. Tapi tentu saja, saya tak bisa menerapkan sikap sama kepada Ibu (karena itu saya memakai baju lebih tertutup saat bepergian dengannya).

Jujur, saya pun baru tahu masih banyak stigma negatif tentang tato. Hari geneee, dua ribu lima belas, brooohhh. Tetapi itu kenyataannya. Terutama orangtua, para ibu khususnya, yang tidak mengenal lingkungan seperti yang saya miliki. Saya tidak menyalahkan mereka, bahwa penghakiman, judging, prejudice memang sebuah penyakit society yang tidak akan hilang, apalagi dalam masyarakat yang kerap menganggap perbedaan sebagai a threat, sebuah ancaman. Masyarakat yang terjebak dalam comfort zone, seolah begitu ketakutan kenyamanannya dicolek sedikit saja.

1960s-two-women-sitting-under-hairdryers-gossiping

pic: @allposter.com

Saya tidak punya solusi apa-apa soal ini. Bagaimanapun, penampilan memang menentukan kesan pertama. Yang bisa saya lakukan cuma terus-menerus memberitahu Ibu, tidak ada yang salah dengan tato. Kalau lagi ngobrol santai, saya bilang, “Liatin tuh, Ma, pejabat negara ga tatoan, tapi korup,” dan beliau sepenuhnya setuju. Setiap ada kesempatan, saya selalu menekankan padanya, tato tidak mengubah siapa saya. Saya tetap putri tercintanya, yang rela mati untuknya.

Tato tidak berhubungan dengan moral dan kepercayaan. Tidak berhubungan dengan  tindak kejahatan. Tidak mengubah karakter, justru bisa memperkuat.

11182229_439487119509662_6752738983351334881_n

Tadi pagi, saya berkata, “Mama tahu kan aku bakal nambah tato lagi?”, Ibu menjawab ringan, “Ya, namanya juga bocah.” dan saya tersenyum. 🙂

Wanita BUKAN Obyek Seksual!

pic: blackandmarriedwithkids.com

Tulisan ini lahir setelah saya membaca artikel di BBC Indonesia berjudul “Bagaimana mengakhiri kekerasan terhadap perempuan?” di linimasa Facebook. Harap dicatat, saya bukan feminis. Saya bukan aktivis pejuang hak wanita, saya juga tidak sepenuhnya setuju kesetaraan gender. Tetapi kalau soal satu ini, saya sangat peduli.

Sejak kecil, saya sering sekali merasa terganggu oleh sikap laki-laki di sekitar saya. Waktu kecil, masih SD, saya pernah pesan rujak manis, dan mendapat jawaban seperti ini: “Tak bikinin tapi sun sek,” dari bapak penjual rujak manis yang notabene langganan keluarga dan kenal orangtua saya. Artinya kurang-lebih, “Aku bikinin (rujaknya), tapi cium pipi dulu.” Dia melakukannya sambil memeluk saya. Refleks, saya teriak, “Emoh!” (artinya “Nggak mau!”) sambil memberontak, lalu lari masuk rumah. Coba tebak? Saya ditegur karena dianggap berlaku tidak sopan pada orang yang lebih tua (orangtua saya tidak melihat kejadian itu).

Kemarahan itu masih ada sampai sekarang, karena SAYA TIDAK SUKA DISENTUH ORANG YANG TIDAK SAYA KENAL dan SAYA TIDAK SUKA DIA BICARA SEPERTI ITU PADA SAYA. Barangkali si bapak sebenarnya tidak bermaksud apa-apa, tetapi SAYA TIDAK SUKA. Titik.

Saya ini seorang pedestrian sejati. Saya suka sekali berjalan kaki sendirian, sambil mendengarkan musik melalui headset. Itu membuat saya tenang, karena memiliki me-times, yang terhitung sangat jarang terjadi. Di dalam hobi yang sudah jadi kebutuhan ini, saya tidak mengerti kenapa, tetapi banyak sekali pria-pria dari berbagai usia yang melontarkan komentar menggoda, mengomentari wajah, bagian tubuh, atau pakaian saya, atau memainkan gas kendaraan atau klakson saat melewati saya. Bahkan beberapa kali saya didekati motor atau mobil, walaupun syukurlah, sejauh ini belum pernah terjadi apa-apa.

998441_1456665691235150_1863727430_n

Lemme tell you. Saya tidak cantik, tidak menawan, dan pakaian sehari-hari saya adalah sepatu sneakers, celana panjang jeans, kaos band kebesaran, dan kemeja flannel atau parka. Saya tidak takut, tetapi merasa TIDAK AMAN berjalan di jalanan, padahal apa saya salah kalau saya suka jalan kaki?

Headset adalah penyelamat saya. Saya memakainya dengan volume tinggi, meski sadar itu tidak baik untuk keselamatan karena saya tidak bisa mendengar klakson kendaraan atau kalau ada apa-apa di belakang saya. Tetapi saya merasa tersakiti jika dijadikan obyek seksual. Saya merasa direndahkan, dipermalukan, terutama karena saya yakin semua pria itu punya setidaknya satu perempuan yang dikasihi. Bagaimana kalau perempuan yang kamu kasihi dikomentari bentuk tubuhnya secara kurang ajar?

earpods_2338862b

sahabat sejati! (pic @telegraph.co.uk)

Tak kalah sedihnya, kalau saya menceritakan perkara ini kepada teman-teman, saya tidak mendapat dukungan. Mereka tidak pernah ikut marah atau tersinggung, justru mengatakan hal semacam, “Kamu sih perginya sendirian,” atau “Ya udah, ya udah, jangan dipikirin, jangan didengerin.”

LAH??????

Di mana letak kesalahan kalau saya pergi sendirian? Bagaimana mungkin saya tidak mendengar ucapan tidak sopan itu? Bagaimana mungkin saya tidak memikirkannya, sementara hal itu sangat menyinggung?

plu-capteam-poster

Teman-teman saya kebanyakan laki-laki. Kerap sekali saya menjadi satu-satunya perempuan di antara mereka, dan saya selalu langsung mengungkapkan ketidaksukaan ketika salah satu dari mereka melakukan pelecehan kepada perempuan, misalnya ketika kami lagi nongkrong.

“Kampungan,” kata saya pada si kawan, tanpa berusaha menyembunyikan kekesalan. “Gimana kalo pacarmu yang digituin, trima?”

Bagi saya, tindakan semacam itu bukan saja menunjukkan rendahnya edukasi, tetapi juga tingkat moral dan intelegensia seorang pria. Jangan kuatir, saya tidak menyamaratakan. Bagaimanapun saya kenal banyak pria yang tidak menggoda sembarang perempuan di jalanan. Beberapa teman saya tidak melakukannya, kakak saya juga tidak.

Tetapi bagaimana pelecehan itu dianggap biasa, itu sangat menyedihkan. Seolah-olah wajar untuk mengomentari lekuk tubuh perempuan, dan perempuan harus menerimanya dalam diam.

ywat20respect20poster

Membaca artikel tentang Shera Riandra ini, saya jadi tersadar satu hal: pria selalu punya pilihan untuk TIDAK melakukan pelecehan. Jawaban yang sama seperti perempuan pun punya pilihan untuk berteriak, memaki, menendang atau meludahi si pelaku.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan kaum pria. Banyak bergaul dengan mereka membuat saya sadar, seks adalah unsur besar dalam pemikiran mereka. Pornografi saat ini begitu mudahnya diakses, dengan dampak psikologis demikian kuat. Plus, memang ada perempuan-perempuan yang suka digoda, bahkan mendapat uang dari transaksi seksual yang otomatis menempatkan perempuan sebagai obyek.

Sekali lagi, semua adalah pilihan. Seperti halnya bahwa tidak semua perempuan senang dijadikan obyek seksual, tidak semua pria juga berpikir demikian. Masalahnya, kamu memilih menghormati atau tidak? Sebaiknya sih, menjadikan perempuan sebagai obyek cukup dalam pikiran sendiri saja, karena jika itu terlontar keluar, bisa sangat menyakiti. Kamu mau pacarmu atau adikmu, atau malah ibumu diperlakukan seperti itu?

The Skints: Bikin Goyang Jempol

pic: stereoboard.com

Kalau kamu pikir dangdut Pantura satu-satunya musik yang bisa membuatmu menggoyangkan jempol kaki diam-diam, coba cari nama The Skints di YouTube.

Saya lupa kapan pertama kali mendengar The Skints, atau diperkenalkan siapa. Yang jelas, saat itu saya masih berkantor di Jakarta, di mana saya terbiasa mendengarkan musik memakai headset lantaran selera musik saya terbilang minoritas. Waktu itu, album Part & Parcel disantap habis, di-replay berulang kali.

the-skints

@theexeterphoenix

Dari Part & Parcel, saya menjelajah ke The Skints EP. Ah, memang sedap sekali. First of all, saya memang suka band Eropa. Bagi saya, mereka punya lebih banyak genre dan instrumen, dibanding benua adidaya yang 10 tahun belakangan ini seragam semua musiknya. Plus, penduduk Jamaika sebagai pemilik asli ska banyak yang bermigrasi ke Inggris, sehingga warisan itu terasa lebih legal di sana.

Secondly… Ayolah! Serius kamu tidak terkesan oleh cara bernyanyi Marcia Richards dalam Ratatat? Iya, dia mendapat bantuan melalui efek dan synth, namun setidaknya dia tidak perlu memperlihatkan payudara dan menggoyangkan pantat di depan kamera. She really can sing. You should appreciate it.

Third, The Skints memainkan racikan reggae, ska, dub di takaran yang pas, masih nyaman didengar di kondisi out-chilling, ditambah  hip-hop yang juga tidak berlebihan. Plus, drummer mereka bisa nyanyi seperti dalam Can’t Take No More. Lagu-lagunya ringan, menyenangkan, bicara soal tragedi sosial nyata, dan entah mengapa, personel The Skints terlihat begitu hangout-able. Sepertinya mereka akan berhenti dan tersenyum padamu saat kamu memanggil di backstage, atau menawarimu rokok – walaupun saya sendiri belum pernah ditawari rokok oleh artis di belakang panggung XD

Begitu mudahnya untuk jatuh cinta kepada Marcia.  Wanita 25 tahun ini bisa memainkan saxophone, flute, gitar dan keyboard. Dia cantik, berpakaian sewajarnya, bahkan terkadang nyanyiannya saja bisa membuatmu merasa relijius. Sayang, kecurigaan saya bahwa dia seorang penyanyi gereja yang suka merokok ganja di saat senggangnya, belum terbukti. Malahan, dia suka membantu temannya seperti Josh Bevan, orang Inggris yang populer di YouTube, memainkan  gitar akustik.

Tahun 2015, The Skints punya FM, yang ternyata dirilis oleh Easy Star Records. Ini menarik, mengingat label New York ini memang banyak merilis reggae dan dub (ingat Easy Star All Stars dengan Dub Side of the Moon-nya yang mengesankan?), dan saya pun tak terkejut mendengar hasilnya. Percobaan pertama saya di This Town, dengan Jamie Kyriakides (drum) di intro, disambung Marcia. Ada delay di sana-sini, lalu Josh Rudge ber-ragamuffin, disambung Tippa Irie, seorang penyanyi, DJ dan MC reggae asal London. Komplit ya?

the-skints

pic: @yorkmix.com

Come to You dengan mudah menjadi salah satu kesukaan. Bagi saya, vokal Marcia selalu terdengar klasik dan manis, dan The Skints bisa melestarikan musik ska sebagaimana mestinya. Sekadar catatan, saya suka sekali tradska dan punya ketertarikan seksual aneh terhadap lagu I’m Still in Love (With You Girl)-nya Alton Ellis. The Skints bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Keahlian itu menempatkan tradska di momen tepat sehingga terasa segar di keseluruhan album.

Fourth, semangat positif The Skints. Saya suka ska lantaran dia selalu bisa membuat saya berdansa, dan berdansa berarti tersenyum. Tersenyum membuat saya positif. “We’ve got to keep our heads screwed on for hope of getting through another day, don’t you worry about tomorrow because tomorrow won’t be worrying about you,” – Tomorrow. Mereka bahkan bisa membuat saya berdansa saat patah hati, alih-alih menangis tersedu-sedu, dengan Broken Hearted (album Part & Parcel), serta ngomel tentang mahalnya biaya hidup dengan cara keren, bukan merengek.

Fifth, the last, tentu saja, karena Josh pernah membalas tweet ucapan ulang tahun saya tahun lalu. Whoop, jangan salah, saya bukan jenis fangirl seperti itu. Faktanya, Josh The Skints adalah satu-satunya yang pernah saya tweet langsung (dan dibalas). Sampah ya? :’))

Josh

padahal ya cuma dibalas gini doang XD

Tuh, jempol kakimu sudah goyang 🙂

Hello, do you chill?

I’ve been writings for years, since I was a kid. It’s just I don’t have enough willing to wrote it all down. A lot of them are wasted, or just stayed in my mind for so long, and now I feel so bad. 😦

In a willing not to regret anything anymore, I made this blog. Not for the first time, of course, but it doesn’t matter. Mostly I write for myself. And as I told you, in the end of the day, I always chill it out.

Chill, it is.

Oh, I have to warn you, if you accidentaly being here because of the Unicorn’s sparks or the whispers of The Holy Spirits, well, you might didn’t like what I posted. I’m verbally rude, and I know not everyone like it. Doesn’t matter, please feel free to walk away because you know, I do the tumblr_m0n1axxyso1qiit6ko1_400