The Immortal Greg Puciato (The Dillinger Escape Plan)

Pic: @bbc.co.uk

Fakta pertama dan terpenting dalam tulisan kali ini: I’m totally a die hard fan of The Dillinger Escape Plan. Cinta pada pendengaran pertama, dimulai dari Miss Machine. Enam album, empat EP, belum pernah mereka mengecewakan saya. Jadi ketika personel TDEP mengumumkan proyek-proyek di luar band, saya selalu menyambut dengan sukacita. Tetapi tidak semua proyek supergrup itu masuk playlist, misalnya Killer Be Killed yang bikin saya, “Gini doang nih?”.

Alkisah, tersebutlah nama Greg Puciato yang didaulat menjadi vokalis band. Perawakannya disebut tinggi, besar dan BEROTOT. Bagian terakhir tadi memang penting, sampai ada artikel yang menulis bagaimana agar ototmu bisa begitu… padat. Tenang, saya bukan jenis fangirl yang mengidolakan penampilan, justru kelakuan Puciato yang bikin makin merapat pada The Dillinger Escape Plan. Come on! Dia memanjat tiang panggung, dia membakar amplifier dan drum, DIA BERLARI DI ATAS KEPALA PENONTON seperti Yesus berjalan di atas air, dia melompat dari ketinggian lima meter lebih, dia bergelantungan dengan kaki di atas dan kepala di bawah, dengan kepala berdarah-darah, SAMBIL TETAP BERNYANYI.

Greg-Puciato.jpg

biasa, biasa,, yang kayak gini aja receeeh // pic: @loudwire.com

Okay, saya tahu Puciato bukan vokalis pertama gemar atraksi di atas panggung. Kita bisa menyebutkan sederet nama lain, paling mudah ya GG Alin. Lalu ada apa dengan Greg Puciato? Well, saya pribadi menghormatinya sebagai sosok cerdas. Kalau dia tidak pintar, tentu seorang Devin Townsend tidak mengajaknya serta dalam sebuah karya avant garde, The Mighty Masturbator, kan? Resume ini masih diperpanjang dengan kolaborasinya bersama Deftones dan Every Time I Die, Suicide Silence, Lamb of God, Archictects, Soulfly, dan sisanya bisa kamu lihat di internet.

Puciato tidak ragu menyatakan pemikiran yang seringkali menjadi kontroversi. Dia menyebut Trivium sebagai sekumpulan anak-anak baik yang mencoba jadi metal. Dia tertawa ketika ada rumor seteru dengan Slipknot dan menjawabnya secara ambigu. Dia berpacaran dengan seorang aktris pornografi. Dia tidak mengonsumsi narkoba maupun steroid, tetapi menikmati magic mushroom. Dia menutup semua akun sosial medianya, karena itu semua mengganggunya. Dia mengangkat bahu dan berkata TDEP tidak pernah latihan di studio; mereka cuma bertemu sekali sebelum berangkat tur. Dia membawa seplastik feses yang diaku adalah miliknya, melemparkannya pada penonton, dan melumurkannya pada DIRINYA SENDIRI (membuat TDEP menjadi salah satu aksi paling diperbincangkan di Reading Festival, Inggris pada 2002).

greg-puciato-middle-finger

He just don’t give a fuck. Nice. // pic: @loudwire.com

Yang paling menarik adalah, Puciato terlihat hanya menjadi dirinya sendiri. Dia jarang membicarakan kehidupan pribadinya, tidak mabuk-mabukan atau tidak menghancurkan kamar hotel, sepertinya karena dia memilih mengeluarkan energi di atas panggung. Dia bahkan tidak berolahraga saat tur karena baginya, show time saja sudah membuat otot-ototnya bekerja keras. Melihat video-video wawancara di YouTube, Puciato terlihat seperti seorang yang mudah diajak bicara, mungkin minum sedikit bir dan melontarkan lelucon bodoh.

Faktanya, majalah MetalSucks menobatkannya menjadi vokalis metal modern nomer satu pada 2013. Pria ini tampil dengan senang hati di video klip Retox berjudul Let’s Not Keep in Touch. Dia dan Ben Weinman sang gitaris, berjalan di frekuensi yang sama, sampai hampir menyebalkan melihat mereka bersebelahan di video wawancara karena pemahaman satu sama lain bagaikan Tuhan Yesus dan Yudas Iskariot. Kemudian, saya menemukan fakta bahwa Puciato gemar mendengarkan musik elektronik. Ya, tentu dia beberapa kali tampil bersama Nine Inch Nails. Tetapi membuat sebuah proyek elektronik?

Namanya The Black Queen, dan ketika menonton klip Maybe We Should, saya hampir tidak bisa bernapas. Selama ini, saya melihat banyak atraksi Puciato, tetapi saya TIDAK PERNAH melihatnya menggoyangkan pinggul. Oh wow. Bareng Steven Alexander (TDEP, Nine Inch Nails) dan Joshua Eustis (Nine Inch Nails, Puscifer, Televon Tel Aviv), Puciato kini memainkan musik eletronik. Album Fever Daydream sudah dirilis, dan The Dillinger Escape Plan sudah memastikan album Dissociation mendatang bakal jadi yang terakhir. Maka tampaknya Puciato akan lebih sibuk goyang pinggul daripada menyemburkan api dari mulut macam naga.

Sebagai vokalis pengganti di TDEP (yang pertama bernama Dimitri Minakakis, suaranya ada di album debut Calculating Infinity), Puciato pun pernah ditanyai, “Bagaimana rasanya berada di bayang-bayang Minakakis?”. Saya lupa membaca atau menonton perbincangan ini di mana, tetapi saya ingat Puciato menjawab, “Aku sudah bersama TDEP selama 10 tahun lebih dan aku sudah melakukan banyak hal bersama mereka. Aku tidak berada di bawah bayang-bayang siapapun.” Excellent, Puciato, just excellent.

Puciato selalu bisa menjawab pertanyaan dengan lugas, bahkan mungkin menjengkelkan karena dia mengatakannya nyaris tanpa berpikir. Diwawancara di Australia pada 2012, dia menyebut ingin bikin mash-up sama Bad Brains. Nah loh. Saya jadi ingin tanya, apa dia juga mendengarkan dub Bad Brains? Sebenarnya sih, banyak sekali yang mau ditanyakan ke Puciato, sayangnya geografis kami jauh banget.

Benjamin Weiman, notabene adalah satu-satunya personel asli TDEP, memberitahu Substream Magazine bahwa lagu Hero of the Soviet Union dari album One of Us is The Killer yang ditulis Puciato, adalah tentang dirinya. Sebaris lirik dari lagu itu berbunyi, “scum of the earth, scum of the ocean”. Hehehehehe.

Saya sih curiganya Puciato ini sejenis alien. Saya selalu percaya David Bowie, Lemmy Kilmister, dan Prince adalah alien, mereka tidak takut mati atau selalu bereinkarnasi, alias abadi. Sepertinya Puciato adalah bagian dari mereka.

Maret – 8 Agustus 2016
ditulis sambil dengar Fever Daydream

Ps. Tulisan sudah dimulai cukup lama, namun tak pernah benar-benar terselesaikan. Setelah mengunggah The Dillinger Escape Plan’s No 1 Fan: Me, saya memutuskan menuntaskan yang satu ini. Tidak mengedit naskah awal, hanya menambahkan beberapa paragraf terakhir.

Advertisements

The Dillinger Escape Plan’s No 1 Fan: Me

Pic: @skullsnbones.com

Saya dibesarkan oleh banyak musik. Secara umum, rock dan metal dengan segala turunannya, thanks to my dad. Kemudian di bangku SMU, menemukan ska. Belajar ska dan segala turunannya, tidak membuat saya kehilangan gairah atas musik yang lebih berisik.

Lupa siapa yang memperkenalkan The Dillinger Escape Plan, kayaknya nemu sendiri deh, kalau nggak salah setelah tergila pada Protest The Hero. Waktu itu dapetnya Miss Machine, baru kemudian mencari album pertama, Calculating Infinity dengan 43% Burnt-nya. Saya jatuh cinta. Saya suka bagaimana mereka membuat saya merasa berenergi dan ingin menendang kepala orang. Saya suka kejutan-kejutan dalam tiap lagu, saya suka cara Greg Puciato (dia mulai nyanyi di TDEP sejak Miss Machine, Calculating Infinity masih bareng vokalis lama, Dimitri Minakakis) berteriak, saya mengagumi otak Benjamin Weiman, gitaris sekaligus motor TDEP (dan satu-satunya personel asli band). Musik mereka bahkan bisa bikin saya turn on. Sungguh! Seperti itu dampak TDEP pada saya.

Dan OH TUHAN, SAYA TEROBSESI DENGAN LIVE SHOW MEREKA. TDEP punya banyak atraksi, termasuk menyemburkan api, berlari di atas kepala penonton, guling-guling menabrak penonton, memanjat soundsystem, melemparkan feses (iya betul, feses yang kotoran manusia) ke penonton, bergelantungan di penyangga panggung dengan kepala di bawah dan bakar drum. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam menonton YouTube, membaca artikel-artikel wawancara, berlama-lama memandangi foto live show di akun Instagram Benjamin Weiman, dan kelelahan akibat histeria setiap melihat nama The Dillinger Escape Plan di manapun.

depp

too much love, I cannot hate you // pic: @skullsnbones.com

Tahun 2015, seorang kawan di Jakarta memberitahu, TDEP bakal main di Bandung Berisik. Saya terlompat, langsung mengecek jadwal TDEP, mengecek saldo tabungan dan mencari seat kereta api di tanggal yang tepat.

TDEP tidak jadi ke Indonesia. Saya patah hati. Sungguh.

Kemudian, beberapa hari lalu, saya mengalami serangan jantung mini. TDEP memutuskan an extended hiatus. Vakumnya itu, menurut Weiman, dikutip dari Noisey, adalah soal waktu yang tepat. “Go out while we’re still on top,” begitu kata Weiman, dan saya tidak punya pilihan lain selain mengiyakan, manggut-manggut dengan sedih di depan laptop.

Sementara Puciato berkomentar, “No big, calamitous thing happened. It’s just a natural part of the trajectory of individuals’ personal lives and goals not lining up with the lifestyle of doing this. Shit happens.” kepada TeamRock.com.

Iya, hal ini memang wajar. Sebenarnya, saya tidak terlalu terkejut. Maksudnya, gimana ya… Kalau dilihat lagi ke belakang, TDEP punya jejak panjang. Mereka sudah 20 tahun loh, kalau setelah dua dekade pingin melakukan hal lain, ya tentu sangat wajar. Tidak ada yang perlu diributkan. Yang keren, dalam durasi tersebut TDEP konsisten dengan musiknya; mereka menyelipkan dreamy jazzy tune di tempat yang tepat, sejajar dengan agresivitas melodi dan tehnik level dewa, kadang melandaikan gerimis manis setelah badai dengan dentingan piano dan vokal bersih Puciato, kadang terhenti begitu saja sampai bikin antiklimaks, kadang memberi double eargasm. AH.

Saya tidak punya album favorit atau lagu favorit. The Dillinger Escape Plan adalah favorit saya. Setulusnya, bersih dari hati, seperti itu saya menggemari TDEP. Buat saya, setiap album adalah istimewa, setiap lagu adalah spesial. Dalam hati, saya juga yakin entah bagaimana, suatu saat TDEP bakal manggung lagi. Puciato pernah bilang, “It’s been the most important thing in my life for the 15 years I’ve been a part of the band,” dan menurut saya, suatu hal yang sepenting itu tidak akan berlalu begitu saja. Ya kan? YA KAN???

Tanggal 14 Oktober mendatang (that will be so close with my birthday!), TDEP bakal ngeluarin album baru, sekaligus jadi yang terakhir, Dissociation. Saya sih nggak punya harapan apa-apa soal Dissociation. Sebenarnya, saya nggak pernah menautkan harap apapun kalau TDEP mau rilis album, sudah kadung percaya banget sama mereka soalnya. Harapan saya sih, bisa nonton live-nya. Itu aja. Susah banget ya? MASA SIH DI INDONESIA TDEP GAK NGETOP?? For godsake.

TDEP masih akan menjalani tur selepas Dissociation. Kelihatannya sih jadwal sudah cukup padat buat Puciato dan Weiman, yang sudah punya proyekan masing-masing, yaitu The Black Queen dan Giraffe Tongue Orchestra. Jadi, sebagai penggemar nomer satu, saya menolak mengucapkan selamat tinggal. You guys will forever stay in my heart.

Ps. Tulisan yang bagus tentang keputusan vakum TDEP bisa dibaca di SINI, dijamin bikin hati tentram.

 8 Agustus 2016
ditulis sambil patah hati
tapi tetap (berusaha) ikhlas

Folk Music Festival 2016, Antiklimaks Membosankan

Tentu saja, saya tidak akan mengklaim diri seorang penggemar musik folk.  Saya menghormati Bob Dylan dan Johnny Cash, saya selalu ikut mendengarkan ketika kawan memutar lagu folk tanpa banyak komentar, intinya sebenarnya bukan tak suka, hanya belum berminat mendalami terlalu jauh, jadi yang saya tahu memang ya rata-rata saja.

Beberapa minggu melihat poster Folk Music Festival 2016, saya belum kepingin nonton.  Tetapi seorang teman hadir sebagai penampil, saya juga selalu suka Float, dan menurut pengalaman, mengingat hobi nonton live show, sesuatu yang namanya festival itu selalu menyenangkan. Banyak panggung, banyak tawa, banyak makanan, banyak kemeriahan, apalagi banyak teman yang pasti datang. Dan kalau benar folk itu seperti yang saya pikirkan selama ini, saya pasti bisa bertahan. Biasanya juga, menemukan penampil-penampil yang baru saya tahu dan menarik perhatian. Senang loh, rasanya, ketika musik menyihir dan kamu bertanya, “Wah. Lagu siapa ini enak bener?” Berbekal ekspektasi itu, saya semangat membeli tiket.

Sebenarnya ingin datang lebih awal, namun kondisinya tidak memungkinkan. Maka jam 5-an sore, saya sempoyongan dari parkiran Lembah Dieng. Harus dicatat, ini pengalaman pertama di Lembah Dieng, dulu SORE main di sana, saya masih di Jakarta; jadi tak ada antisipasi apa-apa. Saya salah. Harusnya jangan terlalu naif percaya kata teman.

Kenyataannya, kami harus menukarkan tiket di loket dengan antrian mengular. Oke, tak masalah. Kemudian kami harus menempuh jalan gelap nan becek, mengitari danau untuk ke gerbang venue, yang juga licin. Pemandangan pertama di kolam renang adalah booth-booth seadanya, dengan tulisan-tulisan seadanya yang tidak menarik perhatian, sementara menengadah ke atas, ke auditorium terbuka yang menjadi panggung, saya langsung khawatir dan kehilangan minat.

Terlalu banyak orang. Venuenya terlalu kecil. Ternyata ekspetasi saya ketinggian. Waduh.

Teman-teman mengajak naik. Grogi, saya mengiyakan. Seketika saya tahu ini adalah kesalahan. Kami tidak bisa bergerak, apalagi menemukan tempat nyaman. FMF dimulai sejak siang memang, tetapi venue sungguh terlalu kecil untuk begitu banyak penonton. Kemudian saya tersadar ini acara skala nasional, ini Folk Music Festival, bukan Malang Folk Festival. Well, no need to turn back. Saya tidak punya pilihan selain menjejalkan pantat di antara pantat-pantat lain, menyeka peluh di dahi dan menatap ke belakang kepala seorang pria yang tak saya kenal, karena panggungnya tak kelihatan.

Kami mendapat sedikit White Shoes and The Couple Company. Terlalu awal untuk memberi komentar, lagipula saya sering sekali nonton mereka di Jakarta. Kemudian ujian mental dimulai. Aurette and The Polska Seeking Carnival rupanya bukan saja gemar nama panjang, durasi lagu mereka juga panjang sekali. Saya tidak tahu persisnya apa yang mereka mainkan, sound-nya tidak begitu mendukung, dan saya tidak bisa melihat apa yang terjadi di panggung. Saya bahkan tidak berminat melakukan search di Google, mencari tahu mereka datang darimana dan apa lagunya yang paling populer. Pokoknya ketika AATPSC selesai, saya bertepuk tangan kencang, hampir bersorak penuh rasa syukur.

Berikutnya, adalah Christabel Annora, yang di saat bersamaan merilis album perdananya, Talking Days dan menjual 50 keping pertama di FMF. Ista sih memang oke, kan teman-teman saya pintar-pintar. Saya tahu albumnya pasti berkualitas, dan ketika Ista, Fani, Kopros dan Timo membawakan Paranoid Android-nya Radiohead di sela setlist, saya merinding. Paragraf manis ini bukan semata karena saya mengenal Ista. Dia memang layak mendapatkan perhatianmu. Kalau belum pernah tahu, coba cari di Spotify, album Talking Days. Penampilannya kemarin manis, bersih, rapi, dengan tim yang solid. Malam itu saya dapat info, 50 keping CD Ista yang dirilis Barongsai Rec ludes dalam sekejap.

Setelah Ista turun panggung, teman-teman yang tadinya nonton bareng menyelinap meninggalkan auditorium yang sekali lagi, memang begitu tak nyaman. Saya tak bergeming. Haus, lapar, ingin buang air, dikalahkan oleh kegelisahan harus menembus keramaian melewati begitu banyak orang. Pengalaman nyaris pingsan waktu nonton Metallica di GBK Jakarta, juga waktu lihat Blur di Senayan, membuat saya memilih duduk di tempat dengan kaki tertekuk dan bersimbah keringat.

Liyana Fizi dan Tigapagi berada di rundown berikut. Tigapagi saya tahu lewat acara pencarian bakat yang disponsori rokok, sedangkan Liyana Fizi, belum pernah dengar kecuali seorang teman yang bilang lagunya enak. Liyana tampil bersama rekannya, dan guyonan di panggung lebih mencuri perhatian daripada penampilan itu sendiri, sesuatu yang saya sayangkan, karena entahlah, menurut saya Liyana tidak tampil maksimal. Rasanya seolah-olah dia kebetulan berada di Indonesia pada tanggal 14 Mei 2016 kemudian seseorang berkata padanya, “Main di acaraku yuk?” dan dijawab Liyana, “Oke.” tetapi tentu saja ilustrasi di atas berdasarkan kebiasaan sehari-hari.

Tigapagi yang belum pernah saya lihat live-nya, ternyata berlalu begitu saja. Meski lumayan tahu lagu-lagunya, tetapi mereka tak mendatangkan kegembiraan di hati yang sudah lelah duluan. Mereka memenuhi setlist pendek ditingkahi hujan gerimis yang bikin dramatis. Panitia di FOH melempar-lemparkan jas hujan gratisan, membuat penonton sibuk sejenak dan menghalangi pandangan ke panggung. Kemudian show time untuk Danilla yang tampil nyaman. Manis, seperti yang saya ingat ketika menonton beberapa show-nya di Jakarta dua tahun silam. Tampaknya dia sudah lebih dimatangkan oleh panggung-panggung yang belakangan memadati jadwal.

Mocca, sesuai ekspektasi, meski sound harus berkejaran di dua lagu pertama. Arina tidak perlu capek, audiens sudah hafal semua lagu mereka dan dengan riang melambai pada sang vokalis yang membalasnya, tak kalah riang. Band Bandung ini pamit di lagu kelima. Cuma lima lagu? Iya, menurut teman-teman acara mulai terlambat, jadi setlist harus dipangkas agar keseluruhan tidak molor terlalu lama dari ketetapan rundown. Sayang ya? Mungkin saja, kalau kamu benar-benar suka mendengarkan lagu-lagu bertempo sama terus-menerus. Saya sih tidak menyayangkan.

Teman yang saya titipi air minum sudah kembali, tanpa membawa apa-apa. “Sudah habis, tutup semua,” katanya, membuat saya melirik jam di ponsel. Serius sudah tak ada pasokan apapun?? Saya menelan ludah, bersyukur habis ini Float yang baru merilis single berjudul Keruh, memuncaki acara. Float adalah alasan saya hadir di sini, jadi tak apa, demi Meng dan Remon, aku akan bertahan. Lagipula, mau ngapain lagi, venue sudah semakin sesak.

Float pasti senang malam itu, karena penonton tak henti ikut bernyanyi. Mereka memberikan penampilan laiknya performer terakhir: keren! Mengusung drum dan perkusi, mereka berhasil mengulaskan senyum di bibir, sesuatu yang terasa mahal malam itu; meski tetap saja, penampilan itu terasa antiklimaks, seolah terlalu diburu waktu. Ketika Float meletakkan instrumen dan lampu panggung dipadamkan, saya berdiri, kelelahan. Perjalanan menuju mobil masih panjang, dan jalannya gelap.

Sembari melangkah, saya bertanya dalam hati, kenapa saya tidak menikmati festival kali ini? Jujur, saya tidak gembira. Dalam perjalanan pulang bersama teman-teman, juga tidak ada obrolan keseruan seperti biasa. Saya bukan penggemar musik folk, dan sekarang saya jadi bertanya, apakah tadi ini festival musik folk sebenarnya? Apakah yang seperti itu yang disebut folk?

Oh, saya masih punya banyak pertanyaan. Kenapa pencahayaan panggung SANGAT BIASA saja? Kenapa jalan setapak ini gelap sekali? Kenapa area food and beverages tidak menarik? Kenapa tidak dipasang lebih banyak lampu? Kenapa penataan panggung seperti itu? Kenapa area penukaran tiket gelap? Kenapa tidak ada lebih banyak panitia berkeliaran yang bisa ditanyai dan memberi petunjuk? Kenapa tidak ada petunjuk arah lebih banyak? Kenapa memilih tempat sekecil ini dan mencetak tiket sebanyak itu? Kenapa festival skala nasional terasa seperti acara teman sendiri? Kenapa tidak ada kemeriahan bila acara ini disebut festival?

Ya, saya kecewa, terutama karena kehilangan citarasa festival. Tetapi teman-teman selalu mengingatkan berpikir positif, jadi di dalam mobil, saya memutuskan, mungkin saya yang terlalu tinggi berharap. Atau mungkin mereka butuh begitu banyak penonton agar terlihat keren di Instagram, karena toh saya tidak hadir di FMF 2014. Tak apa, saya juga tidak mau memastikan diri hadir di FMF 2017.

Malang, 17 Mei 2016
dirasakan dan ditulis dengan jujur dan sadar
tanpa pengaruh zat apapun

Bradley Nowell (Sublime): The Laid Back Man

pic: @mankindprojectjournal.org

Sublime adalah salah satu band kesukaan saya. Saya suka banyak band sebenarnya, tetapi ketika saya melihat gambar ini:

050d0a9e73cec27770266a02ab8ac4535fa115-wm

satu nama yang langsung muncul adalah Bradley Nowell, disusul Janis Joplin, baru beberapa nama lain.

Jika kamu berpikir Sublime semata Santeria, kamu salah. Jujur, itu lagu yang paling jarang saya dengarkan sejak saya nonton sebuah band Top 40 membawakannya 10 tahun lalu. Pula, jika kamu berpikir Sublime adalah band yang personelnya gemar ganja, well, kamu tidak salah. Namun Bradley Nowell, Wilson dan Bud Gaugh tidak cuma menenggelamkan diri di sofa, di antara tumpukan kotak pizza, kaleng bir dan bong.

sublime4

Sublime memenuhi syarat punk dengan maksimal: mereka dikenal sebagai band stoner yang suka bikin chaos di kawasan California Selatan. Gara-gara itu, mereka jadi populer dan jadi kesulitan mendapatkan venue selain pesta barbeque di rumah. Jadi Nowell dan Wilson memilih nama label Skunk Records dan menyatakan Sublime adalah artis label, dengan harapan bisa mendapat kesempatan main di lebih banyak venue yang representatif.

Lantas dengan bantuan seorang teman, Michael Happoldt (yang kelak berperan besar membidani kelahiran Skunk Records – iya, label ini sungguh ada – dan merupakan sosok penting di belakang Sublime serta Long Beach Dub Allstar), Sublime menyelinap ke sekolah musik tempat Michael belajar ~ untuk merekam lagu-lagu yang nantinya masuk di album pertama dalam bentuk rilis kaset. Saya memakai istilah menyelinap, karena pada saat itu memang pihak sekolah tidak tahu-menahu bahwa ada band mamakai studio mereka di tengah malam sampai jam tujuh pagi.

Man, you’ve been punk’d! =’))

Masih memakai cara serupa, album 40oz. To Freedom disiapkan. Bersamaan, Nowell mulai memakai heroin. Tahun 1995, Date Rape diputar di sebuah radio di Los Angeles, seseorang dari MCA Records mendengarnya, dan, boom! Sublime pun dijadwalkan tur keliling Eropa.

Selanjutnya, sudah bisa ditebak. Mudah sekali mencari terusan cerita sukses Sublime, dan saya tidak akan menulis rangkumannya buat kalian.

Saya mendengar Sublime sudah lama sekali. Mereka jadi semacam playlist wajib, dalam kondisi apapun mereka selalu bisa membuat saya merasa lebih baik. Kenapa saya sampai meluangkan waktu menulis tentang Sublime, Bradley Nowell utamanya?

anylou_bradlou_dogcar

the laid back man (pic: @feelnumb)

Karena cerita Sublime terasa begitu dekat dengan hidup saya. Mengamati foto-foto Nowell, Wilson dan Gaugh, mereka seperti orang-orang yang akan kamu temui di pinggir pantai, bersantai minum bir dengan mata merah, tertawa terbahak-bahak, seperti kamu dan aku. Cerita hidup mereka begitu nyata: orangtua yang bercerai, tidak punya uang tapi suka nongkrong, suka pergi ke pesta dan bersenang-senang, lalu nyawa yang terenggut akibat heroin (bukan ganja, ganja tidak pernah membunuh siapapun). Saya mengenal orang-orang yang merupakan korban perceraian, saya mengingat beberapa saat terindah dalam hidup bersama kawan-kawan di pinggir pantai, ada pesta-pesta gila yang takkan terlupa, dan ada waktu di mana saya pergi ke pemakaman teman yang meninggal karena overdosis.

Lebih dari itu semua, Sublime menulis lagu-lagu yang masih tepat untuk hari ini. Mereka kritis soal sosial dan politik, simak saja April 29, 1992 dengan “They said it was for the black man, they said it was for the Mexican, and not for the white man”, juga ada cerita pelecehan seksual di Date Rape. Sama seperti kamu dan aku, Nowell pun merasa sedih dalam Garden Groove.

Nowell berteman cukup dekat dengan Gwen Stefani, frontwoman No Doubt. Beberapa kali berbagi panggung, saya paling suka lagu DJ’s yang di-cover No Doubt dan video live No Doubt featuring Sublime untuk lagu Total Hate. Di sana, Nowell tampil bertelanjang dada. Dia tidak mau repot-repot membentuk badan, perutnya menggantung, kulitnya terbakar matahari, rambut pirangnya pendek, dia menyeringai hampir sepanjang waktu, dan bahkan Lou Dog ikut meramaikan stage.

Setiap kali melihat  Nowell, saya selalu merasa kami teman di kehidupan sebelumnya. He’s just being himself, dan buat saya, itu mahal harganya. Saya bisa merasakan ketulusan, kesedihan, keprihatinan Nowell melalui lagu-lagu yang aransemennya mengajak berdansa. Kalau saya mengadakan pesta di rooftop Houtenhand, I definitely inviting Sublime, that’s for sure!

Sublime at Warp Tour - 1995

Sublime (Photo by Steve Eichner/WireImage) I LOVE YOU, GUYS!!!!!!

Tulisan yang sangat menyentuh tentang personal Bradley Nowell dari Sublime bisa kamu baca di sini.

Oh. MTV Indonesia Berhenti Tayang.

pic: @funnyjunk.com

Kemarin, saya lagi bersantai sambil scrolling linimasa Twitter ketika mata menangkap berita dari Rolling Stones Indonesia bertajuk “MTV Indonesia Resmi Berhenti Beroperasi”. Wah.

Tidak sangat terkejut sih, juga tidak sangat menyayangkan. Sudah lama sekali, mungkin 10 tahun lebih, saya tidak pernah nonton MTV, apalagi MTV Indonesia. VJ MTV yang saya tahu masih Jamie Aditya, Nadya Hutagalung, Sarah Sechan, Alex Abbad… hmm, nonton Cathy Sharon di MTV juga tidak pernah. Saya lebih tahu dia di acara infotainment.

Bagaimanapun MTV selalu menimbulkan sentimentil di hati. Sentimentil kemenangan lantaran saya besar di tahun 90-an, di mana MTV saat itu SUPER KEREN BANGET. Mereka punya program MTV Unplugged, Alternative Nation, Headbanger’s Balls, diikuti kartun-kartun SUPER DUPER KEREN macam Beavis and Butthead dan tentu, kegemaran saya, Daria.

enhanced-buzz-9488-1360770773-2enhanced-buzz-25474-1360770427-4      (in case you didn’t know who Daria is, you can read more about how awesome she is in here)

Saya harus mengakui, judul-judul program yang saya sebutkan benar-benar mempengaruhi tumbuh-kembang (walaupun sampai sekarang tinggi saya masih segini) saat itu. MTV menjadi patokan, karena dia menjalankan fungsi sebagaimana mestinya: memberi informasi. Dia memutar video-video klip yang membuat saya tercengang dan menganga, lalu buru-buru merengek pada ayah agar dibelikan kasetnya, lalu merengek pada ibu agar dibelikan kemeja flannel atau jaket jeans. Dia membuat saya menyimak kata demi kata di sampul kaset, dia memaksa saya belajar bahasa Inggris dengan menghafal lirik hanya agar dapat meneriakkan lagu yang sama di depan TV, sambil loncat-loncat.

Sebagai anak perempuan yang dibesarkan oleh seorang metalhead, MTV membuat saya merasa normal, meskipun teman-teman perempuan saya di sekolah tidak (mau) mengerti siapa Nirvana. Iya, dia sangat membantu saya. Waktu itu, saya bangga nonton MTV.

mtvalt

one of my heroes // pic: vimeo.com

Saya lupa kapan mulai tidak menonton TV. Mungkin ketika saya menyadari lebih banyak yang bisa didapat melalui sambungan internet. Pokoknya, tiba-tiba saja MTV jadi dipenuhi reality show yang membuat saya muak macam Teen Mom, 16 and Pregnant, dan My Super Sweet 16. Iya, saya nonton The Osbournes, tetapi saya tidak menikmatinya, karena rasanya lebih sedap mendengarkan rekaman Black Sabbath. Pencitraan dewa saya Ozzy Osbournes jadi berubah di reality show itu. Yang saya ingat, saya kaget bukan kepalang tahu ada acara remaja-remaja hamil.

Buat saya, ini sih SAMPAH!

Setelah itu, saya bangga tidak nonton MTV.

Usai dikecewakan, lantas saya tak pernah lagi peduli padanya. Jahat ya? Jujur, saya pun tidak mencaritahu penyebab mengapa mereka jadi seperti itu, tetapi buat saya, semuanya pilihan. MTV sudah berubah, dan saya menerimanya tanpa banyak debat. Kini MTV Indonesia memutuskan berhenti beroperasi, dan saya pun takkan merasa kehilangan.

So long, MTV Indonesia. You are a part of MTV, and MTV, you used to be cool, but now you sucks. Thank you for teaching me how to be cool.

Ps. MTV also used to be my guilty pleasure. Saya ingat sekali, nonton klip Spice Girls di MTV, lihat Scary Spice (Mel B) dengan piercing di lidah, saya berpikir, “I’m gonna do the same!”. Waktu itu saya masih SMP. Sampai sekarang saya punya piercing yang sama 😀

tumblr_mh2tjwk1xd1rhf41zo1_500

You rocks, Scary Spice!