The Immortal Greg Puciato (The Dillinger Escape Plan)

Pic: @bbc.co.uk

Fakta pertama dan terpenting dalam tulisan kali ini: I’m totally a die hard fan of The Dillinger Escape Plan. Cinta pada pendengaran pertama, dimulai dari Miss Machine. Enam album, empat EP, belum pernah mereka mengecewakan saya. Jadi ketika personel TDEP mengumumkan proyek-proyek di luar band, saya selalu menyambut dengan sukacita. Tetapi tidak semua proyek supergrup itu masuk playlist, misalnya Killer Be Killed yang bikin saya, “Gini doang nih?”.

Alkisah, tersebutlah nama Greg Puciato yang didaulat menjadi vokalis band. Perawakannya disebut tinggi, besar dan BEROTOT. Bagian terakhir tadi memang penting, sampai ada artikel yang menulis bagaimana agar ototmu bisa begitu… padat. Tenang, saya bukan jenis fangirl yang mengidolakan penampilan, justru kelakuan Puciato yang bikin makin merapat pada The Dillinger Escape Plan. Come on! Dia memanjat tiang panggung, dia membakar amplifier dan drum, DIA BERLARI DI ATAS KEPALA PENONTON seperti Yesus berjalan di atas air, dia melompat dari ketinggian lima meter lebih, dia bergelantungan dengan kaki di atas dan kepala di bawah, dengan kepala berdarah-darah, SAMBIL TETAP BERNYANYI.

Greg-Puciato.jpg

biasa, biasa,, yang kayak gini aja receeeh // pic: @loudwire.com

Okay, saya tahu Puciato bukan vokalis pertama gemar atraksi di atas panggung. Kita bisa menyebutkan sederet nama lain, paling mudah ya GG Alin. Lalu ada apa dengan Greg Puciato? Well, saya pribadi menghormatinya sebagai sosok cerdas. Kalau dia tidak pintar, tentu seorang Devin Townsend tidak mengajaknya serta dalam sebuah karya avant garde, The Mighty Masturbator, kan? Resume ini masih diperpanjang dengan kolaborasinya bersama Deftones dan Every Time I Die, Suicide Silence, Lamb of God, Archictects, Soulfly, dan sisanya bisa kamu lihat di internet.

Puciato tidak ragu menyatakan pemikiran yang seringkali menjadi kontroversi. Dia menyebut Trivium sebagai sekumpulan anak-anak baik yang mencoba jadi metal. Dia tertawa ketika ada rumor seteru dengan Slipknot dan menjawabnya secara ambigu. Dia berpacaran dengan seorang aktris pornografi. Dia tidak mengonsumsi narkoba maupun steroid, tetapi menikmati magic mushroom. Dia menutup semua akun sosial medianya, karena itu semua mengganggunya. Dia mengangkat bahu dan berkata TDEP tidak pernah latihan di studio; mereka cuma bertemu sekali sebelum berangkat tur. Dia membawa seplastik feses yang diaku adalah miliknya, melemparkannya pada penonton, dan melumurkannya pada DIRINYA SENDIRI (membuat TDEP menjadi salah satu aksi paling diperbincangkan di Reading Festival, Inggris pada 2002).

greg-puciato-middle-finger

He just don’t give a fuck. Nice. // pic: @loudwire.com

Yang paling menarik adalah, Puciato terlihat hanya menjadi dirinya sendiri. Dia jarang membicarakan kehidupan pribadinya, tidak mabuk-mabukan atau tidak menghancurkan kamar hotel, sepertinya karena dia memilih mengeluarkan energi di atas panggung. Dia bahkan tidak berolahraga saat tur karena baginya, show time saja sudah membuat otot-ototnya bekerja keras. Melihat video-video wawancara di YouTube, Puciato terlihat seperti seorang yang mudah diajak bicara, mungkin minum sedikit bir dan melontarkan lelucon bodoh.

Faktanya, majalah MetalSucks menobatkannya menjadi vokalis metal modern nomer satu pada 2013. Pria ini tampil dengan senang hati di video klip Retox berjudul Let’s Not Keep in Touch. Dia dan Ben Weinman sang gitaris, berjalan di frekuensi yang sama, sampai hampir menyebalkan melihat mereka bersebelahan di video wawancara karena pemahaman satu sama lain bagaikan Tuhan Yesus dan Yudas Iskariot. Kemudian, saya menemukan fakta bahwa Puciato gemar mendengarkan musik elektronik. Ya, tentu dia beberapa kali tampil bersama Nine Inch Nails. Tetapi membuat sebuah proyek elektronik?

Namanya The Black Queen, dan ketika menonton klip Maybe We Should, saya hampir tidak bisa bernapas. Selama ini, saya melihat banyak atraksi Puciato, tetapi saya TIDAK PERNAH melihatnya menggoyangkan pinggul. Oh wow. Bareng Steven Alexander (TDEP, Nine Inch Nails) dan Joshua Eustis (Nine Inch Nails, Puscifer, Televon Tel Aviv), Puciato kini memainkan musik eletronik. Album Fever Daydream sudah dirilis, dan The Dillinger Escape Plan sudah memastikan album Dissociation mendatang bakal jadi yang terakhir. Maka tampaknya Puciato akan lebih sibuk goyang pinggul daripada menyemburkan api dari mulut macam naga.

Sebagai vokalis pengganti di TDEP (yang pertama bernama Dimitri Minakakis, suaranya ada di album debut Calculating Infinity), Puciato pun pernah ditanyai, “Bagaimana rasanya berada di bayang-bayang Minakakis?”. Saya lupa membaca atau menonton perbincangan ini di mana, tetapi saya ingat Puciato menjawab, “Aku sudah bersama TDEP selama 10 tahun lebih dan aku sudah melakukan banyak hal bersama mereka. Aku tidak berada di bawah bayang-bayang siapapun.” Excellent, Puciato, just excellent.

Puciato selalu bisa menjawab pertanyaan dengan lugas, bahkan mungkin menjengkelkan karena dia mengatakannya nyaris tanpa berpikir. Diwawancara di Australia pada 2012, dia menyebut ingin bikin mash-up sama Bad Brains. Nah loh. Saya jadi ingin tanya, apa dia juga mendengarkan dub Bad Brains? Sebenarnya sih, banyak sekali yang mau ditanyakan ke Puciato, sayangnya geografis kami jauh banget.

Benjamin Weiman, notabene adalah satu-satunya personel asli TDEP, memberitahu Substream Magazine bahwa lagu Hero of the Soviet Union dari album One of Us is The Killer yang ditulis Puciato, adalah tentang dirinya. Sebaris lirik dari lagu itu berbunyi, “scum of the earth, scum of the ocean”. Hehehehehe.

Saya sih curiganya Puciato ini sejenis alien. Saya selalu percaya David Bowie, Lemmy Kilmister, dan Prince adalah alien, mereka tidak takut mati atau selalu bereinkarnasi, alias abadi. Sepertinya Puciato adalah bagian dari mereka.

Maret – 8 Agustus 2016
ditulis sambil dengar Fever Daydream

Ps. Tulisan sudah dimulai cukup lama, namun tak pernah benar-benar terselesaikan. Setelah mengunggah The Dillinger Escape Plan’s No 1 Fan: Me, saya memutuskan menuntaskan yang satu ini. Tidak mengedit naskah awal, hanya menambahkan beberapa paragraf terakhir.

The Dillinger Escape Plan’s No 1 Fan: Me

Pic: @skullsnbones.com

Saya dibesarkan oleh banyak musik. Secara umum, rock dan metal dengan segala turunannya, thanks to my dad. Kemudian di bangku SMU, menemukan ska. Belajar ska dan segala turunannya, tidak membuat saya kehilangan gairah atas musik yang lebih berisik.

Lupa siapa yang memperkenalkan The Dillinger Escape Plan, kayaknya nemu sendiri deh, kalau nggak salah setelah tergila pada Protest The Hero. Waktu itu dapetnya Miss Machine, baru kemudian mencari album pertama, Calculating Infinity dengan 43% Burnt-nya. Saya jatuh cinta. Saya suka bagaimana mereka membuat saya merasa berenergi dan ingin menendang kepala orang. Saya suka kejutan-kejutan dalam tiap lagu, saya suka cara Greg Puciato (dia mulai nyanyi di TDEP sejak Miss Machine, Calculating Infinity masih bareng vokalis lama, Dimitri Minakakis) berteriak, saya mengagumi otak Benjamin Weiman, gitaris sekaligus motor TDEP (dan satu-satunya personel asli band). Musik mereka bahkan bisa bikin saya turn on. Sungguh! Seperti itu dampak TDEP pada saya.

Dan OH TUHAN, SAYA TEROBSESI DENGAN LIVE SHOW MEREKA. TDEP punya banyak atraksi, termasuk menyemburkan api, berlari di atas kepala penonton, guling-guling menabrak penonton, memanjat soundsystem, melemparkan feses (iya betul, feses yang kotoran manusia) ke penonton, bergelantungan di penyangga panggung dengan kepala di bawah dan bakar drum. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam menonton YouTube, membaca artikel-artikel wawancara, berlama-lama memandangi foto live show di akun Instagram Benjamin Weiman, dan kelelahan akibat histeria setiap melihat nama The Dillinger Escape Plan di manapun.

depp

too much love, I cannot hate you // pic: @skullsnbones.com

Tahun 2015, seorang kawan di Jakarta memberitahu, TDEP bakal main di Bandung Berisik. Saya terlompat, langsung mengecek jadwal TDEP, mengecek saldo tabungan dan mencari seat kereta api di tanggal yang tepat.

TDEP tidak jadi ke Indonesia. Saya patah hati. Sungguh.

Kemudian, beberapa hari lalu, saya mengalami serangan jantung mini. TDEP memutuskan an extended hiatus. Vakumnya itu, menurut Weiman, dikutip dari Noisey, adalah soal waktu yang tepat. “Go out while we’re still on top,” begitu kata Weiman, dan saya tidak punya pilihan lain selain mengiyakan, manggut-manggut dengan sedih di depan laptop.

Sementara Puciato berkomentar, “No big, calamitous thing happened. It’s just a natural part of the trajectory of individuals’ personal lives and goals not lining up with the lifestyle of doing this. Shit happens.” kepada TeamRock.com.

Iya, hal ini memang wajar. Sebenarnya, saya tidak terlalu terkejut. Maksudnya, gimana ya… Kalau dilihat lagi ke belakang, TDEP punya jejak panjang. Mereka sudah 20 tahun loh, kalau setelah dua dekade pingin melakukan hal lain, ya tentu sangat wajar. Tidak ada yang perlu diributkan. Yang keren, dalam durasi tersebut TDEP konsisten dengan musiknya; mereka menyelipkan dreamy jazzy tune di tempat yang tepat, sejajar dengan agresivitas melodi dan tehnik level dewa, kadang melandaikan gerimis manis setelah badai dengan dentingan piano dan vokal bersih Puciato, kadang terhenti begitu saja sampai bikin antiklimaks, kadang memberi double eargasm. AH.

Saya tidak punya album favorit atau lagu favorit. The Dillinger Escape Plan adalah favorit saya. Setulusnya, bersih dari hati, seperti itu saya menggemari TDEP. Buat saya, setiap album adalah istimewa, setiap lagu adalah spesial. Dalam hati, saya juga yakin entah bagaimana, suatu saat TDEP bakal manggung lagi. Puciato pernah bilang, “It’s been the most important thing in my life for the 15 years I’ve been a part of the band,” dan menurut saya, suatu hal yang sepenting itu tidak akan berlalu begitu saja. Ya kan? YA KAN???

Tanggal 14 Oktober mendatang (that will be so close with my birthday!), TDEP bakal ngeluarin album baru, sekaligus jadi yang terakhir, Dissociation. Saya sih nggak punya harapan apa-apa soal Dissociation. Sebenarnya, saya nggak pernah menautkan harap apapun kalau TDEP mau rilis album, sudah kadung percaya banget sama mereka soalnya. Harapan saya sih, bisa nonton live-nya. Itu aja. Susah banget ya? MASA SIH DI INDONESIA TDEP GAK NGETOP?? For godsake.

TDEP masih akan menjalani tur selepas Dissociation. Kelihatannya sih jadwal sudah cukup padat buat Puciato dan Weiman, yang sudah punya proyekan masing-masing, yaitu The Black Queen dan Giraffe Tongue Orchestra. Jadi, sebagai penggemar nomer satu, saya menolak mengucapkan selamat tinggal. You guys will forever stay in my heart.

Ps. Tulisan yang bagus tentang keputusan vakum TDEP bisa dibaca di SINI, dijamin bikin hati tentram.

 8 Agustus 2016
ditulis sambil patah hati
tapi tetap (berusaha) ikhlas

Folk Music Festival 2016, Antiklimaks Membosankan

Tentu saja, saya tidak akan mengklaim diri seorang penggemar musik folk.  Saya menghormati Bob Dylan dan Johnny Cash, saya selalu ikut mendengarkan ketika kawan memutar lagu folk tanpa banyak komentar, intinya sebenarnya bukan tak suka, hanya belum berminat mendalami terlalu jauh, jadi yang saya tahu memang ya rata-rata saja.

Beberapa minggu melihat poster Folk Music Festival 2016, saya belum kepingin nonton.  Tetapi seorang teman hadir sebagai penampil, saya juga selalu suka Float, dan menurut pengalaman, mengingat hobi nonton live show, sesuatu yang namanya festival itu selalu menyenangkan. Banyak panggung, banyak tawa, banyak makanan, banyak kemeriahan, apalagi banyak teman yang pasti datang. Dan kalau benar folk itu seperti yang saya pikirkan selama ini, saya pasti bisa bertahan. Biasanya juga, menemukan penampil-penampil yang baru saya tahu dan menarik perhatian. Senang loh, rasanya, ketika musik menyihir dan kamu bertanya, “Wah. Lagu siapa ini enak bener?” Berbekal ekspektasi itu, saya semangat membeli tiket.

Sebenarnya ingin datang lebih awal, namun kondisinya tidak memungkinkan. Maka jam 5-an sore, saya sempoyongan dari parkiran Lembah Dieng. Harus dicatat, ini pengalaman pertama di Lembah Dieng, dulu SORE main di sana, saya masih di Jakarta; jadi tak ada antisipasi apa-apa. Saya salah. Harusnya jangan terlalu naif percaya kata teman.

Kenyataannya, kami harus menukarkan tiket di loket dengan antrian mengular. Oke, tak masalah. Kemudian kami harus menempuh jalan gelap nan becek, mengitari danau untuk ke gerbang venue, yang juga licin. Pemandangan pertama di kolam renang adalah booth-booth seadanya, dengan tulisan-tulisan seadanya yang tidak menarik perhatian, sementara menengadah ke atas, ke auditorium terbuka yang menjadi panggung, saya langsung khawatir dan kehilangan minat.

Terlalu banyak orang. Venuenya terlalu kecil. Ternyata ekspetasi saya ketinggian. Waduh.

Teman-teman mengajak naik. Grogi, saya mengiyakan. Seketika saya tahu ini adalah kesalahan. Kami tidak bisa bergerak, apalagi menemukan tempat nyaman. FMF dimulai sejak siang memang, tetapi venue sungguh terlalu kecil untuk begitu banyak penonton. Kemudian saya tersadar ini acara skala nasional, ini Folk Music Festival, bukan Malang Folk Festival. Well, no need to turn back. Saya tidak punya pilihan selain menjejalkan pantat di antara pantat-pantat lain, menyeka peluh di dahi dan menatap ke belakang kepala seorang pria yang tak saya kenal, karena panggungnya tak kelihatan.

Kami mendapat sedikit White Shoes and The Couple Company. Terlalu awal untuk memberi komentar, lagipula saya sering sekali nonton mereka di Jakarta. Kemudian ujian mental dimulai. Aurette and The Polska Seeking Carnival rupanya bukan saja gemar nama panjang, durasi lagu mereka juga panjang sekali. Saya tidak tahu persisnya apa yang mereka mainkan, sound-nya tidak begitu mendukung, dan saya tidak bisa melihat apa yang terjadi di panggung. Saya bahkan tidak berminat melakukan search di Google, mencari tahu mereka datang darimana dan apa lagunya yang paling populer. Pokoknya ketika AATPSC selesai, saya bertepuk tangan kencang, hampir bersorak penuh rasa syukur.

Berikutnya, adalah Christabel Annora, yang di saat bersamaan merilis album perdananya, Talking Days dan menjual 50 keping pertama di FMF. Ista sih memang oke, kan teman-teman saya pintar-pintar. Saya tahu albumnya pasti berkualitas, dan ketika Ista, Fani, Kopros dan Timo membawakan Paranoid Android-nya Radiohead di sela setlist, saya merinding. Paragraf manis ini bukan semata karena saya mengenal Ista. Dia memang layak mendapatkan perhatianmu. Kalau belum pernah tahu, coba cari di Spotify, album Talking Days. Penampilannya kemarin manis, bersih, rapi, dengan tim yang solid. Malam itu saya dapat info, 50 keping CD Ista yang dirilis Barongsai Rec ludes dalam sekejap.

Setelah Ista turun panggung, teman-teman yang tadinya nonton bareng menyelinap meninggalkan auditorium yang sekali lagi, memang begitu tak nyaman. Saya tak bergeming. Haus, lapar, ingin buang air, dikalahkan oleh kegelisahan harus menembus keramaian melewati begitu banyak orang. Pengalaman nyaris pingsan waktu nonton Metallica di GBK Jakarta, juga waktu lihat Blur di Senayan, membuat saya memilih duduk di tempat dengan kaki tertekuk dan bersimbah keringat.

Liyana Fizi dan Tigapagi berada di rundown berikut. Tigapagi saya tahu lewat acara pencarian bakat yang disponsori rokok, sedangkan Liyana Fizi, belum pernah dengar kecuali seorang teman yang bilang lagunya enak. Liyana tampil bersama rekannya, dan guyonan di panggung lebih mencuri perhatian daripada penampilan itu sendiri, sesuatu yang saya sayangkan, karena entahlah, menurut saya Liyana tidak tampil maksimal. Rasanya seolah-olah dia kebetulan berada di Indonesia pada tanggal 14 Mei 2016 kemudian seseorang berkata padanya, “Main di acaraku yuk?” dan dijawab Liyana, “Oke.” tetapi tentu saja ilustrasi di atas berdasarkan kebiasaan sehari-hari.

Tigapagi yang belum pernah saya lihat live-nya, ternyata berlalu begitu saja. Meski lumayan tahu lagu-lagunya, tetapi mereka tak mendatangkan kegembiraan di hati yang sudah lelah duluan. Mereka memenuhi setlist pendek ditingkahi hujan gerimis yang bikin dramatis. Panitia di FOH melempar-lemparkan jas hujan gratisan, membuat penonton sibuk sejenak dan menghalangi pandangan ke panggung. Kemudian show time untuk Danilla yang tampil nyaman. Manis, seperti yang saya ingat ketika menonton beberapa show-nya di Jakarta dua tahun silam. Tampaknya dia sudah lebih dimatangkan oleh panggung-panggung yang belakangan memadati jadwal.

Mocca, sesuai ekspektasi, meski sound harus berkejaran di dua lagu pertama. Arina tidak perlu capek, audiens sudah hafal semua lagu mereka dan dengan riang melambai pada sang vokalis yang membalasnya, tak kalah riang. Band Bandung ini pamit di lagu kelima. Cuma lima lagu? Iya, menurut teman-teman acara mulai terlambat, jadi setlist harus dipangkas agar keseluruhan tidak molor terlalu lama dari ketetapan rundown. Sayang ya? Mungkin saja, kalau kamu benar-benar suka mendengarkan lagu-lagu bertempo sama terus-menerus. Saya sih tidak menyayangkan.

Teman yang saya titipi air minum sudah kembali, tanpa membawa apa-apa. “Sudah habis, tutup semua,” katanya, membuat saya melirik jam di ponsel. Serius sudah tak ada pasokan apapun?? Saya menelan ludah, bersyukur habis ini Float yang baru merilis single berjudul Keruh, memuncaki acara. Float adalah alasan saya hadir di sini, jadi tak apa, demi Meng dan Remon, aku akan bertahan. Lagipula, mau ngapain lagi, venue sudah semakin sesak.

Float pasti senang malam itu, karena penonton tak henti ikut bernyanyi. Mereka memberikan penampilan laiknya performer terakhir: keren! Mengusung drum dan perkusi, mereka berhasil mengulaskan senyum di bibir, sesuatu yang terasa mahal malam itu; meski tetap saja, penampilan itu terasa antiklimaks, seolah terlalu diburu waktu. Ketika Float meletakkan instrumen dan lampu panggung dipadamkan, saya berdiri, kelelahan. Perjalanan menuju mobil masih panjang, dan jalannya gelap.

Sembari melangkah, saya bertanya dalam hati, kenapa saya tidak menikmati festival kali ini? Jujur, saya tidak gembira. Dalam perjalanan pulang bersama teman-teman, juga tidak ada obrolan keseruan seperti biasa. Saya bukan penggemar musik folk, dan sekarang saya jadi bertanya, apakah tadi ini festival musik folk sebenarnya? Apakah yang seperti itu yang disebut folk?

Oh, saya masih punya banyak pertanyaan. Kenapa pencahayaan panggung SANGAT BIASA saja? Kenapa jalan setapak ini gelap sekali? Kenapa area food and beverages tidak menarik? Kenapa tidak dipasang lebih banyak lampu? Kenapa penataan panggung seperti itu? Kenapa area penukaran tiket gelap? Kenapa tidak ada lebih banyak panitia berkeliaran yang bisa ditanyai dan memberi petunjuk? Kenapa tidak ada petunjuk arah lebih banyak? Kenapa memilih tempat sekecil ini dan mencetak tiket sebanyak itu? Kenapa festival skala nasional terasa seperti acara teman sendiri? Kenapa tidak ada kemeriahan bila acara ini disebut festival?

Ya, saya kecewa, terutama karena kehilangan citarasa festival. Tetapi teman-teman selalu mengingatkan berpikir positif, jadi di dalam mobil, saya memutuskan, mungkin saya yang terlalu tinggi berharap. Atau mungkin mereka butuh begitu banyak penonton agar terlihat keren di Instagram, karena toh saya tidak hadir di FMF 2014. Tak apa, saya juga tidak mau memastikan diri hadir di FMF 2017.

Malang, 17 Mei 2016
dirasakan dan ditulis dengan jujur dan sadar
tanpa pengaruh zat apapun

Extremely Spiritual Experience – Gara-Gara Mushroom

Long story short, saya bukan pemain baru di dunia perjamuran. Secara umum, saya mengkonsumsi sebatas rekreasi, bukan sebuah keharusan atau kewajiban dalam keseharian. Tidak ada jadwal tertentu, cuma kalau pingin saja.

Itu juga yang terjadi di malam itu. That night. Saya duduk di depan laptop, memutar lagu-lagu dub dan tiba-tiba teringat, saya punya sisa mushroom. Bukan barang baru, mungkin usianya sudah hampir dua atau tiga bulan. Tetapi saya menyimpannya di tempat tertutup, rapi seperti biasa. Mendengarkan musik dub dan mushroom terdengar begitu tepat, jadi selepas jam 12 malam, saya langsung menyantap sisa yang berminyak dan tidak banyak itu. Tidak sampai 30 menit, cahaya mulai berpendar, jadi saya putuskan berbaring saja.

Saya menikmati perjalanan yang sangat menyenangkan, mendengarkan musik sambil melihat pijaran-pijaran warna ungu terang dan hijau stabilo. Pijaran itu menari mengikuti irama. Saya ingat saya senyum-senyum sendiri, karena perjalanan ini persis seperti yang saya inginkan. Kemudian saya mulai tidak bisa fokus melihat layar ponsel, jadi saya taruh gadget dan memejamkan mata dengan headset di telinga, bas berdentum kencang di telinga.

Saya tidak bisa memastikan sekitar jam berapa tepatnya. Yang jelas, kakak saya lagi di kamarnya, televisi menyala, ayah rebahan di sofa depan televisi. Posisi saya, berbaring di kasur busa berlapis dua kain Bali tipis, lengkap dengan bantal dan guling, di belakang sofa ayah. Jadi seharusnya, saya bisa melihat gambar televisi dan mendengar suaranya.

Kemudian, tiba-tiba hal itu terjadi. Rasanya seperti terperosok, bukan ditarik. Terperosok ke dalam lautan, seperti tenggelam, ketika tiba-tiba kamu tidak bisa mendengar suara apapun. Kalau kamu pernah tenggelam, kamu akan mengerti maksud saya. Rasanya seperti berada di gelembung yang sangat besar, penuh berisi air, gelembung yang tidak bisa dilihat orang lain. Saya tahu ini terdengar aneh, karena ayah saya cuma berjarak beberapa meter, namun saat itu kondisi lampu dimatikan, penerangan hanya dari televisi, dan saya selalu banyak bergerak di malam hari, sehingga mungkin ayah tidak menaruh perhatian. Mungkin dia sudah tidur. Saya tidak tahu.

Sepertinya waktu itu tiba-tiba saya melepas headset, melemparkannya begitu saja. Saya tidak begitu yakin, namun sepertinya saya memberontak. Pendengaran mendadak buram, tetapi saya masih bisa melihat, kecuali entah mengapa, saya tidak membuka mata kecuali saat memaksakan diri. Saya panik. Saya tidak bisa menarik napas. Itu sangat mengerikan, ketika kamu tahu kamu membutuhkan oksigen tetapi tidak bisa memerintahkan otakmu untuk melakukannya. Saya menggeliat-geliut, menendang, memukul, melemparkan kepala, karena sepanjang sejarah mengkonsumsi mushroom, belum pernah, BELUM PERNAH saya mengalami hal seperti ini.

Saya ingat memaksakan diri kembali ke bumi (karena saat itu saya yakin saya tidak berada di dunia), memaksa membuka mata, menatap televisi yang nanar, posisi di kepala saya di lantai, tubuh masih di atas kasur busa. Saya berkeringat, benar-benar berkeringat, basah-kuyup, guling terlempar ke bawah, semuanya berantakan. Hampir di saat bersamaan, saya kembali terperosok. Bukan, kali ini bukan terperosok, lebih menyerupai ditarik. Tarikan yang sangat lembut namun begitu kuat. Dan saya kembali tidak bisa bernapas.

Kepanikan yang sama melanda, dan saya kembali memberontak. Kecuali bahwa yang ini rasanya berbeda, karena tiba-tiba saya merasa tenang. Saya masih tak bisa membuka mata, tetapi saya merasa sangat tenang. Gambaran paling jelas yang bisa saya berikan adalah makhluk laut yang hidup di kedalaman tak terjangkau manusia, di mana sekelilingnya begitu gelap, tetapi si makhluk laut berenang dengan tenang, tanpa mengkhawatirkan apapun.

Lalu saya mulai menangis. Itu terjadi begitu saja, di luar kendali. Saya menangis sampai dada sesak, kepala serasa meledak. Yang harus dicatat adalah, saat itu, saya tidak sedang menyimpan masalah. Tentu saja, saya punya masalah, ada beberapa penyesalan juga, namun sekali lagi, saya mengkonsumsi mushroom semata karena ingin, tidak kurang dan tidak lebih. Namun tangis saya malam itu adalah tangis terseru sejak sepuluh tahun lalu mungkin, ketika saya memergoki mantan selingkuh. Belum pernah saya menangis seperti itu.

Dan tiba-tiba saya menyebut nama Tuhan. Tiba-tiba semuanya terlontar, ketika saya bertanya, “Tuhan, kenapa?” Dalam hati, saya tersentak menyadari, itu pertanyaan saya tiap hari pada-Nya.

Saya bukan perempuan religius. Saya meyakini keberadaan Tuhan, tetapi saya tidak berdoa setiap hari. Saya ke gereja setiap hari Minggu, kemudian pulang  ke HoutenHand dan kembali menenggak alkohol. Saya sering memaki, berkata kasar, saya bertato (kalau tato dibilang dosa), saya sering pesta dan hangover keesokan harinya, saya tidak hafal urutan kitab di Alkitab, saya sering bikin orang kesal. Intinya, saya tidak akan mengaku religius.

Namun malam itu, saya ketemu Tuhan. Tuhan, Allah, Yesus, Isa Almasih, apapun kamu dan saya menyebutnya, terserah saja. Saya selalu meyakini hanya ada satu Tuhan, dan malam itu, Dia datang pada saya. Dia duduk di sebelah saya, mendengarkan tangis saya sampai selesai, Dia menemani saya. Auranya begitu kuat, begitu besar, memenuhi udara, begitu menenangkan dan nyaman. Saya tidak bisa melihat wajah atau wujudnya, tetapi saya bisa merasakan Dia hadir, ada di sebelah saya, sepertinya hampir tersenyum. Saya hanya tahu itu Dia, tahu begitu saja.

Saya menghabiskan tenaga hanya untuk menangis. Saya sudah tidak memberontak atau meronta. Saya cuma nangis dan menanyakan dua atau tiga pertanyaan, menyebut orang-orang terdekat, menitipkan mereka pada-Nya. Dia tidak menjawab langsung pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi saya mendengarnya berkata, “Bilang mamamu, semua akan baik-baik saja. Kamu akan baik-baik saja. Aku ada di sini, Aku ada di dekatmu.” Dan saya tidak menanyakan apa-apa lagi, karena seketika, saya percaya.

Saya tidak tahu berapa lama seluruh kejadian ini berlangsung, tetapi hampir seketika, sama seperti saat saya terperosok, saya kembali ke bumi. Saya berbaring dengan mata terbuka lebar, sembap, napas tersengal-sengal, keringat di sekujur tubuh, dan kasur yang berantakan. Benar-benar berantakan, seprai tercabut dari segala arah, bantal dan guling terlempar, kulit saya lengket oleh keringat dan saya merasa begitu panas sampai khawatir demam.

Malam itu, ada pertandingan bola yang ditayangkan televisi jam tiga pagi. Ayah dan kakak saya selalu menonton pertandingan bola, jadi ketika saya menengadah, mereka sudah di depan televisi. Seperti tidak terjadi apa-apa. Kalau memang benar saya membuat kasur begitu berantakan, tidak mungkin kakak saya tidak sadar. Dan saya menangis begitu hebat, masa tidak mengeluarkan suara isak sedikitpun?

Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi saya tidak takut lagi. Saya tahu baru ketemu Tuhan. Badan saya sakit semua, seperti kalau habis ditato, pegal menahan sakit, tetapi tiga kali lipatnya. Seluruh persendian sakit, kepala saya sakit. Saya meraih ponsel dan menghubungi Meidy, yang saya tahu pasti masih bangun dan bisa diajak bicara. Saya ceritakan yang baru terjadi. Dia menanggapi persis seperti harapan. Saya cuma perlu bercerita tanpa dicemooh.

Lelah, pusing dan merasa sangat panas, saya menyudahi obrolan dengan Meidy. Tetapi tidak bisa tidur. Saya beranjak menyalakan kipas angin, harus memaksa diri karena sangat lemas, tetapi tetap tidak bisa tidur. Kasur busa ini tidak nyaman. Pukul lima lewat tiga puluh menit, setelah ayah dan kakak tidur, setelah televisi dimatikan, saya beringsut ke kamar orangtua di belakang.

5.30 adalah jam doa ibu saya. Dia wanita religius. Saya memanjat naik ranjang dan berbaring di belakangnya, mendengarkan ibu menggumamkan doa. Tiba-tiba air mata itu jatuh lagi, seperti tadi. Saya tersedu, kali ini saya bisa mendengar suara tangisan saya sendiri. Saya mulai menangis, lega kali ini bisa mengeluarkan suara. Selesai berdoa, ibu yang bingung melihat saya, memeluk saya. Saya bilang padanya dengan susah-payah, “Ma, aku habis ketemu Tuhan. Katanya mama ga usah kuatir, Dia ada di dekat kita.”

Ibu saya terdiam, mungkin tidak tahu harus bereaksi apa. Sama seperti beberapa teman dekat yang saya temui malam harinya. Ketika masuk mobil Ape dan berkata, “Pe, aku semalem mushroom-an, terus ketemu Tuhan.”, dia memandangi saya lama. “Kon gendeng.” katanya. Habis mandi hari itu, saya baru sadar kepala benjol, ada memar di kaki dan mata kanan saya agak kemerahan, sakit kalau dipegang.

Hal yang paling luar biasa adalah, sebenarnya saat itu keluarga saya lagi ada masalah. Saya tidak akan menceritakan apa masalahnya di sini, namun hal itu sangat mengganggu kami, terutama ibu saya. Jam dua siang hari itu, seseorang datang ke rumah kami dan menyatakan akan membantu. Dia bukan malaikat, saya memastikan dia orang biasa.

Saya menceritakan pengalaman ini pada Limbang, yang secara teori dan praktek tahu lebih banyak tentang mushroom. Keesokannya, melalui Whatsapp, dia mengirim sebuah link. Inilah yang terjadi pada saya. Persis seperti ini, kecuali bahwa kesiapan si penulis dan dia mendapat visi dari perjalanannya.

Saya tidak tahu apakah hal ini lazim terjadi, karena teman-teman saya belum pernah mengalaminya. Setelah beberapa waktu, saya memutuskan menuliskan di sini karena, entahlah, sebagian orang yang saya ceritain selalu bingung bereaksi, jadi mungkin saya berharap ada yang pernah mengalami hal serupa dan mau membaginya dengan saya. Kecuali bahwa saya berharap tidak ada yang membaca tulisan ini. Hmph.

akhir maret 2016

Buat Ratih

Hari Minggu, 20/3, saya baru bangun sekitar jam 10 pagi. Terkantuk, dengan malas memainkan scroll Twitter, dan langsung tersadar ketika membaca berita suami seorang teman sudah berpulang. Saya terdiam beberapa detik, menatap twit itu, gelombang kesedihan menghantam.

Ratih itu teman seangkatan saya di KLN. Waktu masih di kantor, kami tidak pernah terlalu dekat. Kadang Ratih datang diantar taksi, agak borjuis waktu itu, saya menatapnya dari jendela seukuran dinding. Kadang dia makan siang sendirian, dan saya mulai agak menyukainya, karena saya juga sering makan sendirian. Kemudian saya lupa bagaimana awalnya, tiba-tiba kami dekat. Ratih tidak seperti kebanyakan perempuan, dia lucu, tidak berisik, tidak rumpi, tidak keberatan melakukan sesuatu sendirian. Dan ternyata kami punya banyak kesamaan.

Ripcu, panggilan saya kepada suami Ratih, sesuai nama di sosmednya. Saya datang ke pernikahan mereka, tetapi belum tahu kalau Ripcu ternyata sudah saya kenal jauh sebelum kenal Ratih. Kami teman YM. Saya ingat kami beberapa kali ngobrol soal musik. Berikutnya, ternyata teman-teman kami sama. Kami banyak ngobrol waktu saya di Jakarta, membicarakan segala sesuatu. Seperti sang istri, Ripcu juga menyenangkan.

Beberapa bulan ini, hubungan kami tidak sedekat dulu, padahal saya sudah di Malang. Terlalu asyik dengan kehidupan yang sekarang, saya bahkan tidak pernah ngajak mereka ketemuan untuk sekadar kopi atau kenalan dengan Desam. Jadi alangkah kagetnya saya, ketika seorang teman memberitahu kondisi kesehatan Ripcu. Saya langsung Whatsapp Ratih, memberitahunya, kalau dia butuh sesuatu atau seseorang, kapanpun itu, just let me know. Dia membalas, ‘makasih, Rena. Nanti kalau aku tiba-tiba whatsapp aneh-aneh jam tiga pagi jangan kaget ya :D’.

Ratih tidak pernah whatsaapp saya jam tiga pagi. Faktanya, dia tidak pernah mengeluh tentang kondisinya waktu itu. Dia tidak pernah drama di sosmed, tidak pernah minta dikasihani. Dia masih rajin update Path, tetapi tak pernah menyinggung apapun soal suaminya. Kadang postingannya menunjukkan dia lelah, tetapi tak lebih dari itu. Padahal, dia punya anak yang masih sangat kecil. Saya tak bisa membayangkan jadi Ratih. Dia kuat sekali, tabah, lebih tegar daripada Rossa.

Hati saya hancur melihat Ratih keluar masjid setelah solat jenazah, Minggu siang. Dia masih tampak tenang, matanya bengkak. Saya peluk dia kencang, berharap dia tahu dia tidak sendirian. “Maafin salahnya ya,” kata Ratih lirih, sedikit sesunggukan di bahu saya.

Sekali lagi, saya mengulangi, “Kalau kamu butuh apapun, please,” yang sekarang nyaris terasa basi. Kami melepaskan pelukan, Ratih sudah tidak menangis. Kami tidak bicara lagi setelah itu, saya mengamatinya sampai prosesi Ripcu berakhir, memikirkan orang-orang yang saya sayangi dan betapa saya menyia-nyiakan mereka yang peduli pada saya.

Sepanjang sisa hari, saya banyak berpikir. Saya tidak menjenguk Ripcu dalam masa perawatan, karena jujur, saya lemah sekali urusan itu. Menyesal? Iya, harusnya saya bisa memberitahu kalau saya menikmati obrolan nggak jelas kami dan berterima kasih dia mau berteman sama saya.

Saya jadi berpikir tentang cara saya mencintai kehidupan. Tentang hal-hal yang belum, padahal ingin sekali, saya lakukan. Tentang orang-orang yang saya sakiti. Tentang teman-teman yang saya sayangi. Karena kalau sudah bicara soal garis akhir hidup, kita bisa apa?

Be aware of your own body. Ketika terasa ada yang salah, segera periksakan. Jangan pernah remehkan sebuah perubahan, sekecil apapun itu. Cobalah hidup lebih sehat, kurangi gula dan garam, makan lebih banyak buah, dan di atas semua teori kesehatan, banyak tertawa dan lebih banyak bersyukur. Sungguh, hidup ini sebenarnya sangat pendek. Apa lagi yang bisa kamu lakukan selain memberitahu I love you kepada lebih banyak orang?

 So long, Ripcu, semoga kita bisa ngobrol lagi di lain waktu.

Ratih, kalau kamu baca tulisan ini, aku cuma mau bilang aku sayang kamu. God will always be with you and Desam. Thank you for being you. I’m wishing you a good, happy life. I love you.

Houtenhaunt Presents: Crimson Eyes Tour 2016

Sigmun sudah masuk di catatan sejak tahu kawan Twitter @AdhitAndroid mengerjakan sound album Crimson Eyes. Sigmun sendiri bukan nama baru, jadi tidak mengherankan kalau dia banyak ditunggu. Ketika Crimson Eyes masuk daftar 20 Album Terbaik 2015 versi Rolling Stone, saya semakin kelimpungan. Sengaja tidak mau dengar album karena ingin tahu live-nya dulu, tak terkira girangnya saat tahu tur Malang dipegang oleh kawan-kawan Houtenhand.

Mengusung alter-ego yang diperkenalkan sebagai Houtenhaunt, hujanderassekali tidak menghalangi menonton gelaran rohani di God Bless Cafe 2 itu (memang ada yang pertama, sungguhan). Malah saya datang agak terlalu pagi, waktu venue masih sepi. Sempat salahtingkah sejenak, akhirnya tampak wajah-wajah familiar, salah satunya menyelipkan sedikit ramuan lengket, dan kini, kegembiraan dimulai oleh Megatruh.

Megatruh ini band kawan, ex teman sekantor. Sebelumnya sudah sering lihat di Houtenhand, tentu saja. Maaf, Kid, menurutku kalian pernah tampil lebih baik daripada semalam. Memulai dengan agak terburu-buru, Megatruh berhasil membawakan Sajak Suara (Homicide) dengan cara mereka sendiri yang layak diapresiasi. Seorang teman menggamit lengan, mengajak sejenak mensyukuri nikmat Yang Maha Kuasa.

“Jangan lama-lama,” bilang saya. “Aku mau nonton TTL.”

TTL ini termasuk salah satu yang saya tunggu. Saya suka sekali TTL! Mau dibilang mathcore, screamo, post-hardcore, apapun itu, terserah. Yang saya tahu, kami satu selera. Dillinger Escape Plan, Every Time I Die, Animals as Leaders, sebut saja. Hampir berlari kembali ke venue, dapat di  lagu kedua, hasil zat substansi tadi memicu reaksi spontan, melipatgandakan kenikmatan khas Take This Life, yang harus terputus ketika Julius menyapa audiens dengan nafas tersengal-sengal. Makin keren aja ini band idola, makin merapat memadat, Sinyo makin atraksi, bikin tersenyum tanpa sadar. Sang vokalis memakai kaos lucu, saya mendekat untuk merayunya, sayang gagal.

Wajah-wajah yang dikenali makin banyak di sana-sini, konsentrasi terpecah sejenak untuk menyapa kanan-kiri. Kawan lain mendekat, kami bertukar camilan alih dimensi. Yang ini harusnya memberi efek agak nanti. Kalau perhitungan sesuai, harusnya pecah saat Sigmun. Bersemangat, saya menunggu Pronks ke atas panggung. Suasana tambah hangat, blower raksasa di belakang sudah tidak memberi kesejukan. Saya mundur dengan heran, tiba-tiba menyadari pria-pria berambut gondrong di depan panggung.

“Ternyata banyak ya, orang gondrong di Malang?” tanya saya dengan bodohnya kepada teman yang menanggapi dengan tawa.

Tidak tahu kenapa, rasanya klasik sekali melihat pria-pria berambut panjang ber-headbanging mengiringi garage rock ala Pronks. Seperti bukan di Malang tahun 2016. Saya tidak pernah terlalu mendengarkan garage rock, dan jujur, Pronks mengingatkan saya pada Lolyta and The Disgusting Trouble, sebuah band yang kini menyerupai mitos monster Lochness. Ada, namun tiada, tetapi nyata. Berjanji dalam hati meluangkan waktu menonton Pronks lagi lain waktu, saya mundur ke meja teman-teman, bercengkrama sejenak sembari merasakan reaksi substansi yang berpendar.

Kaveman berikutnya. Kebetulan, mereka duduk tak jauh dari di sofa kami. Saya sudah sering mendengarkan Soundcloud Kaveman, dan biasanya terpaksa mengakhiri setelah abang atau ibu berkomentar, “Kamu gak punya lagu lain yang bisa didengerin rame-rame?”, jadi sudah punya antisipasi. Mengingat band ini baru solid pada 2015 dan semalam memakai additional drummer (info yang saya dapat bilang, drummer aslinya lagi ujian. Wait. Itu cuma khayalan atau memang terjadi?), saya rasa bisa dimaklumi ketika mereka agak keteteran. Kaveman memberi sajian menyenangkan, sedikit berantakan, tetapi humble.

Perhitungan saya tidak meleset. Paduan beberapa zat yang intinya sama mulai reaktif di dalam darah. Sigmun di list, penampil terakhir. Saya sudah pernah mendengar Sigmun era EP Cerebro, tetapi yang semalam, sungguh di luar dugaan. Rapi! Saya diseret, disayat untuk kemudian dibalur dan ditimang, sebelum dihempas. Begitu terus berulang-ulang. Rasanya seperti petasan yang disulut sumbunya, dibakar perlahan, meledak saat klimaks. Ditingkahi lampu sorot warna merah, biru, hijau, keempat personel Sigmun terlihat seperti pendaran ubur-ubur di dalam laut. Audiens yang melompat, ber-headbanging, ber-crowdsurf, bagi saya tampak bagaikan deburan ombak. Intens!

Sigmun tidak tampil sempurna. Ada kesalahan di sana-sini, namun tidak mengurangi ambience pesta yang suram dan tajam. Mereka tidak banyak berdialog, tapi toh memang kita tidak sedang arisan. Gitarnya gurih, drumnya renyah, dan vokal Haikal, mencengkeram.

Tidak bisa menahan diri, saya sontak berteriak, “Jancok! Bandmu enak, cok!” kepada sekumpulan ubur-ubur di atas panggung. Mereka tidak mendengarnya, tentu saja, tetapi masa bodoh. Yakin, warga Bikini Bottom pun tidak pernah merasakan pengalaman magis seperti saya semalam, sekalipun di sana banyak ubur-ubur. Hari ini saya terbangun dengan kepala berat, masih dihantui acara perdana Houtenhaunt. Mengingat keriaan semalam, saya harus angkat topi untuk kru Houtenhand. Sekali lagi, mereka berhasil. Soal nama terakhir itu, sepertinya akan ada tulisan lagi di lain waktu. Yang jelas, sore ini harus sempat ngopi dulu, karena nanti malam ada gig lagi di Houtenhand. Hihihi.

27/2

Tentang Make Up Perempuan

Belakangan ini di timeline sosmed, terutama Facebook, mondar-mandir banyak sekali artikel tentang make up wanita. Intinya kurang-lebih, mengapa wanita tanpa make up lebih layak diperistri. Tulisan tersebut punya beberapa varian, kalau saya nggak salah, karena saya nggak membaca satu-persatu, tetapi intinya sama. Bagi saya, tulisan semacam ini konyol sekali.

First of all, mau pakai make up atau tidak, who the fuck are you to tell them what to do? Terserah mereka lah, mau pakai make up atau nggak. Kecuali kalo belinya minta uang situ sih. Menurut saya nggak ada hubungannya make up dengan kualitas diri seorang wanita. Sama seperti tidak ada hubungan antara tato dan moral seseorang.

d1d3e3372a86f13dcb0800fff174674b

pic: pinterest.com

Pria selalu senang melihat perempuan cantik kan? Well, tidak semua perempuan terlahir cantik sempurna seperti Pevita Pearce, dan sekalipun sekarang sudah banyak artikel yang melawan propaganda industri bahwa cantik itu putih, langsing dan berambut panjang, tetapi harus diakui memang ada wajah-wajah yang membuat kamu menoleh dua kali. Cantik itu soal selera. Kalau saya bilang Raisa mukanya membosankan, kamu mau apa?

Masalahnya, menurut saya, adalah bahwa perempuan sudah dikompetisikan soal kecantikan sejak dia belum mengerti apa itu cantik. Dalam masa pertumbuhannya, dia jadi terbiasa mendengar “Cantiknya mana?” yang kalau dalam bahasa Jawa istilahnya mungkin ‘ngudang’. Saya punya cerita nih. Saya masih ingat sangat jelas, waktu itu diajak saudara nemenin ke ulangtahun anaknya teman, masih TK kalau nggak salah, di sebuah restoran fast food. Demi makan gratis, saya pun mengiyakan. Lagi duduk diam-diam, pusing melihat begitu banyak anak kecil teriak-teriak, dua orang ibu di sebelah saya mengobrol. Kemudian, Ibu Satu memanggil anak perempuannya.

“Nduk, sini, salim dulu sama Tante,” seru Ibu Satu.

Si Nduk pun bergegas datang, kemudian mencium tangan Ibu Dua yang saat itu duduk bersama anak perempuannya yang sedang mengutak-atik mainan.

“Aduuuh, Nduk, kamu cantik sekaliii!” puji Ibu Dua kemudian. Perlahan, kepala Si Anak Dua menengok memandangi yang disebut ibunya cantik. Ibu Dua menoleh pada anaknya, “Ayo salaman, kenalan dulu sama yang cantik,” katanya.

Bahkan saya bisa melihat keengganan di wajah Anak Dua. Ketika Anak Satu kembali berpaling pada temannya, Anak Dua masih memandangi penampilan Anak Satu, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kejadian ini sudah lama sekali, dan saya tidak bermaksud apa-apa; hanya saja, perempuan sudah dikompetisikan cantik sejak kecil, dan entahlah, bagi saya, manusia suka melihat sesuatu yang indah sudah bawaan sejak lahir.

Maka saya tidak melihat ada sesuatu yang perlu diributkan dari perempuan ber-make up. Toh make up itu bisa dihapus. Menurut saya tidak adil bila perempuan dihakimi dari make up-nya, sama tidak adilnya jika diadili dari kebiasaannya merokok, kesanggupannya minum alkohol, dan menahan sakit saat ditato. Ada perempuan-perempuan yang sama sekali tidak tertarik dengan make up, karena uangnya lebih baik dibuat beli kaos band, misalnya, atau nonton konser. Tidak salah juga kan?

Seumur hidup, saya tidak pernah punya bedak, dan saya memakai Vaseline sebagai pelembap bibir, tetapi saya pun tidak menghakimi mereka yang ber-make up. Saya malah senang melihat perempuan cantik. Kadang pengen bisa cantik gitu, tapi sepertinya effort yang dibutuhkan terlalu banyak dan bikin lelah, jadi sudahlah.

gaga1

Yang jelas, perempuan ber-make up pun layak diperistri. Cuma barangkali yang dimaksud tulisan di Facebook itu pengaruh pergaulan ya? Saya nggak pernah ngerasain sih, jadi nggak bisa komen juga. Cuma, kalau si cewek itu punya duit hasil kerja sendiri, si cowok lebih suka ceweknya beli make up dan tampil cantik saat jalan bareng, atau beli kaos band edisi rare?

Seperti biasa, tulisan saya memang suka nggak jelas dan tanpa solusi. All I wanna say, kalau kamu ga suka pakai make up, yasudah. Kalau kamu suka dandan, yasudah juga. Kalau menurut ajaran agama disarankan perempuan tidak berdandan, ya cari istrinya di pesantren, jangan di kafe, dan ga perlu komentarin yang di kafe. As simple as that, why fuck with other’s life?

when-women-wear-makeup-their-basically-lying-to-us

Selebriti Jangan Benci Haters

pic: @nextshark.com.

Sejak meninggalkan kantor lama, jujur saya sudah tidak mengikuti perkembangan selebriti Indonesia. Memang tidak tertarik sih. Makanya saya agak terlambat tahu ada penggebrekan prostitusi yang kemudian menggelandang dua selebriti wanita berinisial NM dan PR.

Berbagai jejaring sosial hari ini dihebohkan dengan pernyataan NM merupakan akronim dari Nikita Mirzani. Saya memilih hanya satu berita dan langsung mendapatkan puluhan update, sebagian nggak nyambung sama topik. Ada berita yang menuliskan sekarang NM suka memamerkan barang-barang mewah di akun Instagram-nya. Dengan gaya penulisan itu, saya tertarik mengeceknya, karena itu berarti DULU NM tidak begitu.

Hahaha iya, naluri pingin tahu itu masih sering sekali keluar tanpa diduga.

Di akun Instagram NM, baru-baru ini dia memang berpose sambil memamerkan beberapa gepok uang Dollar. Juga ada foto sebuah arloji merah berkerlap-kerlip yang jujur saja, saya ngga ngerti di mana menariknya, tetapi rupanya jam tangan itu bernilai sangat tinggi. Jadi ini yang dibicarakan orang-orang.

Oke, sebelum saya lanjut menulis, barangkali catatan kali ini akan terbaca sangat subyektif. Pada dasarnya, saya tipikal tak suka ikut campur urusan orang lain. Saya tak peduli siapapun mau berbuat apapun selama kami tidak bersinggungan pribadi. Apalagi kalau benar NM terlibat prostitusi, saya tak punya dan tak mau berkomentar. Dengan dua anak yang masih kecil-kecil ditambah gaya hidup berbiaya tidak sedikit, semua orang punya pilihan.

Bukan foto-foto NM yang menggelitik saya, tetapi komentar dari masyarakat luas yang bebas mengakses akun pribadi tersebut. Sungguh menyedihkan membacanya, kata-kata sangat kasar dan menyakitkan dari mereka yang saya yakin, bahkan tidak pernah bertemu muka dengan NM. Saya jadi bertanya-tanya, seperti apa wujud manusia yang rela stalking  hanya untuk menuliskan kata-kata buruk di akun jejaring seseorang?

gty_paparazzi_ll_120202_wmain.jpg

pic: @abcnews.go.com

Yang mengherankan, ada banyak sekali orang seperti itu! Ini baru NM, belum selebriti lain semacam Syahrini yang buat saya sih 11-12 dengan NM, atau… hmmm… ngga jadi deh, saya juga tidak tahu selebriti mana yang lagi ramai dibicarakan. Ya, begitu intinya. Kemudian saya berpikir, apa enaknya jadi selebriti?

Pemikiran ini sudah ada waktu saya duduk di bangku sekolah. Ayah saya adalah seorang publik figur, dan di kota sekecil Malang, hal itu sudah jadi semacam pengetahuan umum. Sekali waktu, beliau berkata pada saya, “Apapun yang kamu lakukan, pikirkan dampaknya ke saya.” Kalimat itu terpatri selalu, membuat saya berpikir dua kali kalau mau bandel, walaupun akhirnya tetap dilakukan. Setidaknya saya  tahu batas.

Sebagai seorang ABG waktu itu, saya sempat berpikir, hidup  bakal lebih senang andaikan beliau bukan ayah saya atau kami tinggal di Jakarta, misalnya. Saya tidak pernah memegang botol bir atau rokok di depan umum, berhati-hati bergaul, terbilang sangat ‘behave’, dibandingkan sekarang :D. Masalahnya, track record ayah saya begitu bersih. Dia tidak main korupsi, menolak suap, hidup sederhana dan straight, tetap seperti itu selama berpuluh tahun.

g1359572044983490913

pic: @weknowmemes.com

Sekarang sih, saya sudah menerima kenyataan nama belakang itu dengan segala resikonya. Sudah bisa tersenyum pada yang menyapa, tidak galak pada yang memperhatikan, meski tetap bengong waktu tahu saya digosipkan menikah dan punya anak oleh orang-orang yang tidak pernah saya temui. Can you believe that? Saya yang bukan siapa-siapa, tidak pernah foto seronok di Instagram, tidak punya skandal apapun, tidak masuk studio rekaman atau syuting kejar tayang saja masih digosipkan. Apa kabar selebriti yang wira-wiri di acara infotainment yang tayang sejak pagi???

Saya jadi berpikir, mungkin memang harus begitu kalau jadi milik masyarakat. Privasi pun milik umum, semua orang merasa berhak menghakimi. Sebutan gaulnya sih hater, si pembenci. Kata Taylor Swift, haters gonna hate, hate, hate. Menurut artikel psikologi, si hater membutuhkan pelampiasan karena sebenarnya dia tidak percaya diri. Ngga tahu benar atau tidak, saya ngga punya hater dan belum pernah jadi salah satunya.

Cuma sebagai personal yang baru menemukan fenomena hater ini, jujur saya heran sekali. Kok bisa ya ada orang yang maki-maki orang yang nggak dia kenal? Itu orang kayaknya nggak punya temen, trus kebanyakan nonton tivi. Kalau punya temen kan mending main sama temennya ya, daripada ikut campur urusan orang lain.

Nah-Ini-Dia-7-Gejala-Kalau-Kamu-Sudah-Butuh-Piknik

pic: @piknikdong.com

Menurut saya, selebriti butuh hater. Apalagi selebriti tanpa talenta atau prestasi, sebaiknya punya banyak hater. Kalau ngga, percuma dong pasang foto seksi :’)). Kalau artis, baru lain cerita, karena artis diambil dari kata dasar ‘art’, berarti punya karya, ada pembuktian, jatuhnya soal selera. Kalau selebriti, ya sah saja tidak ada prestasi, asal ada hater. Jadi jika selebriti bilang ‘I love my haters’, ya sudah seharusnya. Sederhana, semacam hubungan mutualisme. Selebriti senang dapat perhatian, si hater senang bisa memaki, dan saya senang karena John Mayer akhirnya upload selfie terbarunya. Ugh.

Singer John Mayer arrives at the 57th annual Grammy Awards in Los Angeles

pic: @cbsnews.com

Ibu Ga Suka Tato Saya :)

pic: @007tatuaje.com

Sama seperti saat melihat piercing Mel B personel Spice Girls di MTV untuk pertama kalinya, dan kemudian memutuskan melakukan hal yang sama dengan lidah saya sendiri; demikian pula halnya urusan tato. Sejak SMP, saya sudah tahu suatu hari nanti saya bakal bertato.

Agak lupa sih tahun berapa, pokoknya waktu itu sudah kuliah. Ceritanya dulu ada warnet di seberang kampus, satu tongkrongan-lah sama Yoela, tattoo artist pertama saya ini. Suatu hari, kakak saya yang juga kenal Yoela bilang, “Aku mau bikin tato.” dan saya bilang, “Ikut.”

Berangkat dari rumah sih tidak ada pikiran apa-apa. Tetapi setelah tangan Kakak selesai dikerjakan, dia menoleh pada saya, “Kamu mau?”. Tanpa pikir panjang seperti kebanyakan keputusan dalam hidup saya, saya mengangguk penuh semangat. Tidak sakit, dibuatnya masih dengan mesin dinamo. Jadilah sebuah tengkorak meringis di leher belakang.

Sampai sekarang, ada sekitar enam tato tambahan di punggung, pinggang, dan di bawah payudara. Lima di antaranya saya buat saat kerja di Jakarta, karena, well, ibu saya tidak suka saya bertato. Waktu tato pertama ketahuan, Ibu memarahi Kakak. Untuk yang kedua dan selanjutnya, saya memilih sembunyi-sembunyi.

mom_mad_at_son

pic: @geniusinchildren.org

Ya tentu saja, akhirnya Ibu tahu, hahaha. Beberapa bulan sepulang dari Jakarta, saya mulai menunjukkan para tato, pelan-pelan. Reaksi Ibu tidak sefrontal yang pertama, sudah lebih tenang, tetapi tetap tidak menutupi ketidaksukaannya. Dalam masa itu, Kakak malah menambah tiga tato baru, termasuk di leher kanan.

Ibu dan saya, kami sering mengobrol soal tato. Ibu punya banyak komentar dan alasan tentang hobi ini, semacam, “Kenapa sih gambar tengkorak? Kenapa ngga gambar bunga atau kupu-kupu?”, saya jawab dengan, “Mom, please, like I’m gonna do butterflies and roses??” atau, “Kamu ga takut kalau pasangan kamu ga suka kamu tatoan? Nanti disuruh hapus kayak Olla Ramlan loh,” dan saya bilang, “Itu kan tato nama eks suaminya, Ma. Ya suaminya yang sekarang maleslah lihatnya. I’m not gonna do that for sure! Mending gambar wajahnya Mama,” lalu Ibu, sambil cemberut, langsung menyahut, “Gak mau!”.

Pernah, Ibu tiba-tiba berkata, “Aku ga suka kamu tatoan.” yang  sukses membuat saya mati gaya, cuma bisa menyeringai. Beberapa waktu lalu, beliau bercerita sambil lalu soal tanggapan negatif seorang temannya tentang tato. Saya menyadari, itu menjadi beban bagi Ibu, yaitu bagaimana orang-orang yang dikenalnya bereaksi terhadap tato putra-putrinya.  Mungkin beliau tidak tahu bagaimana menjelaskan soal tato itu, karena memang tidak memahami kenapa saya melakukannya.

sorry-mom-tattoo-balm-100ml

inspirasi tato berikutnya. pic by coolshop.com

Untuk dimengerti, saya membuat semua tato benar-benar untuk diri sendiri. Saya tidak perlu menjelaskan siapa saya, maupun makna dan alasan kenapa memilih tato. Tato itu sepenuhnya milik saya, tidak untuk dilihat, dikomentari, dan dikonsumsi orang lain, kecuali saya yang menunjukkannya secara sadar tanpa paksaan. Tapi tentu saja, saya tak bisa menerapkan sikap sama kepada Ibu (karena itu saya memakai baju lebih tertutup saat bepergian dengannya).

Jujur, saya pun baru tahu masih banyak stigma negatif tentang tato. Hari geneee, dua ribu lima belas, brooohhh. Tetapi itu kenyataannya. Terutama orangtua, para ibu khususnya, yang tidak mengenal lingkungan seperti yang saya miliki. Saya tidak menyalahkan mereka, bahwa penghakiman, judging, prejudice memang sebuah penyakit society yang tidak akan hilang, apalagi dalam masyarakat yang kerap menganggap perbedaan sebagai a threat, sebuah ancaman. Masyarakat yang terjebak dalam comfort zone, seolah begitu ketakutan kenyamanannya dicolek sedikit saja.

1960s-two-women-sitting-under-hairdryers-gossiping

pic: @allposter.com

Saya tidak punya solusi apa-apa soal ini. Bagaimanapun, penampilan memang menentukan kesan pertama. Yang bisa saya lakukan cuma terus-menerus memberitahu Ibu, tidak ada yang salah dengan tato. Kalau lagi ngobrol santai, saya bilang, “Liatin tuh, Ma, pejabat negara ga tatoan, tapi korup,” dan beliau sepenuhnya setuju. Setiap ada kesempatan, saya selalu menekankan padanya, tato tidak mengubah siapa saya. Saya tetap putri tercintanya, yang rela mati untuknya.

Tato tidak berhubungan dengan moral dan kepercayaan. Tidak berhubungan dengan  tindak kejahatan. Tidak mengubah karakter, justru bisa memperkuat.

11182229_439487119509662_6752738983351334881_n

Tadi pagi, saya berkata, “Mama tahu kan aku bakal nambah tato lagi?”, Ibu menjawab ringan, “Ya, namanya juga bocah.” dan saya tersenyum. 🙂