The Immortal Greg Puciato (The Dillinger Escape Plan)

Pic: @bbc.co.uk

Fakta pertama dan terpenting dalam tulisan kali ini: I’m totally a die hard fan of The Dillinger Escape Plan. Cinta pada pendengaran pertama, dimulai dari Miss Machine. Enam album, empat EP, belum pernah mereka mengecewakan saya. Jadi ketika personel TDEP mengumumkan proyek-proyek di luar band, saya selalu menyambut dengan sukacita. Tetapi tidak semua proyek supergrup itu masuk playlist, misalnya Killer Be Killed yang bikin saya, “Gini doang nih?”.

Alkisah, tersebutlah nama Greg Puciato yang didaulat menjadi vokalis band. Perawakannya disebut tinggi, besar dan BEROTOT. Bagian terakhir tadi memang penting, sampai ada artikel yang menulis bagaimana agar ototmu bisa begitu… padat. Tenang, saya bukan jenis fangirl yang mengidolakan penampilan, justru kelakuan Puciato yang bikin makin merapat pada The Dillinger Escape Plan. Come on! Dia memanjat tiang panggung, dia membakar amplifier dan drum, DIA BERLARI DI ATAS KEPALA PENONTON seperti Yesus berjalan di atas air, dia melompat dari ketinggian lima meter lebih, dia bergelantungan dengan kaki di atas dan kepala di bawah, dengan kepala berdarah-darah, SAMBIL TETAP BERNYANYI.

Greg-Puciato.jpg

biasa, biasa,, yang kayak gini aja receeeh // pic: @loudwire.com

Okay, saya tahu Puciato bukan vokalis pertama gemar atraksi di atas panggung. Kita bisa menyebutkan sederet nama lain, paling mudah ya GG Alin. Lalu ada apa dengan Greg Puciato? Well, saya pribadi menghormatinya sebagai sosok cerdas. Kalau dia tidak pintar, tentu seorang Devin Townsend tidak mengajaknya serta dalam sebuah karya avant garde, The Mighty Masturbator, kan? Resume ini masih diperpanjang dengan kolaborasinya bersama Deftones dan Every Time I Die, Suicide Silence, Lamb of God, Archictects, Soulfly, dan sisanya bisa kamu lihat di internet.

Puciato tidak ragu menyatakan pemikiran yang seringkali menjadi kontroversi. Dia menyebut Trivium sebagai sekumpulan anak-anak baik yang mencoba jadi metal. Dia tertawa ketika ada rumor seteru dengan Slipknot dan menjawabnya secara ambigu. Dia berpacaran dengan seorang aktris pornografi. Dia tidak mengonsumsi narkoba maupun steroid, tetapi menikmati magic mushroom. Dia menutup semua akun sosial medianya, karena itu semua mengganggunya. Dia mengangkat bahu dan berkata TDEP tidak pernah latihan di studio; mereka cuma bertemu sekali sebelum berangkat tur. Dia membawa seplastik feses yang diaku adalah miliknya, melemparkannya pada penonton, dan melumurkannya pada DIRINYA SENDIRI (membuat TDEP menjadi salah satu aksi paling diperbincangkan di Reading Festival, Inggris pada 2002).

greg-puciato-middle-finger

He just don’t give a fuck. Nice. // pic: @loudwire.com

Yang paling menarik adalah, Puciato terlihat hanya menjadi dirinya sendiri. Dia jarang membicarakan kehidupan pribadinya, tidak mabuk-mabukan atau tidak menghancurkan kamar hotel, sepertinya karena dia memilih mengeluarkan energi di atas panggung. Dia bahkan tidak berolahraga saat tur karena baginya, show time saja sudah membuat otot-ototnya bekerja keras. Melihat video-video wawancara di YouTube, Puciato terlihat seperti seorang yang mudah diajak bicara, mungkin minum sedikit bir dan melontarkan lelucon bodoh.

Faktanya, majalah MetalSucks menobatkannya menjadi vokalis metal modern nomer satu pada 2013. Pria ini tampil dengan senang hati di video klip Retox berjudul Let’s Not Keep in Touch. Dia dan Ben Weinman sang gitaris, berjalan di frekuensi yang sama, sampai hampir menyebalkan melihat mereka bersebelahan di video wawancara karena pemahaman satu sama lain bagaikan Tuhan Yesus dan Yudas Iskariot. Kemudian, saya menemukan fakta bahwa Puciato gemar mendengarkan musik elektronik. Ya, tentu dia beberapa kali tampil bersama Nine Inch Nails. Tetapi membuat sebuah proyek elektronik?

Namanya The Black Queen, dan ketika menonton klip Maybe We Should, saya hampir tidak bisa bernapas. Selama ini, saya melihat banyak atraksi Puciato, tetapi saya TIDAK PERNAH melihatnya menggoyangkan pinggul. Oh wow. Bareng Steven Alexander (TDEP, Nine Inch Nails) dan Joshua Eustis (Nine Inch Nails, Puscifer, Televon Tel Aviv), Puciato kini memainkan musik eletronik. Album Fever Daydream sudah dirilis, dan The Dillinger Escape Plan sudah memastikan album Dissociation mendatang bakal jadi yang terakhir. Maka tampaknya Puciato akan lebih sibuk goyang pinggul daripada menyemburkan api dari mulut macam naga.

Sebagai vokalis pengganti di TDEP (yang pertama bernama Dimitri Minakakis, suaranya ada di album debut Calculating Infinity), Puciato pun pernah ditanyai, “Bagaimana rasanya berada di bayang-bayang Minakakis?”. Saya lupa membaca atau menonton perbincangan ini di mana, tetapi saya ingat Puciato menjawab, “Aku sudah bersama TDEP selama 10 tahun lebih dan aku sudah melakukan banyak hal bersama mereka. Aku tidak berada di bawah bayang-bayang siapapun.” Excellent, Puciato, just excellent.

Puciato selalu bisa menjawab pertanyaan dengan lugas, bahkan mungkin menjengkelkan karena dia mengatakannya nyaris tanpa berpikir. Diwawancara di Australia pada 2012, dia menyebut ingin bikin mash-up sama Bad Brains. Nah loh. Saya jadi ingin tanya, apa dia juga mendengarkan dub Bad Brains? Sebenarnya sih, banyak sekali yang mau ditanyakan ke Puciato, sayangnya geografis kami jauh banget.

Benjamin Weiman, notabene adalah satu-satunya personel asli TDEP, memberitahu Substream Magazine bahwa lagu Hero of the Soviet Union dari album One of Us is The Killer yang ditulis Puciato, adalah tentang dirinya. Sebaris lirik dari lagu itu berbunyi, “scum of the earth, scum of the ocean”. Hehehehehe.

Saya sih curiganya Puciato ini sejenis alien. Saya selalu percaya David Bowie, Lemmy Kilmister, dan Prince adalah alien, mereka tidak takut mati atau selalu bereinkarnasi, alias abadi. Sepertinya Puciato adalah bagian dari mereka.

Maret – 8 Agustus 2016
ditulis sambil dengar Fever Daydream

Ps. Tulisan sudah dimulai cukup lama, namun tak pernah benar-benar terselesaikan. Setelah mengunggah The Dillinger Escape Plan’s No 1 Fan: Me, saya memutuskan menuntaskan yang satu ini. Tidak mengedit naskah awal, hanya menambahkan beberapa paragraf terakhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s