The Dillinger Escape Plan’s No 1 Fan: Me

Pic: @skullsnbones.com

Saya dibesarkan oleh banyak musik. Secara umum, rock dan metal dengan segala turunannya, thanks to my dad. Kemudian di bangku SMU, menemukan ska. Belajar ska dan segala turunannya, tidak membuat saya kehilangan gairah atas musik yang lebih berisik.

Lupa siapa yang memperkenalkan The Dillinger Escape Plan, kayaknya nemu sendiri deh, kalau nggak salah setelah tergila pada Protest The Hero. Waktu itu dapetnya Miss Machine, baru kemudian mencari album pertama, Calculating Infinity dengan 43% Burnt-nya. Saya jatuh cinta. Saya suka bagaimana mereka membuat saya merasa berenergi dan ingin menendang kepala orang. Saya suka kejutan-kejutan dalam tiap lagu, saya suka cara Greg Puciato (dia mulai nyanyi di TDEP sejak Miss Machine, Calculating Infinity masih bareng vokalis lama, Dimitri Minakakis) berteriak, saya mengagumi otak Benjamin Weiman, gitaris sekaligus motor TDEP (dan satu-satunya personel asli band). Musik mereka bahkan bisa bikin saya turn on. Sungguh! Seperti itu dampak TDEP pada saya.

Dan OH TUHAN, SAYA TEROBSESI DENGAN LIVE SHOW MEREKA. TDEP punya banyak atraksi, termasuk menyemburkan api, berlari di atas kepala penonton, guling-guling menabrak penonton, memanjat soundsystem, melemparkan feses (iya betul, feses yang kotoran manusia) ke penonton, bergelantungan di penyangga panggung dengan kepala di bawah dan bakar drum. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam menonton YouTube, membaca artikel-artikel wawancara, berlama-lama memandangi foto live show di akun Instagram Benjamin Weiman, dan kelelahan akibat histeria setiap melihat nama The Dillinger Escape Plan di manapun.

depp

too much love, I cannot hate you // pic: @skullsnbones.com

Tahun 2015, seorang kawan di Jakarta memberitahu, TDEP bakal main di Bandung Berisik. Saya terlompat, langsung mengecek jadwal TDEP, mengecek saldo tabungan dan mencari seat kereta api di tanggal yang tepat.

TDEP tidak jadi ke Indonesia. Saya patah hati. Sungguh.

Kemudian, beberapa hari lalu, saya mengalami serangan jantung mini. TDEP memutuskan an extended hiatus. Vakumnya itu, menurut Weiman, dikutip dari Noisey, adalah soal waktu yang tepat. “Go out while we’re still on top,” begitu kata Weiman, dan saya tidak punya pilihan lain selain mengiyakan, manggut-manggut dengan sedih di depan laptop.

Sementara Puciato berkomentar, “No big, calamitous thing happened. It’s just a natural part of the trajectory of individuals’ personal lives and goals not lining up with the lifestyle of doing this. Shit happens.” kepada TeamRock.com.

Iya, hal ini memang wajar. Sebenarnya, saya tidak terlalu terkejut. Maksudnya, gimana ya… Kalau dilihat lagi ke belakang, TDEP punya jejak panjang. Mereka sudah 20 tahun loh, kalau setelah dua dekade pingin melakukan hal lain, ya tentu sangat wajar. Tidak ada yang perlu diributkan. Yang keren, dalam durasi tersebut TDEP konsisten dengan musiknya; mereka menyelipkan dreamy jazzy tune di tempat yang tepat, sejajar dengan agresivitas melodi dan tehnik level dewa, kadang melandaikan gerimis manis setelah badai dengan dentingan piano dan vokal bersih Puciato, kadang terhenti begitu saja sampai bikin antiklimaks, kadang memberi double eargasm. AH.

Saya tidak punya album favorit atau lagu favorit. The Dillinger Escape Plan adalah favorit saya. Setulusnya, bersih dari hati, seperti itu saya menggemari TDEP. Buat saya, setiap album adalah istimewa, setiap lagu adalah spesial. Dalam hati, saya juga yakin entah bagaimana, suatu saat TDEP bakal manggung lagi. Puciato pernah bilang, “It’s been the most important thing in my life for the 15 years I’ve been a part of the band,” dan menurut saya, suatu hal yang sepenting itu tidak akan berlalu begitu saja. Ya kan? YA KAN???

Tanggal 14 Oktober mendatang (that will be so close with my birthday!), TDEP bakal ngeluarin album baru, sekaligus jadi yang terakhir, Dissociation. Saya sih nggak punya harapan apa-apa soal Dissociation. Sebenarnya, saya nggak pernah menautkan harap apapun kalau TDEP mau rilis album, sudah kadung percaya banget sama mereka soalnya. Harapan saya sih, bisa nonton live-nya. Itu aja. Susah banget ya? MASA SIH DI INDONESIA TDEP GAK NGETOP?? For godsake.

TDEP masih akan menjalani tur selepas Dissociation. Kelihatannya sih jadwal sudah cukup padat buat Puciato dan Weiman, yang sudah punya proyekan masing-masing, yaitu The Black Queen dan Giraffe Tongue Orchestra. Jadi, sebagai penggemar nomer satu, saya menolak mengucapkan selamat tinggal. You guys will forever stay in my heart.

Ps. Tulisan yang bagus tentang keputusan vakum TDEP bisa dibaca di SINI, dijamin bikin hati tentram.

 8 Agustus 2016
ditulis sambil patah hati
tapi tetap (berusaha) ikhlas
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s