Folk Music Festival 2016, Antiklimaks Membosankan

Tentu saja, saya tidak akan mengklaim diri seorang penggemar musik folk.  Saya menghormati Bob Dylan dan Johnny Cash, saya selalu ikut mendengarkan ketika kawan memutar lagu folk tanpa banyak komentar, intinya sebenarnya bukan tak suka, hanya belum berminat mendalami terlalu jauh, jadi yang saya tahu memang ya rata-rata saja.

Beberapa minggu melihat poster Folk Music Festival 2016, saya belum kepingin nonton.  Tetapi seorang teman hadir sebagai penampil, saya juga selalu suka Float, dan menurut pengalaman, mengingat hobi nonton live show, sesuatu yang namanya festival itu selalu menyenangkan. Banyak panggung, banyak tawa, banyak makanan, banyak kemeriahan, apalagi banyak teman yang pasti datang. Dan kalau benar folk itu seperti yang saya pikirkan selama ini, saya pasti bisa bertahan. Biasanya juga, menemukan penampil-penampil yang baru saya tahu dan menarik perhatian. Senang loh, rasanya, ketika musik menyihir dan kamu bertanya, “Wah. Lagu siapa ini enak bener?” Berbekal ekspektasi itu, saya semangat membeli tiket.

Sebenarnya ingin datang lebih awal, namun kondisinya tidak memungkinkan. Maka jam 5-an sore, saya sempoyongan dari parkiran Lembah Dieng. Harus dicatat, ini pengalaman pertama di Lembah Dieng, dulu SORE main di sana, saya masih di Jakarta; jadi tak ada antisipasi apa-apa. Saya salah. Harusnya jangan terlalu naif percaya kata teman.

Kenyataannya, kami harus menukarkan tiket di loket dengan antrian mengular. Oke, tak masalah. Kemudian kami harus menempuh jalan gelap nan becek, mengitari danau untuk ke gerbang venue, yang juga licin. Pemandangan pertama di kolam renang adalah booth-booth seadanya, dengan tulisan-tulisan seadanya yang tidak menarik perhatian, sementara menengadah ke atas, ke auditorium terbuka yang menjadi panggung, saya langsung khawatir dan kehilangan minat.

Terlalu banyak orang. Venuenya terlalu kecil. Ternyata ekspetasi saya ketinggian. Waduh.

Teman-teman mengajak naik. Grogi, saya mengiyakan. Seketika saya tahu ini adalah kesalahan. Kami tidak bisa bergerak, apalagi menemukan tempat nyaman. FMF dimulai sejak siang memang, tetapi venue sungguh terlalu kecil untuk begitu banyak penonton. Kemudian saya tersadar ini acara skala nasional, ini Folk Music Festival, bukan Malang Folk Festival. Well, no need to turn back. Saya tidak punya pilihan selain menjejalkan pantat di antara pantat-pantat lain, menyeka peluh di dahi dan menatap ke belakang kepala seorang pria yang tak saya kenal, karena panggungnya tak kelihatan.

Kami mendapat sedikit White Shoes and The Couple Company. Terlalu awal untuk memberi komentar, lagipula saya sering sekali nonton mereka di Jakarta. Kemudian ujian mental dimulai. Aurette and The Polska Seeking Carnival rupanya bukan saja gemar nama panjang, durasi lagu mereka juga panjang sekali. Saya tidak tahu persisnya apa yang mereka mainkan, sound-nya tidak begitu mendukung, dan saya tidak bisa melihat apa yang terjadi di panggung. Saya bahkan tidak berminat melakukan search di Google, mencari tahu mereka datang darimana dan apa lagunya yang paling populer. Pokoknya ketika AATPSC selesai, saya bertepuk tangan kencang, hampir bersorak penuh rasa syukur.

Berikutnya, adalah Christabel Annora, yang di saat bersamaan merilis album perdananya, Talking Days dan menjual 50 keping pertama di FMF. Ista sih memang oke, kan teman-teman saya pintar-pintar. Saya tahu albumnya pasti berkualitas, dan ketika Ista, Fani, Kopros dan Timo membawakan Paranoid Android-nya Radiohead di sela setlist, saya merinding. Paragraf manis ini bukan semata karena saya mengenal Ista. Dia memang layak mendapatkan perhatianmu. Kalau belum pernah tahu, coba cari di Spotify, album Talking Days. Penampilannya kemarin manis, bersih, rapi, dengan tim yang solid. Malam itu saya dapat info, 50 keping CD Ista yang dirilis Barongsai Rec ludes dalam sekejap.

Setelah Ista turun panggung, teman-teman yang tadinya nonton bareng menyelinap meninggalkan auditorium yang sekali lagi, memang begitu tak nyaman. Saya tak bergeming. Haus, lapar, ingin buang air, dikalahkan oleh kegelisahan harus menembus keramaian melewati begitu banyak orang. Pengalaman nyaris pingsan waktu nonton Metallica di GBK Jakarta, juga waktu lihat Blur di Senayan, membuat saya memilih duduk di tempat dengan kaki tertekuk dan bersimbah keringat.

Liyana Fizi dan Tigapagi berada di rundown berikut. Tigapagi saya tahu lewat acara pencarian bakat yang disponsori rokok, sedangkan Liyana Fizi, belum pernah dengar kecuali seorang teman yang bilang lagunya enak. Liyana tampil bersama rekannya, dan guyonan di panggung lebih mencuri perhatian daripada penampilan itu sendiri, sesuatu yang saya sayangkan, karena entahlah, menurut saya Liyana tidak tampil maksimal. Rasanya seolah-olah dia kebetulan berada di Indonesia pada tanggal 14 Mei 2016 kemudian seseorang berkata padanya, “Main di acaraku yuk?” dan dijawab Liyana, “Oke.” tetapi tentu saja ilustrasi di atas berdasarkan kebiasaan sehari-hari.

Tigapagi yang belum pernah saya lihat live-nya, ternyata berlalu begitu saja. Meski lumayan tahu lagu-lagunya, tetapi mereka tak mendatangkan kegembiraan di hati yang sudah lelah duluan. Mereka memenuhi setlist pendek ditingkahi hujan gerimis yang bikin dramatis. Panitia di FOH melempar-lemparkan jas hujan gratisan, membuat penonton sibuk sejenak dan menghalangi pandangan ke panggung. Kemudian show time untuk Danilla yang tampil nyaman. Manis, seperti yang saya ingat ketika menonton beberapa show-nya di Jakarta dua tahun silam. Tampaknya dia sudah lebih dimatangkan oleh panggung-panggung yang belakangan memadati jadwal.

Mocca, sesuai ekspektasi, meski sound harus berkejaran di dua lagu pertama. Arina tidak perlu capek, audiens sudah hafal semua lagu mereka dan dengan riang melambai pada sang vokalis yang membalasnya, tak kalah riang. Band Bandung ini pamit di lagu kelima. Cuma lima lagu? Iya, menurut teman-teman acara mulai terlambat, jadi setlist harus dipangkas agar keseluruhan tidak molor terlalu lama dari ketetapan rundown. Sayang ya? Mungkin saja, kalau kamu benar-benar suka mendengarkan lagu-lagu bertempo sama terus-menerus. Saya sih tidak menyayangkan.

Teman yang saya titipi air minum sudah kembali, tanpa membawa apa-apa. “Sudah habis, tutup semua,” katanya, membuat saya melirik jam di ponsel. Serius sudah tak ada pasokan apapun?? Saya menelan ludah, bersyukur habis ini Float yang baru merilis single berjudul Keruh, memuncaki acara. Float adalah alasan saya hadir di sini, jadi tak apa, demi Meng dan Remon, aku akan bertahan. Lagipula, mau ngapain lagi, venue sudah semakin sesak.

Float pasti senang malam itu, karena penonton tak henti ikut bernyanyi. Mereka memberikan penampilan laiknya performer terakhir: keren! Mengusung drum dan perkusi, mereka berhasil mengulaskan senyum di bibir, sesuatu yang terasa mahal malam itu; meski tetap saja, penampilan itu terasa antiklimaks, seolah terlalu diburu waktu. Ketika Float meletakkan instrumen dan lampu panggung dipadamkan, saya berdiri, kelelahan. Perjalanan menuju mobil masih panjang, dan jalannya gelap.

Sembari melangkah, saya bertanya dalam hati, kenapa saya tidak menikmati festival kali ini? Jujur, saya tidak gembira. Dalam perjalanan pulang bersama teman-teman, juga tidak ada obrolan keseruan seperti biasa. Saya bukan penggemar musik folk, dan sekarang saya jadi bertanya, apakah tadi ini festival musik folk sebenarnya? Apakah yang seperti itu yang disebut folk?

Oh, saya masih punya banyak pertanyaan. Kenapa pencahayaan panggung SANGAT BIASA saja? Kenapa jalan setapak ini gelap sekali? Kenapa area food and beverages tidak menarik? Kenapa tidak dipasang lebih banyak lampu? Kenapa penataan panggung seperti itu? Kenapa area penukaran tiket gelap? Kenapa tidak ada lebih banyak panitia berkeliaran yang bisa ditanyai dan memberi petunjuk? Kenapa tidak ada petunjuk arah lebih banyak? Kenapa memilih tempat sekecil ini dan mencetak tiket sebanyak itu? Kenapa festival skala nasional terasa seperti acara teman sendiri? Kenapa tidak ada kemeriahan bila acara ini disebut festival?

Ya, saya kecewa, terutama karena kehilangan citarasa festival. Tetapi teman-teman selalu mengingatkan berpikir positif, jadi di dalam mobil, saya memutuskan, mungkin saya yang terlalu tinggi berharap. Atau mungkin mereka butuh begitu banyak penonton agar terlihat keren di Instagram, karena toh saya tidak hadir di FMF 2014. Tak apa, saya juga tidak mau memastikan diri hadir di FMF 2017.

Malang, 17 Mei 2016
dirasakan dan ditulis dengan jujur dan sadar
tanpa pengaruh zat apapun