Buat Ratih

Hari Minggu, 20/3, saya baru bangun sekitar jam 10 pagi. Terkantuk, dengan malas memainkan scroll Twitter, dan langsung tersadar ketika membaca berita suami seorang teman sudah berpulang. Saya terdiam beberapa detik, menatap twit itu, gelombang kesedihan menghantam.

Ratih itu teman seangkatan saya di KLN. Waktu masih di kantor, kami tidak pernah terlalu dekat. Kadang Ratih datang diantar taksi, agak borjuis waktu itu, saya menatapnya dari jendela seukuran dinding. Kadang dia makan siang sendirian, dan saya mulai agak menyukainya, karena saya juga sering makan sendirian. Kemudian saya lupa bagaimana awalnya, tiba-tiba kami dekat. Ratih tidak seperti kebanyakan perempuan, dia lucu, tidak berisik, tidak rumpi, tidak keberatan melakukan sesuatu sendirian. Dan ternyata kami punya banyak kesamaan.

Ripcu, panggilan saya kepada suami Ratih, sesuai nama di sosmednya. Saya datang ke pernikahan mereka, tetapi belum tahu kalau Ripcu ternyata sudah saya kenal jauh sebelum kenal Ratih. Kami teman YM. Saya ingat kami beberapa kali ngobrol soal musik. Berikutnya, ternyata teman-teman kami sama. Kami banyak ngobrol waktu saya di Jakarta, membicarakan segala sesuatu. Seperti sang istri, Ripcu juga menyenangkan.

Beberapa bulan ini, hubungan kami tidak sedekat dulu, padahal saya sudah di Malang. Terlalu asyik dengan kehidupan yang sekarang, saya bahkan tidak pernah ngajak mereka ketemuan untuk sekadar kopi atau kenalan dengan Desam. Jadi alangkah kagetnya saya, ketika seorang teman memberitahu kondisi kesehatan Ripcu. Saya langsung Whatsapp Ratih, memberitahunya, kalau dia butuh sesuatu atau seseorang, kapanpun itu, just let me know. Dia membalas, ‘makasih, Rena. Nanti kalau aku tiba-tiba whatsapp aneh-aneh jam tiga pagi jangan kaget ya :D’.

Ratih tidak pernah whatsaapp saya jam tiga pagi. Faktanya, dia tidak pernah mengeluh tentang kondisinya waktu itu. Dia tidak pernah drama di sosmed, tidak pernah minta dikasihani. Dia masih rajin update Path, tetapi tak pernah menyinggung apapun soal suaminya. Kadang postingannya menunjukkan dia lelah, tetapi tak lebih dari itu. Padahal, dia punya anak yang masih sangat kecil. Saya tak bisa membayangkan jadi Ratih. Dia kuat sekali, tabah, lebih tegar daripada Rossa.

Hati saya hancur melihat Ratih keluar masjid setelah solat jenazah, Minggu siang. Dia masih tampak tenang, matanya bengkak. Saya peluk dia kencang, berharap dia tahu dia tidak sendirian. “Maafin salahnya ya,” kata Ratih lirih, sedikit sesunggukan di bahu saya.

Sekali lagi, saya mengulangi, “Kalau kamu butuh apapun, please,” yang sekarang nyaris terasa basi. Kami melepaskan pelukan, Ratih sudah tidak menangis. Kami tidak bicara lagi setelah itu, saya mengamatinya sampai prosesi Ripcu berakhir, memikirkan orang-orang yang saya sayangi dan betapa saya menyia-nyiakan mereka yang peduli pada saya.

Sepanjang sisa hari, saya banyak berpikir. Saya tidak menjenguk Ripcu dalam masa perawatan, karena jujur, saya lemah sekali urusan itu. Menyesal? Iya, harusnya saya bisa memberitahu kalau saya menikmati obrolan nggak jelas kami dan berterima kasih dia mau berteman sama saya.

Saya jadi berpikir tentang cara saya mencintai kehidupan. Tentang hal-hal yang belum, padahal ingin sekali, saya lakukan. Tentang orang-orang yang saya sakiti. Tentang teman-teman yang saya sayangi. Karena kalau sudah bicara soal garis akhir hidup, kita bisa apa?

Be aware of your own body. Ketika terasa ada yang salah, segera periksakan. Jangan pernah remehkan sebuah perubahan, sekecil apapun itu. Cobalah hidup lebih sehat, kurangi gula dan garam, makan lebih banyak buah, dan di atas semua teori kesehatan, banyak tertawa dan lebih banyak bersyukur. Sungguh, hidup ini sebenarnya sangat pendek. Apa lagi yang bisa kamu lakukan selain memberitahu I love you kepada lebih banyak orang?

 So long, Ripcu, semoga kita bisa ngobrol lagi di lain waktu.

Ratih, kalau kamu baca tulisan ini, aku cuma mau bilang aku sayang kamu. God will always be with you and Desam. Thank you for being you. I’m wishing you a good, happy life. I love you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s