Extremely Spiritual Experience – Gara-Gara Mushroom

Long story short, saya bukan pemain baru di dunia perjamuran. Secara umum, saya mengkonsumsi sebatas rekreasi, bukan sebuah keharusan atau kewajiban dalam keseharian. Tidak ada jadwal tertentu, cuma kalau pingin saja.

Itu juga yang terjadi di malam itu. That night. Saya duduk di depan laptop, memutar lagu-lagu dub dan tiba-tiba teringat, saya punya sisa mushroom. Bukan barang baru, mungkin usianya sudah hampir dua atau tiga bulan. Tetapi saya menyimpannya di tempat tertutup, rapi seperti biasa. Mendengarkan musik dub dan mushroom terdengar begitu tepat, jadi selepas jam 12 malam, saya langsung menyantap sisa yang berminyak dan tidak banyak itu. Tidak sampai 30 menit, cahaya mulai berpendar, jadi saya putuskan berbaring saja.

Saya menikmati perjalanan yang sangat menyenangkan, mendengarkan musik sambil melihat pijaran-pijaran warna ungu terang dan hijau stabilo. Pijaran itu menari mengikuti irama. Saya ingat saya senyum-senyum sendiri, karena perjalanan ini persis seperti yang saya inginkan. Kemudian saya mulai tidak bisa fokus melihat layar ponsel, jadi saya taruh gadget dan memejamkan mata dengan headset di telinga, bas berdentum kencang di telinga.

Saya tidak bisa memastikan sekitar jam berapa tepatnya. Yang jelas, kakak saya lagi di kamarnya, televisi menyala, ayah rebahan di sofa depan televisi. Posisi saya, berbaring di kasur busa berlapis dua kain Bali tipis, lengkap dengan bantal dan guling, di belakang sofa ayah. Jadi seharusnya, saya bisa melihat gambar televisi dan mendengar suaranya.

Kemudian, tiba-tiba hal itu terjadi. Rasanya seperti terperosok, bukan ditarik. Terperosok ke dalam lautan, seperti tenggelam, ketika tiba-tiba kamu tidak bisa mendengar suara apapun. Kalau kamu pernah tenggelam, kamu akan mengerti maksud saya. Rasanya seperti berada di gelembung yang sangat besar, penuh berisi air, gelembung yang tidak bisa dilihat orang lain. Saya tahu ini terdengar aneh, karena ayah saya cuma berjarak beberapa meter, namun saat itu kondisi lampu dimatikan, penerangan hanya dari televisi, dan saya selalu banyak bergerak di malam hari, sehingga mungkin ayah tidak menaruh perhatian. Mungkin dia sudah tidur. Saya tidak tahu.

Sepertinya waktu itu tiba-tiba saya melepas headset, melemparkannya begitu saja. Saya tidak begitu yakin, namun sepertinya saya memberontak. Pendengaran mendadak buram, tetapi saya masih bisa melihat, kecuali entah mengapa, saya tidak membuka mata kecuali saat memaksakan diri. Saya panik. Saya tidak bisa menarik napas. Itu sangat mengerikan, ketika kamu tahu kamu membutuhkan oksigen tetapi tidak bisa memerintahkan otakmu untuk melakukannya. Saya menggeliat-geliut, menendang, memukul, melemparkan kepala, karena sepanjang sejarah mengkonsumsi mushroom, belum pernah, BELUM PERNAH saya mengalami hal seperti ini.

Saya ingat memaksakan diri kembali ke bumi (karena saat itu saya yakin saya tidak berada di dunia), memaksa membuka mata, menatap televisi yang nanar, posisi di kepala saya di lantai, tubuh masih di atas kasur busa. Saya berkeringat, benar-benar berkeringat, basah-kuyup, guling terlempar ke bawah, semuanya berantakan. Hampir di saat bersamaan, saya kembali terperosok. Bukan, kali ini bukan terperosok, lebih menyerupai ditarik. Tarikan yang sangat lembut namun begitu kuat. Dan saya kembali tidak bisa bernapas.

Kepanikan yang sama melanda, dan saya kembali memberontak. Kecuali bahwa yang ini rasanya berbeda, karena tiba-tiba saya merasa tenang. Saya masih tak bisa membuka mata, tetapi saya merasa sangat tenang. Gambaran paling jelas yang bisa saya berikan adalah makhluk laut yang hidup di kedalaman tak terjangkau manusia, di mana sekelilingnya begitu gelap, tetapi si makhluk laut berenang dengan tenang, tanpa mengkhawatirkan apapun.

Lalu saya mulai menangis. Itu terjadi begitu saja, di luar kendali. Saya menangis sampai dada sesak, kepala serasa meledak. Yang harus dicatat adalah, saat itu, saya tidak sedang menyimpan masalah. Tentu saja, saya punya masalah, ada beberapa penyesalan juga, namun sekali lagi, saya mengkonsumsi mushroom semata karena ingin, tidak kurang dan tidak lebih. Namun tangis saya malam itu adalah tangis terseru sejak sepuluh tahun lalu mungkin, ketika saya memergoki mantan selingkuh. Belum pernah saya menangis seperti itu.

Dan tiba-tiba saya menyebut nama Tuhan. Tiba-tiba semuanya terlontar, ketika saya bertanya, “Tuhan, kenapa?” Dalam hati, saya tersentak menyadari, itu pertanyaan saya tiap hari pada-Nya.

Saya bukan perempuan religius. Saya meyakini keberadaan Tuhan, tetapi saya tidak berdoa setiap hari. Saya ke gereja setiap hari Minggu, kemudian pulang  ke HoutenHand dan kembali menenggak alkohol. Saya sering memaki, berkata kasar, saya bertato (kalau tato dibilang dosa), saya sering pesta dan hangover keesokan harinya, saya tidak hafal urutan kitab di Alkitab, saya sering bikin orang kesal. Intinya, saya tidak akan mengaku religius.

Namun malam itu, saya ketemu Tuhan. Tuhan, Allah, Yesus, Isa Almasih, apapun kamu dan saya menyebutnya, terserah saja. Saya selalu meyakini hanya ada satu Tuhan, dan malam itu, Dia datang pada saya. Dia duduk di sebelah saya, mendengarkan tangis saya sampai selesai, Dia menemani saya. Auranya begitu kuat, begitu besar, memenuhi udara, begitu menenangkan dan nyaman. Saya tidak bisa melihat wajah atau wujudnya, tetapi saya bisa merasakan Dia hadir, ada di sebelah saya, sepertinya hampir tersenyum. Saya hanya tahu itu Dia, tahu begitu saja.

Saya menghabiskan tenaga hanya untuk menangis. Saya sudah tidak memberontak atau meronta. Saya cuma nangis dan menanyakan dua atau tiga pertanyaan, menyebut orang-orang terdekat, menitipkan mereka pada-Nya. Dia tidak menjawab langsung pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi saya mendengarnya berkata, “Bilang mamamu, semua akan baik-baik saja. Kamu akan baik-baik saja. Aku ada di sini, Aku ada di dekatmu.” Dan saya tidak menanyakan apa-apa lagi, karena seketika, saya percaya.

Saya tidak tahu berapa lama seluruh kejadian ini berlangsung, tetapi hampir seketika, sama seperti saat saya terperosok, saya kembali ke bumi. Saya berbaring dengan mata terbuka lebar, sembap, napas tersengal-sengal, keringat di sekujur tubuh, dan kasur yang berantakan. Benar-benar berantakan, seprai tercabut dari segala arah, bantal dan guling terlempar, kulit saya lengket oleh keringat dan saya merasa begitu panas sampai khawatir demam.

Malam itu, ada pertandingan bola yang ditayangkan televisi jam tiga pagi. Ayah dan kakak saya selalu menonton pertandingan bola, jadi ketika saya menengadah, mereka sudah di depan televisi. Seperti tidak terjadi apa-apa. Kalau memang benar saya membuat kasur begitu berantakan, tidak mungkin kakak saya tidak sadar. Dan saya menangis begitu hebat, masa tidak mengeluarkan suara isak sedikitpun?

Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi saya tidak takut lagi. Saya tahu baru ketemu Tuhan. Badan saya sakit semua, seperti kalau habis ditato, pegal menahan sakit, tetapi tiga kali lipatnya. Seluruh persendian sakit, kepala saya sakit. Saya meraih ponsel dan menghubungi Meidy, yang saya tahu pasti masih bangun dan bisa diajak bicara. Saya ceritakan yang baru terjadi. Dia menanggapi persis seperti harapan. Saya cuma perlu bercerita tanpa dicemooh.

Lelah, pusing dan merasa sangat panas, saya menyudahi obrolan dengan Meidy. Tetapi tidak bisa tidur. Saya beranjak menyalakan kipas angin, harus memaksa diri karena sangat lemas, tetapi tetap tidak bisa tidur. Kasur busa ini tidak nyaman. Pukul lima lewat tiga puluh menit, setelah ayah dan kakak tidur, setelah televisi dimatikan, saya beringsut ke kamar orangtua di belakang.

5.30 adalah jam doa ibu saya. Dia wanita religius. Saya memanjat naik ranjang dan berbaring di belakangnya, mendengarkan ibu menggumamkan doa. Tiba-tiba air mata itu jatuh lagi, seperti tadi. Saya tersedu, kali ini saya bisa mendengar suara tangisan saya sendiri. Saya mulai menangis, lega kali ini bisa mengeluarkan suara. Selesai berdoa, ibu yang bingung melihat saya, memeluk saya. Saya bilang padanya dengan susah-payah, “Ma, aku habis ketemu Tuhan. Katanya mama ga usah kuatir, Dia ada di dekat kita.”

Ibu saya terdiam, mungkin tidak tahu harus bereaksi apa. Sama seperti beberapa teman dekat yang saya temui malam harinya. Ketika masuk mobil Ape dan berkata, “Pe, aku semalem mushroom-an, terus ketemu Tuhan.”, dia memandangi saya lama. “Kon gendeng.” katanya. Habis mandi hari itu, saya baru sadar kepala benjol, ada memar di kaki dan mata kanan saya agak kemerahan, sakit kalau dipegang.

Hal yang paling luar biasa adalah, sebenarnya saat itu keluarga saya lagi ada masalah. Saya tidak akan menceritakan apa masalahnya di sini, namun hal itu sangat mengganggu kami, terutama ibu saya. Jam dua siang hari itu, seseorang datang ke rumah kami dan menyatakan akan membantu. Dia bukan malaikat, saya memastikan dia orang biasa.

Saya menceritakan pengalaman ini pada Limbang, yang secara teori dan praktek tahu lebih banyak tentang mushroom. Keesokannya, melalui Whatsapp, dia mengirim sebuah link. Inilah yang terjadi pada saya. Persis seperti ini, kecuali bahwa kesiapan si penulis dan dia mendapat visi dari perjalanannya.

Saya tidak tahu apakah hal ini lazim terjadi, karena teman-teman saya belum pernah mengalaminya. Setelah beberapa waktu, saya memutuskan menuliskan di sini karena, entahlah, sebagian orang yang saya ceritain selalu bingung bereaksi, jadi mungkin saya berharap ada yang pernah mengalami hal serupa dan mau membaginya dengan saya. Kecuali bahwa saya berharap tidak ada yang membaca tulisan ini. Hmph.

akhir maret 2016

Buat Ratih

Hari Minggu, 20/3, saya baru bangun sekitar jam 10 pagi. Terkantuk, dengan malas memainkan scroll Twitter, dan langsung tersadar ketika membaca berita suami seorang teman sudah berpulang. Saya terdiam beberapa detik, menatap twit itu, gelombang kesedihan menghantam.

Ratih itu teman seangkatan saya di KLN. Waktu masih di kantor, kami tidak pernah terlalu dekat. Kadang Ratih datang diantar taksi, agak borjuis waktu itu, saya menatapnya dari jendela seukuran dinding. Kadang dia makan siang sendirian, dan saya mulai agak menyukainya, karena saya juga sering makan sendirian. Kemudian saya lupa bagaimana awalnya, tiba-tiba kami dekat. Ratih tidak seperti kebanyakan perempuan, dia lucu, tidak berisik, tidak rumpi, tidak keberatan melakukan sesuatu sendirian. Dan ternyata kami punya banyak kesamaan.

Ripcu, panggilan saya kepada suami Ratih, sesuai nama di sosmednya. Saya datang ke pernikahan mereka, tetapi belum tahu kalau Ripcu ternyata sudah saya kenal jauh sebelum kenal Ratih. Kami teman YM. Saya ingat kami beberapa kali ngobrol soal musik. Berikutnya, ternyata teman-teman kami sama. Kami banyak ngobrol waktu saya di Jakarta, membicarakan segala sesuatu. Seperti sang istri, Ripcu juga menyenangkan.

Beberapa bulan ini, hubungan kami tidak sedekat dulu, padahal saya sudah di Malang. Terlalu asyik dengan kehidupan yang sekarang, saya bahkan tidak pernah ngajak mereka ketemuan untuk sekadar kopi atau kenalan dengan Desam. Jadi alangkah kagetnya saya, ketika seorang teman memberitahu kondisi kesehatan Ripcu. Saya langsung Whatsapp Ratih, memberitahunya, kalau dia butuh sesuatu atau seseorang, kapanpun itu, just let me know. Dia membalas, ‘makasih, Rena. Nanti kalau aku tiba-tiba whatsapp aneh-aneh jam tiga pagi jangan kaget ya :D’.

Ratih tidak pernah whatsaapp saya jam tiga pagi. Faktanya, dia tidak pernah mengeluh tentang kondisinya waktu itu. Dia tidak pernah drama di sosmed, tidak pernah minta dikasihani. Dia masih rajin update Path, tetapi tak pernah menyinggung apapun soal suaminya. Kadang postingannya menunjukkan dia lelah, tetapi tak lebih dari itu. Padahal, dia punya anak yang masih sangat kecil. Saya tak bisa membayangkan jadi Ratih. Dia kuat sekali, tabah, lebih tegar daripada Rossa.

Hati saya hancur melihat Ratih keluar masjid setelah solat jenazah, Minggu siang. Dia masih tampak tenang, matanya bengkak. Saya peluk dia kencang, berharap dia tahu dia tidak sendirian. “Maafin salahnya ya,” kata Ratih lirih, sedikit sesunggukan di bahu saya.

Sekali lagi, saya mengulangi, “Kalau kamu butuh apapun, please,” yang sekarang nyaris terasa basi. Kami melepaskan pelukan, Ratih sudah tidak menangis. Kami tidak bicara lagi setelah itu, saya mengamatinya sampai prosesi Ripcu berakhir, memikirkan orang-orang yang saya sayangi dan betapa saya menyia-nyiakan mereka yang peduli pada saya.

Sepanjang sisa hari, saya banyak berpikir. Saya tidak menjenguk Ripcu dalam masa perawatan, karena jujur, saya lemah sekali urusan itu. Menyesal? Iya, harusnya saya bisa memberitahu kalau saya menikmati obrolan nggak jelas kami dan berterima kasih dia mau berteman sama saya.

Saya jadi berpikir tentang cara saya mencintai kehidupan. Tentang hal-hal yang belum, padahal ingin sekali, saya lakukan. Tentang orang-orang yang saya sakiti. Tentang teman-teman yang saya sayangi. Karena kalau sudah bicara soal garis akhir hidup, kita bisa apa?

Be aware of your own body. Ketika terasa ada yang salah, segera periksakan. Jangan pernah remehkan sebuah perubahan, sekecil apapun itu. Cobalah hidup lebih sehat, kurangi gula dan garam, makan lebih banyak buah, dan di atas semua teori kesehatan, banyak tertawa dan lebih banyak bersyukur. Sungguh, hidup ini sebenarnya sangat pendek. Apa lagi yang bisa kamu lakukan selain memberitahu I love you kepada lebih banyak orang?

 So long, Ripcu, semoga kita bisa ngobrol lagi di lain waktu.

Ratih, kalau kamu baca tulisan ini, aku cuma mau bilang aku sayang kamu. God will always be with you and Desam. Thank you for being you. I’m wishing you a good, happy life. I love you.