Tentang Make Up Perempuan

Belakangan ini di timeline sosmed, terutama Facebook, mondar-mandir banyak sekali artikel tentang make up wanita. Intinya kurang-lebih, mengapa wanita tanpa make up lebih layak diperistri. Tulisan tersebut punya beberapa varian, kalau saya nggak salah, karena saya nggak membaca satu-persatu, tetapi intinya sama. Bagi saya, tulisan semacam ini konyol sekali.

First of all, mau pakai make up atau tidak, who the fuck are you to tell them what to do? Terserah mereka lah, mau pakai make up atau nggak. Kecuali kalo belinya minta uang situ sih. Menurut saya nggak ada hubungannya make up dengan kualitas diri seorang wanita. Sama seperti tidak ada hubungan antara tato dan moral seseorang.

d1d3e3372a86f13dcb0800fff174674b

pic: pinterest.com

Pria selalu senang melihat perempuan cantik kan? Well, tidak semua perempuan terlahir cantik sempurna seperti Pevita Pearce, dan sekalipun sekarang sudah banyak artikel yang melawan propaganda industri bahwa cantik itu putih, langsing dan berambut panjang, tetapi harus diakui memang ada wajah-wajah yang membuat kamu menoleh dua kali. Cantik itu soal selera. Kalau saya bilang Raisa mukanya membosankan, kamu mau apa?

Masalahnya, menurut saya, adalah bahwa perempuan sudah dikompetisikan soal kecantikan sejak dia belum mengerti apa itu cantik. Dalam masa pertumbuhannya, dia jadi terbiasa mendengar “Cantiknya mana?” yang kalau dalam bahasa Jawa istilahnya mungkin ‘ngudang’. Saya punya cerita nih. Saya masih ingat sangat jelas, waktu itu diajak saudara nemenin ke ulangtahun anaknya teman, masih TK kalau nggak salah, di sebuah restoran fast food. Demi makan gratis, saya pun mengiyakan. Lagi duduk diam-diam, pusing melihat begitu banyak anak kecil teriak-teriak, dua orang ibu di sebelah saya mengobrol. Kemudian, Ibu Satu memanggil anak perempuannya.

“Nduk, sini, salim dulu sama Tante,” seru Ibu Satu.

Si Nduk pun bergegas datang, kemudian mencium tangan Ibu Dua yang saat itu duduk bersama anak perempuannya yang sedang mengutak-atik mainan.

“Aduuuh, Nduk, kamu cantik sekaliii!” puji Ibu Dua kemudian. Perlahan, kepala Si Anak Dua menengok memandangi yang disebut ibunya cantik. Ibu Dua menoleh pada anaknya, “Ayo salaman, kenalan dulu sama yang cantik,” katanya.

Bahkan saya bisa melihat keengganan di wajah Anak Dua. Ketika Anak Satu kembali berpaling pada temannya, Anak Dua masih memandangi penampilan Anak Satu, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kejadian ini sudah lama sekali, dan saya tidak bermaksud apa-apa; hanya saja, perempuan sudah dikompetisikan cantik sejak kecil, dan entahlah, bagi saya, manusia suka melihat sesuatu yang indah sudah bawaan sejak lahir.

Maka saya tidak melihat ada sesuatu yang perlu diributkan dari perempuan ber-make up. Toh make up itu bisa dihapus. Menurut saya tidak adil bila perempuan dihakimi dari make up-nya, sama tidak adilnya jika diadili dari kebiasaannya merokok, kesanggupannya minum alkohol, dan menahan sakit saat ditato. Ada perempuan-perempuan yang sama sekali tidak tertarik dengan make up, karena uangnya lebih baik dibuat beli kaos band, misalnya, atau nonton konser. Tidak salah juga kan?

Seumur hidup, saya tidak pernah punya bedak, dan saya memakai Vaseline sebagai pelembap bibir, tetapi saya pun tidak menghakimi mereka yang ber-make up. Saya malah senang melihat perempuan cantik. Kadang pengen bisa cantik gitu, tapi sepertinya effort yang dibutuhkan terlalu banyak dan bikin lelah, jadi sudahlah.

gaga1

Yang jelas, perempuan ber-make up pun layak diperistri. Cuma barangkali yang dimaksud tulisan di Facebook itu pengaruh pergaulan ya? Saya nggak pernah ngerasain sih, jadi nggak bisa komen juga. Cuma, kalau si cewek itu punya duit hasil kerja sendiri, si cowok lebih suka ceweknya beli make up dan tampil cantik saat jalan bareng, atau beli kaos band edisi rare?

Seperti biasa, tulisan saya memang suka nggak jelas dan tanpa solusi. All I wanna say, kalau kamu ga suka pakai make up, yasudah. Kalau kamu suka dandan, yasudah juga. Kalau menurut ajaran agama disarankan perempuan tidak berdandan, ya cari istrinya di pesantren, jangan di kafe, dan ga perlu komentarin yang di kafe. As simple as that, why fuck with other’s life?

when-women-wear-makeup-their-basically-lying-to-us

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s