Houtenhaunt Presents: Crimson Eyes Tour 2016

Sigmun sudah masuk di catatan sejak tahu kawan Twitter @AdhitAndroid mengerjakan sound album Crimson Eyes. Sigmun sendiri bukan nama baru, jadi tidak mengherankan kalau dia banyak ditunggu. Ketika Crimson Eyes masuk daftar 20 Album Terbaik 2015 versi Rolling Stone, saya semakin kelimpungan. Sengaja tidak mau dengar album karena ingin tahu live-nya dulu, tak terkira girangnya saat tahu tur Malang dipegang oleh kawan-kawan Houtenhand.

Mengusung alter-ego yang diperkenalkan sebagai Houtenhaunt, hujanderassekali tidak menghalangi menonton gelaran rohani di God Bless Cafe 2 itu (memang ada yang pertama, sungguhan). Malah saya datang agak terlalu pagi, waktu venue masih sepi. Sempat salahtingkah sejenak, akhirnya tampak wajah-wajah familiar, salah satunya menyelipkan sedikit ramuan lengket, dan kini, kegembiraan dimulai oleh Megatruh.

Megatruh ini band kawan, ex teman sekantor. Sebelumnya sudah sering lihat di Houtenhand, tentu saja. Maaf, Kid, menurutku kalian pernah tampil lebih baik daripada semalam. Memulai dengan agak terburu-buru, Megatruh berhasil membawakan Sajak Suara (Homicide) dengan cara mereka sendiri yang layak diapresiasi. Seorang teman menggamit lengan, mengajak sejenak mensyukuri nikmat Yang Maha Kuasa.

“Jangan lama-lama,” bilang saya. “Aku mau nonton TTL.”

TTL ini termasuk salah satu yang saya tunggu. Saya suka sekali TTL! Mau dibilang mathcore, screamo, post-hardcore, apapun itu, terserah. Yang saya tahu, kami satu selera. Dillinger Escape Plan, Every Time I Die, Animals as Leaders, sebut saja. Hampir berlari kembali ke venue, dapat diĀ  lagu kedua, hasil zat substansi tadi memicu reaksi spontan, melipatgandakan kenikmatan khas Take This Life, yang harus terputus ketika Julius menyapa audiens dengan nafas tersengal-sengal. Makin keren aja ini band idola, makin merapat memadat, Sinyo makin atraksi, bikin tersenyum tanpa sadar. Sang vokalis memakai kaos lucu, saya mendekat untuk merayunya, sayang gagal.

Wajah-wajah yang dikenali makin banyak di sana-sini, konsentrasi terpecah sejenak untuk menyapa kanan-kiri. Kawan lain mendekat, kami bertukar camilan alih dimensi. Yang ini harusnya memberi efek agak nanti. Kalau perhitungan sesuai, harusnya pecah saat Sigmun. Bersemangat, saya menunggu Pronks ke atas panggung. Suasana tambah hangat, blower raksasa di belakang sudah tidak memberi kesejukan. Saya mundur dengan heran, tiba-tiba menyadari pria-pria berambut gondrong di depan panggung.

“Ternyata banyak ya, orang gondrong di Malang?” tanya saya dengan bodohnya kepada teman yang menanggapi dengan tawa.

Tidak tahu kenapa, rasanya klasik sekali melihat pria-pria berambut panjang ber-headbanging mengiringi garage rock ala Pronks. Seperti bukan di Malang tahun 2016. Saya tidak pernah terlalu mendengarkan garage rock, dan jujur, Pronks mengingatkan saya pada Lolyta and The Disgusting Trouble, sebuah band yang kini menyerupai mitos monster Lochness. Ada, namun tiada, tetapi nyata. Berjanji dalam hati meluangkan waktu menonton Pronks lagi lain waktu, saya mundur ke meja teman-teman, bercengkrama sejenak sembari merasakan reaksi substansi yang berpendar.

Kaveman berikutnya. Kebetulan, mereka duduk tak jauh dari di sofa kami. Saya sudah sering mendengarkan Soundcloud Kaveman, dan biasanya terpaksa mengakhiri setelah abang atau ibu berkomentar, “Kamu gak punya lagu lain yang bisa didengerin rame-rame?”, jadi sudah punya antisipasi. Mengingat band ini baru solid pada 2015 dan semalam memakai additional drummer (info yang saya dapat bilang, drummer aslinya lagi ujian. Wait. Itu cuma khayalan atau memang terjadi?), saya rasa bisa dimaklumi ketika mereka agak keteteran. Kaveman memberi sajian menyenangkan, sedikit berantakan, tetapi humble.

Perhitungan saya tidak meleset. Paduan beberapa zat yang intinya sama mulai reaktif di dalam darah. Sigmun di list, penampil terakhir. Saya sudah pernah mendengar Sigmun era EP Cerebro, tetapi yang semalam, sungguh di luar dugaan. Rapi! Saya diseret, disayat untuk kemudian dibalur dan ditimang, sebelum dihempas. Begitu terus berulang-ulang. Rasanya seperti petasan yang disulut sumbunya, dibakar perlahan, meledak saat klimaks. Ditingkahi lampu sorot warna merah, biru, hijau, keempat personel Sigmun terlihat seperti pendaran ubur-ubur di dalam laut. Audiens yang melompat, ber-headbanging, ber-crowdsurf, bagi saya tampak bagaikan deburan ombak. Intens!

Sigmun tidak tampil sempurna. Ada kesalahan di sana-sini, namun tidak mengurangi ambience pesta yang suram dan tajam. Mereka tidak banyak berdialog, tapi toh memang kita tidak sedang arisan. Gitarnya gurih, drumnya renyah, dan vokal Haikal, mencengkeram.

Tidak bisa menahan diri, saya sontak berteriak, “Jancok! Bandmu enak, cok!” kepada sekumpulan ubur-ubur di atas panggung. Mereka tidak mendengarnya, tentu saja, tetapi masa bodoh. Yakin, warga Bikini Bottom pun tidak pernah merasakan pengalaman magis seperti saya semalam, sekalipun di sana banyak ubur-ubur. Hari ini saya terbangun dengan kepala berat, masih dihantui acara perdana Houtenhaunt. Mengingat keriaan semalam, saya harus angkat topi untuk kru Houtenhand. Sekali lagi, mereka berhasil. Soal nama terakhir itu, sepertinya akan ada tulisan lagi di lain waktu. Yang jelas, sore ini harus sempat ngopi dulu, karena nanti malam ada gig lagi di Houtenhand. Hihihi.

27/2

Advertisements

Tentang Make Up Perempuan

Belakangan ini di timeline sosmed, terutama Facebook, mondar-mandir banyak sekali artikel tentang make up wanita. Intinya kurang-lebih, mengapa wanita tanpa make up lebih layak diperistri. Tulisan tersebut punya beberapa varian, kalau saya nggak salah, karena saya nggak membaca satu-persatu, tetapi intinya sama. Bagi saya, tulisan semacam ini konyol sekali.

First of all, mau pakai make up atau tidak, who the fuck are you to tell them what to do? Terserah mereka lah, mau pakai make up atau nggak. Kecuali kalo belinya minta uang situ sih. Menurut saya nggak ada hubungannya make up dengan kualitas diri seorang wanita. Sama seperti tidak ada hubungan antara tato dan moral seseorang.

d1d3e3372a86f13dcb0800fff174674b

pic: pinterest.com

Pria selalu senang melihat perempuan cantik kan? Well, tidak semua perempuan terlahir cantik sempurna seperti Pevita Pearce, dan sekalipun sekarang sudah banyak artikel yang melawan propaganda industri bahwa cantik itu putih, langsing dan berambut panjang, tetapi harus diakui memang ada wajah-wajah yang membuat kamu menoleh dua kali. Cantik itu soal selera. Kalau saya bilang Raisa mukanya membosankan, kamu mau apa?

Masalahnya, menurut saya, adalah bahwa perempuan sudah dikompetisikan soal kecantikan sejak dia belum mengerti apa itu cantik. Dalam masa pertumbuhannya, dia jadi terbiasa mendengar “Cantiknya mana?” yang kalau dalam bahasa Jawa istilahnya mungkin ‘ngudang’. Saya punya cerita nih. Saya masih ingat sangat jelas, waktu itu diajak saudara nemenin ke ulangtahun anaknya teman, masih TK kalau nggak salah, di sebuah restoran fast food. Demi makan gratis, saya pun mengiyakan. Lagi duduk diam-diam, pusing melihat begitu banyak anak kecil teriak-teriak, dua orang ibu di sebelah saya mengobrol. Kemudian, Ibu Satu memanggil anak perempuannya.

“Nduk, sini, salim dulu sama Tante,” seru Ibu Satu.

Si Nduk pun bergegas datang, kemudian mencium tangan Ibu Dua yang saat itu duduk bersama anak perempuannya yang sedang mengutak-atik mainan.

“Aduuuh, Nduk, kamu cantik sekaliii!” puji Ibu Dua kemudian. Perlahan, kepala Si Anak Dua menengok memandangi yang disebut ibunya cantik. Ibu Dua menoleh pada anaknya, “Ayo salaman, kenalan dulu sama yang cantik,” katanya.

Bahkan saya bisa melihat keengganan di wajah Anak Dua. Ketika Anak Satu kembali berpaling pada temannya, Anak Dua masih memandangi penampilan Anak Satu, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kejadian ini sudah lama sekali, dan saya tidak bermaksud apa-apa; hanya saja, perempuan sudah dikompetisikan cantik sejak kecil, dan entahlah, bagi saya, manusia suka melihat sesuatu yang indah sudah bawaan sejak lahir.

Maka saya tidak melihat ada sesuatu yang perlu diributkan dari perempuan ber-make up. Toh make up itu bisa dihapus. Menurut saya tidak adil bila perempuan dihakimi dari make up-nya, sama tidak adilnya jika diadili dari kebiasaannya merokok, kesanggupannya minum alkohol, dan menahan sakit saat ditato. Ada perempuan-perempuan yang sama sekali tidak tertarik dengan make up, karena uangnya lebih baik dibuat beli kaos band, misalnya, atau nonton konser. Tidak salah juga kan?

Seumur hidup, saya tidak pernah punya bedak, dan saya memakai Vaseline sebagai pelembap bibir, tetapi saya pun tidak menghakimi mereka yang ber-make up. Saya malah senang melihat perempuan cantik. Kadang pengen bisa cantik gitu, tapi sepertinya effort yang dibutuhkan terlalu banyak dan bikin lelah, jadi sudahlah.

gaga1

Yang jelas, perempuan ber-make up pun layak diperistri. Cuma barangkali yang dimaksud tulisan di Facebook itu pengaruh pergaulan ya? Saya nggak pernah ngerasain sih, jadi nggak bisa komen juga. Cuma, kalau si cewek itu punya duit hasil kerja sendiri, si cowok lebih suka ceweknya beli make up dan tampil cantik saat jalan bareng, atau beli kaos band edisi rare?

Seperti biasa, tulisan saya memang suka nggak jelas dan tanpa solusi. All I wanna say, kalau kamu ga suka pakai make up, yasudah. Kalau kamu suka dandan, yasudah juga. Kalau menurut ajaran agama disarankan perempuan tidak berdandan, ya cari istrinya di pesantren, jangan di kafe, dan ga perlu komentarin yang di kafe. As simple as that, why fuck with other’s life?

when-women-wear-makeup-their-basically-lying-to-us