Ibu Ga Suka Tato Saya :)

pic: @007tatuaje.com

Sama seperti saat melihat piercing Mel B personel Spice Girls di MTV untuk pertama kalinya, dan kemudian memutuskan melakukan hal yang sama dengan lidah saya sendiri; demikian pula halnya urusan tato. Sejak SMP, saya sudah tahu suatu hari nanti saya bakal bertato.

Agak lupa sih tahun berapa, pokoknya waktu itu sudah kuliah. Ceritanya dulu ada warnet di seberang kampus, satu tongkrongan-lah sama Yoela, tattoo artist pertama saya ini. Suatu hari, kakak saya yang juga kenal Yoela bilang, “Aku mau bikin tato.” dan saya bilang, “Ikut.”

Berangkat dari rumah sih tidak ada pikiran apa-apa. Tetapi setelah tangan Kakak selesai dikerjakan, dia menoleh pada saya, “Kamu mau?”. Tanpa pikir panjang seperti kebanyakan keputusan dalam hidup saya, saya mengangguk penuh semangat. Tidak sakit, dibuatnya masih dengan mesin dinamo. Jadilah sebuah tengkorak meringis di leher belakang.

Sampai sekarang, ada sekitar enam tato tambahan di punggung, pinggang, dan di bawah payudara. Lima di antaranya saya buat saat kerja di Jakarta, karena, well, ibu saya tidak suka saya bertato. Waktu tato pertama ketahuan, Ibu memarahi Kakak. Untuk yang kedua dan selanjutnya, saya memilih sembunyi-sembunyi.

mom_mad_at_son

pic: @geniusinchildren.org

Ya tentu saja, akhirnya Ibu tahu, hahaha. Beberapa bulan sepulang dari Jakarta, saya mulai menunjukkan para tato, pelan-pelan. Reaksi Ibu tidak sefrontal yang pertama, sudah lebih tenang, tetapi tetap tidak menutupi ketidaksukaannya. Dalam masa itu, Kakak malah menambah tiga tato baru, termasuk di leher kanan.

Ibu dan saya, kami sering mengobrol soal tato. Ibu punya banyak komentar dan alasan tentang hobi ini, semacam, “Kenapa sih gambar tengkorak? Kenapa ngga gambar bunga atau kupu-kupu?”, saya jawab dengan, “Mom, please, like I’m gonna do butterflies and roses??” atau, “Kamu ga takut kalau pasangan kamu ga suka kamu tatoan? Nanti disuruh hapus kayak Olla Ramlan loh,” dan saya bilang, “Itu kan tato nama eks suaminya, Ma. Ya suaminya yang sekarang maleslah lihatnya. I’m not gonna do that for sure! Mending gambar wajahnya Mama,” lalu Ibu, sambil cemberut, langsung menyahut, “Gak mau!”.

Pernah, Ibu tiba-tiba berkata, “Aku ga suka kamu tatoan.” yang  sukses membuat saya mati gaya, cuma bisa menyeringai. Beberapa waktu lalu, beliau bercerita sambil lalu soal tanggapan negatif seorang temannya tentang tato. Saya menyadari, itu menjadi beban bagi Ibu, yaitu bagaimana orang-orang yang dikenalnya bereaksi terhadap tato putra-putrinya.  Mungkin beliau tidak tahu bagaimana menjelaskan soal tato itu, karena memang tidak memahami kenapa saya melakukannya.

sorry-mom-tattoo-balm-100ml

inspirasi tato berikutnya. pic by coolshop.com

Untuk dimengerti, saya membuat semua tato benar-benar untuk diri sendiri. Saya tidak perlu menjelaskan siapa saya, maupun makna dan alasan kenapa memilih tato. Tato itu sepenuhnya milik saya, tidak untuk dilihat, dikomentari, dan dikonsumsi orang lain, kecuali saya yang menunjukkannya secara sadar tanpa paksaan. Tapi tentu saja, saya tak bisa menerapkan sikap sama kepada Ibu (karena itu saya memakai baju lebih tertutup saat bepergian dengannya).

Jujur, saya pun baru tahu masih banyak stigma negatif tentang tato. Hari geneee, dua ribu lima belas, brooohhh. Tetapi itu kenyataannya. Terutama orangtua, para ibu khususnya, yang tidak mengenal lingkungan seperti yang saya miliki. Saya tidak menyalahkan mereka, bahwa penghakiman, judging, prejudice memang sebuah penyakit society yang tidak akan hilang, apalagi dalam masyarakat yang kerap menganggap perbedaan sebagai a threat, sebuah ancaman. Masyarakat yang terjebak dalam comfort zone, seolah begitu ketakutan kenyamanannya dicolek sedikit saja.

1960s-two-women-sitting-under-hairdryers-gossiping

pic: @allposter.com

Saya tidak punya solusi apa-apa soal ini. Bagaimanapun, penampilan memang menentukan kesan pertama. Yang bisa saya lakukan cuma terus-menerus memberitahu Ibu, tidak ada yang salah dengan tato. Kalau lagi ngobrol santai, saya bilang, “Liatin tuh, Ma, pejabat negara ga tatoan, tapi korup,” dan beliau sepenuhnya setuju. Setiap ada kesempatan, saya selalu menekankan padanya, tato tidak mengubah siapa saya. Saya tetap putri tercintanya, yang rela mati untuknya.

Tato tidak berhubungan dengan moral dan kepercayaan. Tidak berhubungan dengan  tindak kejahatan. Tidak mengubah karakter, justru bisa memperkuat.

11182229_439487119509662_6752738983351334881_n

Tadi pagi, saya berkata, “Mama tahu kan aku bakal nambah tato lagi?”, Ibu menjawab ringan, “Ya, namanya juga bocah.” dan saya tersenyum. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s