Selebriti Jangan Benci Haters

pic: @nextshark.com.

Sejak meninggalkan kantor lama, jujur saya sudah tidak mengikuti perkembangan selebriti Indonesia. Memang tidak tertarik sih. Makanya saya agak terlambat tahu ada penggebrekan prostitusi yang kemudian menggelandang dua selebriti wanita berinisial NM dan PR.

Berbagai jejaring sosial hari ini dihebohkan dengan pernyataan NM merupakan akronim dari Nikita Mirzani. Saya memilih hanya satu berita dan langsung mendapatkan puluhan update, sebagian nggak nyambung sama topik. Ada berita yang menuliskan sekarang NM suka memamerkan barang-barang mewah di akun Instagram-nya. Dengan gaya penulisan itu, saya tertarik mengeceknya, karena itu berarti DULU NM tidak begitu.

Hahaha iya, naluri pingin tahu itu masih sering sekali keluar tanpa diduga.

Di akun Instagram NM, baru-baru ini dia memang berpose sambil memamerkan beberapa gepok uang Dollar. Juga ada foto sebuah arloji merah berkerlap-kerlip yang jujur saja, saya ngga ngerti di mana menariknya, tetapi rupanya jam tangan itu bernilai sangat tinggi. Jadi ini yang dibicarakan orang-orang.

Oke, sebelum saya lanjut menulis, barangkali catatan kali ini akan terbaca sangat subyektif. Pada dasarnya, saya tipikal tak suka ikut campur urusan orang lain. Saya tak peduli siapapun mau berbuat apapun selama kami tidak bersinggungan pribadi. Apalagi kalau benar NM terlibat prostitusi, saya tak punya dan tak mau berkomentar. Dengan dua anak yang masih kecil-kecil ditambah gaya hidup berbiaya tidak sedikit, semua orang punya pilihan.

Bukan foto-foto NM yang menggelitik saya, tetapi komentar dari masyarakat luas yang bebas mengakses akun pribadi tersebut. Sungguh menyedihkan membacanya, kata-kata sangat kasar dan menyakitkan dari mereka yang saya yakin, bahkan tidak pernah bertemu muka dengan NM. Saya jadi bertanya-tanya, seperti apa wujud manusia yang rela stalking  hanya untuk menuliskan kata-kata buruk di akun jejaring seseorang?

gty_paparazzi_ll_120202_wmain.jpg

pic: @abcnews.go.com

Yang mengherankan, ada banyak sekali orang seperti itu! Ini baru NM, belum selebriti lain semacam Syahrini yang buat saya sih 11-12 dengan NM, atau… hmmm… ngga jadi deh, saya juga tidak tahu selebriti mana yang lagi ramai dibicarakan. Ya, begitu intinya. Kemudian saya berpikir, apa enaknya jadi selebriti?

Pemikiran ini sudah ada waktu saya duduk di bangku sekolah. Ayah saya adalah seorang publik figur, dan di kota sekecil Malang, hal itu sudah jadi semacam pengetahuan umum. Sekali waktu, beliau berkata pada saya, “Apapun yang kamu lakukan, pikirkan dampaknya ke saya.” Kalimat itu terpatri selalu, membuat saya berpikir dua kali kalau mau bandel, walaupun akhirnya tetap dilakukan. Setidaknya saya  tahu batas.

Sebagai seorang ABG waktu itu, saya sempat berpikir, hidup  bakal lebih senang andaikan beliau bukan ayah saya atau kami tinggal di Jakarta, misalnya. Saya tidak pernah memegang botol bir atau rokok di depan umum, berhati-hati bergaul, terbilang sangat ‘behave’, dibandingkan sekarang :D. Masalahnya, track record ayah saya begitu bersih. Dia tidak main korupsi, menolak suap, hidup sederhana dan straight, tetap seperti itu selama berpuluh tahun.

g1359572044983490913

pic: @weknowmemes.com

Sekarang sih, saya sudah menerima kenyataan nama belakang itu dengan segala resikonya. Sudah bisa tersenyum pada yang menyapa, tidak galak pada yang memperhatikan, meski tetap bengong waktu tahu saya digosipkan menikah dan punya anak oleh orang-orang yang tidak pernah saya temui. Can you believe that? Saya yang bukan siapa-siapa, tidak pernah foto seronok di Instagram, tidak punya skandal apapun, tidak masuk studio rekaman atau syuting kejar tayang saja masih digosipkan. Apa kabar selebriti yang wira-wiri di acara infotainment yang tayang sejak pagi???

Saya jadi berpikir, mungkin memang harus begitu kalau jadi milik masyarakat. Privasi pun milik umum, semua orang merasa berhak menghakimi. Sebutan gaulnya sih hater, si pembenci. Kata Taylor Swift, haters gonna hate, hate, hate. Menurut artikel psikologi, si hater membutuhkan pelampiasan karena sebenarnya dia tidak percaya diri. Ngga tahu benar atau tidak, saya ngga punya hater dan belum pernah jadi salah satunya.

Cuma sebagai personal yang baru menemukan fenomena hater ini, jujur saya heran sekali. Kok bisa ya ada orang yang maki-maki orang yang nggak dia kenal? Itu orang kayaknya nggak punya temen, trus kebanyakan nonton tivi. Kalau punya temen kan mending main sama temennya ya, daripada ikut campur urusan orang lain.

Nah-Ini-Dia-7-Gejala-Kalau-Kamu-Sudah-Butuh-Piknik

pic: @piknikdong.com

Menurut saya, selebriti butuh hater. Apalagi selebriti tanpa talenta atau prestasi, sebaiknya punya banyak hater. Kalau ngga, percuma dong pasang foto seksi :’)). Kalau artis, baru lain cerita, karena artis diambil dari kata dasar ‘art’, berarti punya karya, ada pembuktian, jatuhnya soal selera. Kalau selebriti, ya sah saja tidak ada prestasi, asal ada hater. Jadi jika selebriti bilang ‘I love my haters’, ya sudah seharusnya. Sederhana, semacam hubungan mutualisme. Selebriti senang dapat perhatian, si hater senang bisa memaki, dan saya senang karena John Mayer akhirnya upload selfie terbarunya. Ugh.

Singer John Mayer arrives at the 57th annual Grammy Awards in Los Angeles

pic: @cbsnews.com

Ibu Ga Suka Tato Saya :)

pic: @007tatuaje.com

Sama seperti saat melihat piercing Mel B personel Spice Girls di MTV untuk pertama kalinya, dan kemudian memutuskan melakukan hal yang sama dengan lidah saya sendiri; demikian pula halnya urusan tato. Sejak SMP, saya sudah tahu suatu hari nanti saya bakal bertato.

Agak lupa sih tahun berapa, pokoknya waktu itu sudah kuliah. Ceritanya dulu ada warnet di seberang kampus, satu tongkrongan-lah sama Yoela, tattoo artist pertama saya ini. Suatu hari, kakak saya yang juga kenal Yoela bilang, “Aku mau bikin tato.” dan saya bilang, “Ikut.”

Berangkat dari rumah sih tidak ada pikiran apa-apa. Tetapi setelah tangan Kakak selesai dikerjakan, dia menoleh pada saya, “Kamu mau?”. Tanpa pikir panjang seperti kebanyakan keputusan dalam hidup saya, saya mengangguk penuh semangat. Tidak sakit, dibuatnya masih dengan mesin dinamo. Jadilah sebuah tengkorak meringis di leher belakang.

Sampai sekarang, ada sekitar enam tato tambahan di punggung, pinggang, dan di bawah payudara. Lima di antaranya saya buat saat kerja di Jakarta, karena, well, ibu saya tidak suka saya bertato. Waktu tato pertama ketahuan, Ibu memarahi Kakak. Untuk yang kedua dan selanjutnya, saya memilih sembunyi-sembunyi.

mom_mad_at_son

pic: @geniusinchildren.org

Ya tentu saja, akhirnya Ibu tahu, hahaha. Beberapa bulan sepulang dari Jakarta, saya mulai menunjukkan para tato, pelan-pelan. Reaksi Ibu tidak sefrontal yang pertama, sudah lebih tenang, tetapi tetap tidak menutupi ketidaksukaannya. Dalam masa itu, Kakak malah menambah tiga tato baru, termasuk di leher kanan.

Ibu dan saya, kami sering mengobrol soal tato. Ibu punya banyak komentar dan alasan tentang hobi ini, semacam, “Kenapa sih gambar tengkorak? Kenapa ngga gambar bunga atau kupu-kupu?”, saya jawab dengan, “Mom, please, like I’m gonna do butterflies and roses??” atau, “Kamu ga takut kalau pasangan kamu ga suka kamu tatoan? Nanti disuruh hapus kayak Olla Ramlan loh,” dan saya bilang, “Itu kan tato nama eks suaminya, Ma. Ya suaminya yang sekarang maleslah lihatnya. I’m not gonna do that for sure! Mending gambar wajahnya Mama,” lalu Ibu, sambil cemberut, langsung menyahut, “Gak mau!”.

Pernah, Ibu tiba-tiba berkata, “Aku ga suka kamu tatoan.” yang  sukses membuat saya mati gaya, cuma bisa menyeringai. Beberapa waktu lalu, beliau bercerita sambil lalu soal tanggapan negatif seorang temannya tentang tato. Saya menyadari, itu menjadi beban bagi Ibu, yaitu bagaimana orang-orang yang dikenalnya bereaksi terhadap tato putra-putrinya.  Mungkin beliau tidak tahu bagaimana menjelaskan soal tato itu, karena memang tidak memahami kenapa saya melakukannya.

sorry-mom-tattoo-balm-100ml

inspirasi tato berikutnya. pic by coolshop.com

Untuk dimengerti, saya membuat semua tato benar-benar untuk diri sendiri. Saya tidak perlu menjelaskan siapa saya, maupun makna dan alasan kenapa memilih tato. Tato itu sepenuhnya milik saya, tidak untuk dilihat, dikomentari, dan dikonsumsi orang lain, kecuali saya yang menunjukkannya secara sadar tanpa paksaan. Tapi tentu saja, saya tak bisa menerapkan sikap sama kepada Ibu (karena itu saya memakai baju lebih tertutup saat bepergian dengannya).

Jujur, saya pun baru tahu masih banyak stigma negatif tentang tato. Hari geneee, dua ribu lima belas, brooohhh. Tetapi itu kenyataannya. Terutama orangtua, para ibu khususnya, yang tidak mengenal lingkungan seperti yang saya miliki. Saya tidak menyalahkan mereka, bahwa penghakiman, judging, prejudice memang sebuah penyakit society yang tidak akan hilang, apalagi dalam masyarakat yang kerap menganggap perbedaan sebagai a threat, sebuah ancaman. Masyarakat yang terjebak dalam comfort zone, seolah begitu ketakutan kenyamanannya dicolek sedikit saja.

1960s-two-women-sitting-under-hairdryers-gossiping

pic: @allposter.com

Saya tidak punya solusi apa-apa soal ini. Bagaimanapun, penampilan memang menentukan kesan pertama. Yang bisa saya lakukan cuma terus-menerus memberitahu Ibu, tidak ada yang salah dengan tato. Kalau lagi ngobrol santai, saya bilang, “Liatin tuh, Ma, pejabat negara ga tatoan, tapi korup,” dan beliau sepenuhnya setuju. Setiap ada kesempatan, saya selalu menekankan padanya, tato tidak mengubah siapa saya. Saya tetap putri tercintanya, yang rela mati untuknya.

Tato tidak berhubungan dengan moral dan kepercayaan. Tidak berhubungan dengan  tindak kejahatan. Tidak mengubah karakter, justru bisa memperkuat.

11182229_439487119509662_6752738983351334881_n

Tadi pagi, saya berkata, “Mama tahu kan aku bakal nambah tato lagi?”, Ibu menjawab ringan, “Ya, namanya juga bocah.” dan saya tersenyum. 🙂