Wanita BUKAN Obyek Seksual!

pic: blackandmarriedwithkids.com

Tulisan ini lahir setelah saya membaca artikel di BBC Indonesia berjudul “Bagaimana mengakhiri kekerasan terhadap perempuan?” di linimasa Facebook. Harap dicatat, saya bukan feminis. Saya bukan aktivis pejuang hak wanita, saya juga tidak sepenuhnya setuju kesetaraan gender. Tetapi kalau soal satu ini, saya sangat peduli.

Sejak kecil, saya sering sekali merasa terganggu oleh sikap laki-laki di sekitar saya. Waktu kecil, masih SD, saya pernah pesan rujak manis, dan mendapat jawaban seperti ini: “Tak bikinin tapi sun sek,” dari bapak penjual rujak manis yang notabene langganan keluarga dan kenal orangtua saya. Artinya kurang-lebih, “Aku bikinin (rujaknya), tapi cium pipi dulu.” Dia melakukannya sambil memeluk saya. Refleks, saya teriak, “Emoh!” (artinya “Nggak mau!”) sambil memberontak, lalu lari masuk rumah. Coba tebak? Saya ditegur karena dianggap berlaku tidak sopan pada orang yang lebih tua (orangtua saya tidak melihat kejadian itu).

Kemarahan itu masih ada sampai sekarang, karena SAYA TIDAK SUKA DISENTUH ORANG YANG TIDAK SAYA KENAL dan SAYA TIDAK SUKA DIA BICARA SEPERTI ITU PADA SAYA. Barangkali si bapak sebenarnya tidak bermaksud apa-apa, tetapi SAYA TIDAK SUKA. Titik.

Saya ini seorang pedestrian sejati. Saya suka sekali berjalan kaki sendirian, sambil mendengarkan musik melalui headset. Itu membuat saya tenang, karena memiliki me-times, yang terhitung sangat jarang terjadi. Di dalam hobi yang sudah jadi kebutuhan ini, saya tidak mengerti kenapa, tetapi banyak sekali pria-pria dari berbagai usia yang melontarkan komentar menggoda, mengomentari wajah, bagian tubuh, atau pakaian saya, atau memainkan gas kendaraan atau klakson saat melewati saya. Bahkan beberapa kali saya didekati motor atau mobil, walaupun syukurlah, sejauh ini belum pernah terjadi apa-apa.

998441_1456665691235150_1863727430_n

Lemme tell you. Saya tidak cantik, tidak menawan, dan pakaian sehari-hari saya adalah sepatu sneakers, celana panjang jeans, kaos band kebesaran, dan kemeja flannel atau parka. Saya tidak takut, tetapi merasa TIDAK AMAN berjalan di jalanan, padahal apa saya salah kalau saya suka jalan kaki?

Headset adalah penyelamat saya. Saya memakainya dengan volume tinggi, meski sadar itu tidak baik untuk keselamatan karena saya tidak bisa mendengar klakson kendaraan atau kalau ada apa-apa di belakang saya. Tetapi saya merasa tersakiti jika dijadikan obyek seksual. Saya merasa direndahkan, dipermalukan, terutama karena saya yakin semua pria itu punya setidaknya satu perempuan yang dikasihi. Bagaimana kalau perempuan yang kamu kasihi dikomentari bentuk tubuhnya secara kurang ajar?

earpods_2338862b

sahabat sejati! (pic @telegraph.co.uk)

Tak kalah sedihnya, kalau saya menceritakan perkara ini kepada teman-teman, saya tidak mendapat dukungan. Mereka tidak pernah ikut marah atau tersinggung, justru mengatakan hal semacam, “Kamu sih perginya sendirian,” atau “Ya udah, ya udah, jangan dipikirin, jangan didengerin.”

LAH??????

Di mana letak kesalahan kalau saya pergi sendirian? Bagaimana mungkin saya tidak mendengar ucapan tidak sopan itu? Bagaimana mungkin saya tidak memikirkannya, sementara hal itu sangat menyinggung?

plu-capteam-poster

Teman-teman saya kebanyakan laki-laki. Kerap sekali saya menjadi satu-satunya perempuan di antara mereka, dan saya selalu langsung mengungkapkan ketidaksukaan ketika salah satu dari mereka melakukan pelecehan kepada perempuan, misalnya ketika kami lagi nongkrong.

“Kampungan,” kata saya pada si kawan, tanpa berusaha menyembunyikan kekesalan. “Gimana kalo pacarmu yang digituin, trima?”

Bagi saya, tindakan semacam itu bukan saja menunjukkan rendahnya edukasi, tetapi juga tingkat moral dan intelegensia seorang pria. Jangan kuatir, saya tidak menyamaratakan. Bagaimanapun saya kenal banyak pria yang tidak menggoda sembarang perempuan di jalanan. Beberapa teman saya tidak melakukannya, kakak saya juga tidak.

Tetapi bagaimana pelecehan itu dianggap biasa, itu sangat menyedihkan. Seolah-olah wajar untuk mengomentari lekuk tubuh perempuan, dan perempuan harus menerimanya dalam diam.

ywat20respect20poster

Membaca artikel tentang Shera Riandra ini, saya jadi tersadar satu hal: pria selalu punya pilihan untuk TIDAK melakukan pelecehan. Jawaban yang sama seperti perempuan pun punya pilihan untuk berteriak, memaki, menendang atau meludahi si pelaku.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan kaum pria. Banyak bergaul dengan mereka membuat saya sadar, seks adalah unsur besar dalam pemikiran mereka. Pornografi saat ini begitu mudahnya diakses, dengan dampak psikologis demikian kuat. Plus, memang ada perempuan-perempuan yang suka digoda, bahkan mendapat uang dari transaksi seksual yang otomatis menempatkan perempuan sebagai obyek.

Sekali lagi, semua adalah pilihan. Seperti halnya bahwa tidak semua perempuan senang dijadikan obyek seksual, tidak semua pria juga berpikir demikian. Masalahnya, kamu memilih menghormati atau tidak? Sebaiknya sih, menjadikan perempuan sebagai obyek cukup dalam pikiran sendiri saja, karena jika itu terlontar keluar, bisa sangat menyakiti. Kamu mau pacarmu atau adikmu, atau malah ibumu diperlakukan seperti itu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s