Bradley Nowell (Sublime): The Laid Back Man

pic: @mankindprojectjournal.org

Sublime adalah salah satu band kesukaan saya. Saya suka banyak band sebenarnya, tetapi ketika saya melihat gambar ini:

050d0a9e73cec27770266a02ab8ac4535fa115-wm

satu nama yang langsung muncul adalah Bradley Nowell, disusul Janis Joplin, baru beberapa nama lain.

Jika kamu berpikir Sublime semata Santeria, kamu salah. Jujur, itu lagu yang paling jarang saya dengarkan sejak saya nonton sebuah band Top 40 membawakannya 10 tahun lalu. Pula, jika kamu berpikir Sublime adalah band yang personelnya gemar ganja, well, kamu tidak salah. Namun Bradley Nowell, Wilson dan Bud Gaugh tidak cuma menenggelamkan diri di sofa, di antara tumpukan kotak pizza, kaleng bir dan bong.

sublime4

Sublime memenuhi syarat punk dengan maksimal: mereka dikenal sebagai band stoner yang suka bikin chaos di kawasan California Selatan. Gara-gara itu, mereka jadi populer dan jadi kesulitan mendapatkan venue selain pesta barbeque di rumah. Jadi Nowell dan Wilson memilih nama label Skunk Records dan menyatakan Sublime adalah artis label, dengan harapan bisa mendapat kesempatan main di lebih banyak venue yang representatif.

Lantas dengan bantuan seorang teman, Michael Happoldt (yang kelak berperan besar membidani kelahiran Skunk Records – iya, label ini sungguh ada – dan merupakan sosok penting di belakang Sublime serta Long Beach Dub Allstar), Sublime menyelinap ke sekolah musik tempat Michael belajar ~ untuk merekam lagu-lagu yang nantinya masuk di album pertama dalam bentuk rilis kaset. Saya memakai istilah menyelinap, karena pada saat itu memang pihak sekolah tidak tahu-menahu bahwa ada band mamakai studio mereka di tengah malam sampai jam tujuh pagi.

Man, you’ve been punk’d! =’))

Masih memakai cara serupa, album 40oz. To Freedom disiapkan. Bersamaan, Nowell mulai memakai heroin. Tahun 1995, Date Rape diputar di sebuah radio di Los Angeles, seseorang dari MCA Records mendengarnya, dan, boom! Sublime pun dijadwalkan tur keliling Eropa.

Selanjutnya, sudah bisa ditebak. Mudah sekali mencari terusan cerita sukses Sublime, dan saya tidak akan menulis rangkumannya buat kalian.

Saya mendengar Sublime sudah lama sekali. Mereka jadi semacam playlist wajib, dalam kondisi apapun mereka selalu bisa membuat saya merasa lebih baik. Kenapa saya sampai meluangkan waktu menulis tentang Sublime, Bradley Nowell utamanya?

anylou_bradlou_dogcar

the laid back man (pic: @feelnumb)

Karena cerita Sublime terasa begitu dekat dengan hidup saya. Mengamati foto-foto Nowell, Wilson dan Gaugh, mereka seperti orang-orang yang akan kamu temui di pinggir pantai, bersantai minum bir dengan mata merah, tertawa terbahak-bahak, seperti kamu dan aku. Cerita hidup mereka begitu nyata: orangtua yang bercerai, tidak punya uang tapi suka nongkrong, suka pergi ke pesta dan bersenang-senang, lalu nyawa yang terenggut akibat heroin (bukan ganja, ganja tidak pernah membunuh siapapun). Saya mengenal orang-orang yang merupakan korban perceraian, saya mengingat beberapa saat terindah dalam hidup bersama kawan-kawan di pinggir pantai, ada pesta-pesta gila yang takkan terlupa, dan ada waktu di mana saya pergi ke pemakaman teman yang meninggal karena overdosis.

Lebih dari itu semua, Sublime menulis lagu-lagu yang masih tepat untuk hari ini. Mereka kritis soal sosial dan politik, simak saja April 29, 1992 dengan “They said it was for the black man, they said it was for the Mexican, and not for the white man”, juga ada cerita pelecehan seksual di Date Rape. Sama seperti kamu dan aku, Nowell pun merasa sedih dalam Garden Groove.

Nowell berteman cukup dekat dengan Gwen Stefani, frontwoman No Doubt. Beberapa kali berbagi panggung, saya paling suka lagu DJ’s yang di-cover No Doubt dan video live No Doubt featuring Sublime untuk lagu Total Hate. Di sana, Nowell tampil bertelanjang dada. Dia tidak mau repot-repot membentuk badan, perutnya menggantung, kulitnya terbakar matahari, rambut pirangnya pendek, dia menyeringai hampir sepanjang waktu, dan bahkan Lou Dog ikut meramaikan stage.

Setiap kali melihat  Nowell, saya selalu merasa kami teman di kehidupan sebelumnya. He’s just being himself, dan buat saya, itu mahal harganya. Saya bisa merasakan ketulusan, kesedihan, keprihatinan Nowell melalui lagu-lagu yang aransemennya mengajak berdansa. Kalau saya mengadakan pesta di rooftop Houtenhand, I definitely inviting Sublime, that’s for sure!

Sublime at Warp Tour - 1995

Sublime (Photo by Steve Eichner/WireImage) I LOVE YOU, GUYS!!!!!!

Tulisan yang sangat menyentuh tentang personal Bradley Nowell dari Sublime bisa kamu baca di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s